Kisah Pemulung Asal Brebes Berusia 1 Abad, Kuasai Lima Bahasa

Kamis, 23 Juli 2020 11:50 Reporter : Shani Rasyid
Kisah Pemulung Asal Brebes Berusia 1 Abad, Kuasai Lima Bahasa Mbah Ujang. ©2020 brilio.net

Merdeka.com - Mbah Ujang merupakan seorang pemulung asal Brebes yang sudah berusia 1 abad lebih. Sehari-hari, dia bekerja sebagai pemulung di sekitaran Kota Yogyakarta. Walaupun hidup memulung, dia mempunyai keahlian unik, yaitu menguasai 5 bahasa. Keahlian itu ia peroleh dari pergaulannya yang luas dan interaksi sehari-harinya dengan banyak orang.

Karena telah memiliki usia yang panjang, Mbah Ujang pernah merasakan bagaimana rasanya hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Pada usia 28 tahun, dia dibawa Jepang ke Medan untuk dipekerjakan menjadi juru masak.

Setelah penjajahan Jepang, Mbah Ujang hidup berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Hal inilah yang membuatnya menguasai banyak bahasa. Setelah sempat tinggal bersama anak cucunya di Jakarta, kini dia menghabiskan masa tuanya di Kota Yogyakarta.

2 dari 5 halaman

Berusia 1 Abad

mbah ujang

©2020 brilio.net

Mbah Ujang sudah berusia 1 abad. Berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang ia pegang, Mbah Ujang lahir pada tanggal 31 Desember 1904. Angka tahun pada KTP-nya itu, sebenarnya sudah ditulis sendiri dengan tinta spidol. Menurut Mbah Ujang, dia tahu tanggal kelahirannya setelah diberi tahu orang tuanya.

“Zaman dulu hidup itu aman. Nggak ada orang kebut-kebutan di jalan raya. Dulu uang 5 sen sudah cukup untuk hidup, sekarang uang Rp20.000 buat makan sendiri, orang rumah tidak kebagian,” ungkap Mbah Ujang dikutip dari YouTube Hitam Putih.

3 dari 5 halaman

Bisa Lima Bahasa

mbah ujang©2020 brilio.net

Mbah Ujang mengaku menguasai lima bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Inggris, dan bahasa Jepang. Kemampuan itu dia peroleh dari kehidupannya yang suka berpindah-pindah tempat dan gemar berinteraksi dengan banyak orang.

“Kalau ada campur orang Cina saya ya ngomong pakai bahasa Cina, kalau campur orang Belanda ya pakai bahasa Belanda, kalau sama orang Amerika ya pakai bahasa Amerika,” kata Mbah Ujang.

4 dari 5 halaman

Memilih Jadi Pemulung

mbah ujang©YouTube/Hitam Putih

Awalnya, Mbah Ujang memilih untuk menjadi pemulung karena dia tidak betah tinggal di rumah anaknya, bersama cucu-cucunya. Bagi Mbah Ujang, rumah anaknya itu terlalu ramai. Karena itulah ia memilih keluar dan hidup sebagai pemulung.

“Kalau saya tetap tinggal bertahan di situ malah jadi susah dan menjadi penyakit. Dari pada pikiran bingung, lebih baik minggir,” kata Mbah Ujang.

5 dari 5 halaman

Hidup Sendiri

mbah ujang©YouTube/Hitam Putih

Mbak Yanti adalah seorang pemulung yang sehari-hari merawat Mbah Ujang. Dia bercerita bertemu pertama kali dengan Mbah Ujang di sebuah lapak tempatnya biasa menjual rongsokan.

Saat itulah, Yanti bertanya di mana Mbah Ujang tinggal. Kakek itu mengatakan dia tinggal di Banteng dekat Alun-Alun Selatan. Sejak pertemuan itulah mereka tinggal bertiga bersama satu pemulung lainnya.

“Kalau misalnya simbah sakit atau ada apa-apa, saya yang masak. Untuk makan kalau memang sudah susah ya tetep aku paksa. Selama tinggal bersama, saya belum pernah lihat Mbah Ujang didatangi anak cucunya. Dia hidupnya sendiri,” kata Yanti.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini