Pada tahun 2020 Indonesia dilanda wabah pandemi COVID-19. Kondisi ini berdampak besar pada perekonomian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Salah satu golongan masyarakat yang terdampak itu adalah para buruh tani. Mereka menjadi penyumbang angka penduduk miskin di DIY dengan angka pendapatan berkisar Rp600 ribu setiap bulannya.
Nurohmad, petani asal Kalurahan Pondokrejo, Tempel, Sleman, merasakan betul sulitnya hidup sebagai buruh tani. Sehari-hari ia harus berjalan kaki sejauh 2-3 km untuk sampai ke sawah yang ia garap. Terkadang ia juga harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk mencapai sawah garapannya yang lain.
“Menyewa lahan itu mahal. Modalnya tidak sedikit. Kalau gagal panen itu harus ditanggung sendiri,” kata Nurohmad.
Advertisement
Ia mengatakan sebagai buruh tani, penghasilannya sekitar Rp25-50 ribu per hari. Ia mengakui sebenarnya penghasilan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sulitnya hidup juga dirasakan oleh Adi Sukam, buruh tani asal Kalurahan Sidoharjo, Tepus, Gunungkidul. Sehari-hari ia makan singkong sebagai pengganti sayur. Sementara daunnya dimasak jadi sayur.
“Setelah subuh saya berangkat, pulang baru maghrib. Biasanya makan jam 12, tapi kalau nanggung bisa baru jam 2-3 sore baru makan,” kata Adi Sukam dikutip dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan.
Pada tahun 2024 ini, Pemda DIY menggelontorkan Rp131,4 miliar Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang diambil dari Dana Keistimewaan.
Dana sebesar itu digunakan salah satunya untuk penanggulangan kemiskinan untuk para buruh tani.
Advertisement
Baik Nurohmad dan Adi Sukam benar-benar merasakan adanya program ini. Nurohmad misalnya, ia diterima untuk menggarap pemanfaatan lahan pertanian cabai milik BKK.
“Setelah merasakan manfaat BKK, Alhamdulillah dari dulu pergi ke sawah jalan kaki, sekarang bisa naik motor. Terus sekarang saya bisa menyekolahkan anak. Lalu kalau makan dulu cuma pakai sayuran sekarang bisa pakai lauk pauk,” kata Nurohmad.
Sama halnya dengan Nurohmad, dengan adanya bantuan BKK, Adi Sukam bisa pergi ke sawah naik motor. Ia pun sekarang juga sudah bisa beli sapi yang ia pelihara di rumah sendiri.
Foto: YouTube Panirada Kaistimewan