Kisah Para Cicit Transmigran Jawa di Lampung, Tetap Junjung Budaya Leluhur
Merdeka.com - Pada masa kolonial Belanda, tepatnya pada awal abad ke-20, transmigrasi orang-orang Jawa ke Lampung dimulai. Pada masa itu, mereka membabat hutan, mendirikan rumah-rumah hunian, dan bercocok tanam agar bisa terus bertahan hidup. Di sana juga mereka beranak pinak hingga menghasilkan anak cucu.
Kini telah sampailah pada keturunan para cicit mereka. Walaupun migrasi dari Jawa itu telah berlalu ratusan tahun lamanya, namun kini para cicit keturunan transmigran tetap menjunjung nilai-nilai leluhur yang diwariskan kepada mereka.
Lalu bagaimana kisah cicit-cicit transmigran Jawa di Lampung? Berikut selengkapnya:
Pewarisan Nilai-Nilai Leluhur

©YouTube/Bina Budaya
Seorang cicit transmigran bernama Usuf Sagita bertanya pada kakeknya tentang sejarah buyutnya pindah dari Jawa ke Lampung. Sang kakek bercerita, dulu yang pertama kali membuka desa mereka adalah Eyang Cokro Pawiro. Dia berasal dari Kebumen, Jawa Tengah.
Sang kakek bercerita kepada Usuf kalau Eyang Cokro datang ke Lampung saat kondisi sedang sulit demi mencari kehidupan. Pada awalnya ia datang bersama rombongan dan membangun rumah sebanyak 40 unit. Hingga akhirnya perkampungan itu menjadi semakin ramai seperti sekarang.
“Jadi Eyang Cokro berpesan, sampai nanti hingga akhir zaman desa ini tetap diberi nama ‘Kebumen’. Tapi Kebumen Lampung bukan Kebumen Jawa, yang asal muasalnya memang dari Kebumen, Jawa Tengah,” kata sang kakek pada Usuf, dikutip dari kanal YouTube Bina Budaya.
Penanaman Nilai Budaya Lokal

©YouTube/Bina Budaya
Usuf masih menginjak bangku SD dan bersekolah di MIR Kebumen. Walaupun berasal dari keluarga Jawa, Usuf mengaku bangga menjadi orang Lampung.
Di sekolahnya, ajaran muatan lokal memang diajarkan oleh para guru. Berbagai hal mengenai budaya Lampung mereka ajarkan, mulai dari Bahasa Lampung, aksara Lampung, sejarah Lampung, budaya Lampung, sastra lisan Lampung, dan lain-lain.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mungkin itu semboyan yang tepat bagi kami, khususnya para cicit-cicit transmigran yang harus ditanamkan pada peserta didik. Mengenalkan dan membudayakan kearifan lokal,” kata Devi Tri Rahmawati, salah seorang guru Muatan Lokal Bahasa Daerah Lampung.
Falsafah Hidup Orang Lampung

©YouTube/Bina Budaya
Orang Lampung sendiri memiliki falsafah hidup untuk menerima siapapun dengan tangan terbuka. Membangun persaudaraan dan bekerja sama dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan.
Nilai-nilai inilah yang diajarkan di MIR Kebumen. Apalagi di sekolah itu hampir 90 persen siswanya merupakan keturunan para transmigran. Makanya pemahaman sejarah tentang asal usul mereka serta budaya Lampung perlu ditanamkan dalam merajut kebhinekaan.
“Terima kasih Lampung-ku, telah memberi ruang bagi kami. Keramah tamahanmu adalah cermin keanggunanmu. Kami cicit-cicit transmigran adalah bagian darimu. Kami siap mengabdi untukmu dan untuk Indonesia,” ungkap Usuf dalam sebuah bait puisi.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya