Mengintip Tradisi Bada Riaya, Lebaran-nya Masyarakat Islam Kejawen Bonokeling di Banyumas

Pada hari raya Lebaran, mereka tidak melaksanakan salat Idulfitri. Pelaksanaan salat mereka ganti dengan membersihkan makam leluhur.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Mengintip Tradisi Bada Riaya, Lebaran-nya Masyarakat Islam Kejawen Bonokeling di Banyumas
Mengintip Tradisi Bada Riaya, Lebaran-nya Masyarakat Islam Kejawen Bonokeling di Banyumas (Merdeka.com)

Pada hari raya Lebaran, mereka tidak melaksanakan salat Idulfitri. Pelaksanaan salat mereka ganti dengan membersihkan makam leluhur.

Foto: YouTube Tedhong Telu

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pada Jumat, 12 April 2024, masyarakat Islam Kejawen Bonokeling baru melaksanakan Lebaran mereka. Tradisi lebaran yang mereka jalankan berlangsung dengan khidmat. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Prosesi acaranya adalah berkumpul di rumah adat atau rumah kuncen, sungkeman dan memanjatkan doa-doa tertentu, setelah itu dilanjutkan dengan membersihkan area makam leluhur mereka.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Seperti diketahui, mereka tidak melaksanakan salat Idulfitri. Pelaksanaan salat mereka ganti dengan membersihkan makam leluhur.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Setelah itu para penganut Islam Kejawen itu membawa aneka makanan ke rumah kepala desa setempat. Di sana mereka menggelar acara silaturahmi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Semua warga kampung di Bonokeling mengenakan pakaian adat yang seragam. Makin siang makin ramai warga yang berdatangan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dalam video yang dibagikan kanal YouTube Tedhong Telu pada 14 April 2024, tampak tradisi itu dihadiri para orang tua. Tak ada anak muda yang datang dalam acara tersebut.

Sumitro, tetua adat masyarakat Bonokeling mengatakan, tradisi itu dinamakan Bada Riaya. Tradisi itu dilaksanakan setelah mereka melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan. Hanya saja tanggal mulai dan berakhir ibadah puasa mereka berbeda.

“Kalau di sini pakai tanggalan Aboge. Ada rumusnya. Makanya tidak mengikuti hitungan pemerintah,” kata Sumitro. 

Setelah berbagai ritual selesai, para warga Bonokeling berkumpul di rumah Kepala Desa.

Mereka membawa tenongan yang berisi aneka makanan seperti nasi, buah-buahan, dan lainnya.

Di sana mereka saling bersalam-salaman. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan bersama. 

Rekomendasi