Kisah Hidup Mohammad Mochtar, Aktor yang Dijuluki Tarzan Van Java
Merdeka.com - Mohammad Mochtar lahir di Cianjur, Jawa Barat pada 1 Juli 1917. Sehari-hari ia dipanggil Tatang. Ia gemar bermain sepak bola dan pencak silat.
Mochtar hanya menempuh pendidikan setingkat kelas 1 SMP. Dalam kariernya sebagai pemain sepak bola, ia memperkuat klub bernama Miss Riboet Orion asal Surabaya.
Miss Riboet Orion sebenarnya merupakan grup sandiwara. Bukannya menekuni sepak bola, Mochtar justru ikut terjun ke dunia sandiwara bersama grup sandiwara itu.
Saat itu produser film The Teng Chun sedang mencari pemain film utama untuk film “Alang-Alang”. Ia ingin seorang aktor yang gesit dan ganteng. Ada seseorang yang memberi informasi bahwa ada seorang calon pemeran utama yang tinggal di Cianjur.
Teng Chun langsung berangkat ke Cianjur untuk mencari calon pemain film itu. Ia berhasil menemukannya di tukang cukur. Sang calon pemain film itu tak lain adalah Mohammad Mochtar sendiri.
Lalu seperti apa kisah hidup Mohammad Mochtar? Berikut selengkapnya, dikutip dari kanal YouTube Penjelajah Waktu:
Tarzan Van Java

©YouTube/Penjelajah Waktu
Film “Alang-Alang” sendiri merupakan adopsi dari film “Tarzan”. Dalam film itu, Mochtar dipasangkan dengan Khadijah. Tak disangka, film itu sukses di pasaran. Orang-orang lantas menjuluki Mochtar sebagai “Tarzan van Java”.
Pembuatan film “Alang-Alang” sendiri sebenarnya agak serabutan karena kontrak penggunaan hewan sirkus dalam film itu sangat singkat. Belum lagi hewan sirkus yang dilibatkan sangat banyak dengan biaya sewa yang sangat tinggi.
Aktor Film Laga

©YouTube/Penjelajah Waktu
Setelah memainkan film “Alang-Alang”, nama Mohammad Mochtar semakin terkenal. Ia kerap bermain dalam film laga seperti “Macan Berbisik”, “Serigala Item”, “Rencong Aceh”, “Tengkorak Hidup”, “Si Gomar”, dan “Singa Laut”.
Pada saat masa pendudukan Jepang, Mochtar sempat menjadi anggota Persatuan Artis Film Indonesia (Persafi). Ia juga turut membintangi film propaganda Jepang seperti “Berjuang”, “Ke Seberang”, dan “Di Desa”.
Bergabung Jadi Tentara

©YouTube/Penjelajah Waktu
Pada masa pendudukan Jepang, Mochtar sempat bergabung dalam keanggotaan Heiho, atau pembantu prajurit Jepang. Setelah kemerdekaan, Mochtar ikut terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Ia menjadi anggota biro khusus intel saat Belanda melancarkan aksi militer di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Selepas zaman revolusi, Mochtar kembali ke dunia film. Banyak film yang ia mainkan di tahun 1950-an di antaranya “Tirtonadi”, “Terang Bulan”, “Pantai Bahagia”, “Air Mata Pengantin”, “Sungai Darah”, “Bandar Jakarta”, dan “Korupsi”.
Sempat Menghilang dari Dunia Film

©YouTube/Penjelajah Waktu
Selain sebagai aktor, Mochtar tercatat pernah menjadi penata kamera dalam film “Tirtonadi” dan “Air Mata Pengantin”. Setelah menyelesaikan pembuatan film “Teladan” pada tahun 1957, namanya menghilang dari dunia film. Saat itu, ia memilih bekerja di pabrik sepatu Ciliwung.
Ia kemudian sempat membuka usaha kecil di Puncak, Jawa Barat. Ia muncul kembali di dunia film dalam film “Jejak Berdarah” pada tahun 1967. Melalui film ini, ia terpilih sebagai aktor pendukung terbaik.
Aktor Berdedikasi

©YouTube/Penjelajah Waktu
Tahun 1981 merupakan tahun terakhir Mochtar tampil dalam dunia film. Film terakhirnya berjudul “Detik-Detik Cinta Menyentuh”. Ia meninggal dunia pada 1 Desember 1981.
Sepanjang kariernya, Mochtar sudah memainkan sekitar 60-an judul film. Maka pada Festival Film Indonesia tahun 1979, ia mendapatkan Piala Pikiran Rakyat lewat film “Pulau Cinta”. Saat itu ia mendapat penghargaan sebagai “Pemeran Tiga Zaman yang Setia dan Penuh Dedikasi”.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya