Mengenal Padi Srinuk, Produk Pertanian yang Dipopulerkan Ganjar Pranowo
Merdeka.com - Petani padi harus sering-sering panen tiap tahunnya agar bisa lebih produktif dan hidupnya lebih sejahtera. Selama ini, para petani di Klaten banyak kembali mengembangkan padi jenis Rojolele mengingat kualitasnya yang diakui. Hanya saja padi jenis ini memiliki masa tanam yang panjang, yaitu enam bulan, hingga baru bisa dipanen. Padahal padi jenis lain masa tanamnya hanya 3-4 bulan saja.
“Belum lagi kalau padi Rojolele roboh diserang angin dan burung, sehingga sangat tidak layak untuk petani. Sehingga perlahan padi jenis ini mulai ditinggalkan,” kata kata Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappedalitbang Kabupaten Klaten, Muhammad Umar Said, dikutip dari ANTARA pada Rabu (5/10).
Berdasarkan keprihatinan itu, penelitian terhadap Padi Srinuk mulai dilakukan. Menurutnya, kualitas padi Srinuk hampir sama dengan Rojolele. Lantas apa keuntungan yang diperoleh dengan bertanam Padi Srinuk? Berikut ulasan selengkapnya:
Dipopulerkan Ganjar Pranowo

©jatengprov.go.id
Pada awalnya, Padi Srinuk dipopulerkan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Para petani yang tergabung dalam beberapa kelompok tani mengaku senang dapat menanam padi itu.Salah seorang petani Srinuk asal Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Klaten, Harjono, mengatakan bahwa padi Srinuk adalah padi sejenis Rojolele yang telah direkayasa oleh Pemkab Klaten yang bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), sehingga rekayasa itu memiliki kelebihan yang lebih menguntungkan petani.
Perbedaan Padi Srinuk dengan Rojolele

©jatengprov.go.id
Sebelumnya, padi Rojolele memiliki umur panen lima bulan lebih, sedangkan Srinuk hanya sekitar 110 hari atau sekitar tiga bulan lebih. Selain itu, keduanya memiliki perbedaan lain di antaranya tanaman Rojolele lebih tinggi dari pada Srinuk sehingga Rojolele lebih berpotensi dimakan burung dan terkena angin. sedangkan Srinuk lebih aman dari burung dan tidak mudah roboh.
Untuk kualitas beras, Srinuk juga wangi dan tingkat pulennya hampir sama dengan Rojolele. Bulir padinya juga bulat walau agak pendek dibanding Rojolele.
“Kalau kualitas rasanya lebih enak Rojolele dibanding Srinuk. Hanya kualitasnya turun sedikit,” ujar Harjono.
Harjono mengatakan, para petani di Klaten yang telah menanam srinuk bisa meraup pendapatan Rp6 juta per hektare, sedangkan varietas lain pendapatannya Rp5 juta per hektare.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya