Mengenal Pola Tidur Polifasik, Ketahui Manfaat dan Risikonya
Merdeka.com - Tidur merupakan salah satu kebutuhan tubuh yang perlu dipenuhi. Mendapatkan tidur yang cukup, dapat membantu tubuh rileks dan beristirahat setelah beraktivitas seharian. Selain itu, tidur juga membantu Anda mendapatkan kembali energi secara penuh untuk melakukan kegiatan di keesokan harinya.
Secara umum, setiap orang membutuhkan 7 hingga 8 jam tidur dalam sehari. Kebutuhan tidur ini didapatkan dari tidur malam yang baik dan berkualitas. Tetapi ternyata, sebagian orang tidak mampu menerapkan kebiasaan tidur ini karena memiliki kecenderungan pola tidur lain, salah satunya adalah tidur Polifasik.
Pola tidur polifasik mengacu pada kebiasaan tidur lebih dari dua segmen per hari. Dapat dikatakan ini adalah kebalikan dari pola tidur monofasik, di mana Anda terbiasa tidur di malam hari dalam satu segmen sekaligus. Namun mereka yang terbiasa dengan pola tidur polifasik akan tidur beberapa kali sehari dengan durasi yang singkat.
Jika Anda termasuk orang yang mempraktikkan pola tidur polifasik, perlu mengetahui bahwa kebiasaan tidur ini dapat risiko yang bisa terjadi. Meskipun pola tidur ini juga memiliki sisi manfaat, terutama bagi orang yang mempunyai gangguan tidur.
Dilansir dari Healthline, berikut kami merangkum penjelasan mengenai pola tidur polifasik bisa Anda simak.
Mengenal Pola Tidur Polifasik
Pola tidur polifasik adalah kebiasaan tidur lebih dari dua segmen per hari. Pola tidur ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang dengan sengaja ingin mengurangi jumlah totoal jam tidur, untuk memaksimalkan waktu bangun.
Sering kali orang-orang yang mempraktikkan pola tidur ini adalah orang yang memiliki kegiatan padat atau berada dalam situasi tertentu. Misalnya, orang yang bepergian melintasi zona waktu cenderung memaksimalkan istirahat selama transit atau penerbangan. Selain itu, ketika seorang siswa yang sedang terburu-buru ujian, kemudian memanfaatkan tidur siang singkat sebelum ujian untuk meningkatkan fokus.
Dalam hal ini, terdapat beberapa jenis pola tidur polifasik umum yang sering dilakukan. Mulai dari pola dymaxion, uberman, dan everyman. Pola tidur dymaxion melibatkan empat kali tidur dengan durasi 30 menit setiap 6 jam sekali, sehingga total tidur sehari hanya 2 jam.
Sementara pola tidur uberman melibatkan jadwal yang lebih bervariasi, namun yang paling umum adalah tidur dengan durasi 20 menit setiap 4 jam sekali, sehingga total tidur sehari mencapai 3 jam. Terakhir, pola tidur everyman dilakukan dengan satu segmen tidur selama 3 jam di malam hari, ditambah 3 kali tidur siang selama 20 menit.
Dilihat dari jenisnya, pola tidur polifasik beragam tentu sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan setiap orang. Namun, jika Anda terbiasa tidur beberapa kali dalam sehari, maka dapat dikatakan Anda salah satu orang yang menerapkan pola tidur ini.
Manfaat Pola Tidur Polifasik
Setelah memahami pengertian umum dari pola tidur polifasik, berikutnya akan dijelaskan apakah ada manfaat yang bisa didapatkan dari pola tidur polifasik. Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah yang menjelaskan bahwa pola tidur polifasik lebih menguntungkan daripada tidur monofasik.
Namun, pola tidur polifasik mungkin akan memberikan manfaat bagi orang yang tidak tidur sama sekali atau memiliki gangguan tidur seperti insomnia. Dengan menerapkan pola tidur polifasik, orang yang mengalami insomnia bisa memanfaatkan sedikit waktu untuk tidur. Pola tidur ini juga membantu para penderita insomnia untuk mengatur waktu tidur lebih baik.
Manfaat juga bisa didapatkan dari kebiasaan tidur singkat di siang hari. Tidur siang dapat membantu tubuh Anda mendapatkan kembali energi ketika malam sebelumnya kurang tidur. Tidur siang juga mampu mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan konsentrasi sehingga Anda bisa lebih fokus mengerjakan aktivitas. Namun ini hanya berlaku jika tidur siang berdurasi 15 hingga 30 menit. Lebih dari itu tidur siang justru dapat memberikan efek buruk.
Risiko Pola Tidur Polifasik
Setelah mengetahui kemungkinan manfaat yang didapatkan, pola tidur polifasik juga memiliki beberapa risiko efek samping yang perlu diperhatikan. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki pola tidur tidak teratur cenderung mengalami gangguan pada ritem sirkadian.
Secara khusus, penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiswa yang menerapkan pola tidur polifasik memiliki kinerja akademik yang lebih buruk. Bukan hanya dari sisi akademik, orang yang kurang tidur juga lebih rentan terkena penyakit dibandingkan orang yang memiliki kebiasaan tidur cukup dan teratur.
Beberapa penyakit kronis akibat kurang tidur yang perlu Anda waspadai adalah sebagai berikut:
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya