Mengenal Sejarah Voetbal Union, Klub Sepak Bola Tionghoa dari Semarang
Merdeka.com - Dunia persepakbolaan Indonesia telah berkembang sejak zaman Belanda. Bahkan pada tahun 1938, timnas Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda mampu menembus pagelaran akbar Piala Dunia yang dihelat di Paris, Prancis.
Pada ranah daerah, kemunculan klub-klub baru juga menjamur di kalangan komunitas baik yang skalanya kecil maupun besar. Di Semarang, demam sepak bola mewabah pada berbagai komunitas, tak terkecuali pada komunitas Tionghoa yang banyak mendiami kota itu.
Maka tak heran, mereka pada akhirnya membuat klub sendiri yang bernama Voetbal Union. Pada masanya, klub itu selalu menempati papan atas kompetisi sepak bola se-Jawa. Lalu bagaimana sejarah klub sepak bola itu? berikut selengkapnya:
Sejarah Voetbal Union

©Sejarahsemarang.id
Perkoempoelan Voetbal Union merupakan klub sepak bola Tionghoa pertama di Semarang. Dilansir dari Sejarahsemarang.id, klub itu didirikan pada 2 Juli 1911 oleh sekumpulan pemuda Tionghoa yang menyukai sepak bola di antaranya Tan Liang Hok, HM Keasberry, Tjoa Hian Tjoe, Liem Kok Ping, The Tjing Liat, Tan Tiong Kwie, Goe Boen Toh, dan Lim Tjong Ham. Pada waktu itu, klub itu bernama Hoa Yoe Hwee Koan.
Pada tahun 1917, klub itu mendapat status badan hukum dari pemerintahan kolonial. Dengan begitu, Voetbal Union Semarang menjadi klub salah satu sepak bola generasi awal yang bukan dimiliki orang Belanda. Selain Voetbal Union, klub Tionghoa lain di Pulau Jawa pada waktu itu adalah UMS Jakarta, Tionghoa, Surabaya, dan YMC Bandung.
Klub Papan Atas
Dalam kompetisi klub antar-kota se Jawa, Voetbal Union Semarang menjelma menjadi klub kuat yang kerap kali menempati posisi papan atas klasemen. Pada waktu itu, klub sepak bola di Hindia Belanda masih terkotak-kotak mengacu pada kelompok etnis. Maka dari itu, masing-masing etnis memiliki asosiasi sepak bolanya (bond) masing-masing.
Orang-orang Belanda memiliki asosiasi Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), orang Tionghoa memiliki Comite Kampionwedstrijden Tiong Hoa (CKTH), sedangkan orang-orang pribumi memiliki asosiasi Comite Java Voetbalbond. Oleh karena itulah Voetbal Union pada waktu itu hanya berkompetisi bersama tim-tim dari asosiasi yang sama seperti YMC Bandung, UMS Jakarta, dan Tionghoa Surabaya.
Bermain hingga ke Luar Jawa

©2020 liputan6.com
Kini, jejak-jejak peninggalan Voetbal Union tersimpan di Kelenteng See Ong Semarang dan dijaga oleh Lim Gak Tjay, cucu dari Liem Djie Tjie, pemain klub sepak bola itu. Jejak peninggalan itu berupa belasan piala yang telah usang yang disimpan pada tiga buah kardus besar.
“Piala-piala ini sebagian milik Perkoempoelan Voetbal Union Semarang. Mendiang engkong saya menyerahkannya pada saya,” terang Lim Gak Tjay dikutip Merdeka.com dari Sejarahsemarang.id pada Rabu (3/1).
Dari cerita yang ia dapat dari kakeknya, Lim Gak Tjay mengatakan bahwa dulunya Voetbal Union tak hanya bermain di Jawa, namun pernah bermain pula hingga ke Makassar.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya