Kisah di Balik Anyaman Bambu di Bantul dan Peran BRI, dari Tradisi Leluhur hingga Perjuangan Mengangkat Derajat Pengrajin

Bambu Tresno UMKM binaan BRI, usaha kerajinan bambu dari Bantul yang lahir di masa pandemi, hadirkan keadilan untuk pengrajin dan cinta pada budaya lokal.

Tyas Titi Kinapti
Oleh Tyas Titi Kinapti - Reporter
Kisah di Balik Anyaman Bambu di Bantul dan Peran BRI,  dari Tradisi Leluhur hingga Perjuangan Mengangkat Derajat Pengrajin
Kisah di Balik Anyaman Bambu di Bantul dan Peran BRI, dari Tradisi Leluhur hingga Perjuangan Mengangkat Derajat Pengrajin (Merdeka.com)

Di tengah sejuknya lereng-lereng Desa Tangkil, Muntuk Bantul, Yogyakarta, suara bambu yang saling bergesekan seperti sedang membisikkan cerita panjang tentang ketekunan dan harapan. Di desa sejuk dan damai itu, kerajinan bambu bukan hanya soal ekonomi, tapi tentang warisan, tentang darah dan air mata para leluhur yang berusaha bertahan di tanah tandus.

Tradisi itu tumbuh, mengakar, dan kini mekar kembali lewat tangan-tangan penuh cinta dari Bambu Tresno. Margareta Ade Oktarina Wardani, seorang perempuan dengan tekad baja, yang berusaha mengangkat derajat para pengrajin bambu di desanya.

Bersama sang suami, Riyanto yang juga penggiat budaya, mereka melihat ketidakadilan yang menahun, para pengrajin yang mahir menganyam bambu, tapi tak pernah menikmati hasil karyanya dengan layak.

Dari situlah, Bambu Tresno lahir, membawa semangat baru untuk kerajinan bambu tradisional.Tak berjalan sendiri, Ade menemukan rumah bagi mimpinya di Rumah BUMN BRI Yogyakarta.

Dari situ, ia belajar, bertumbuh, dan membawa kerajinan bambu desa mereka ke panggung yang lebih luas. Seperti namanya, Bambu Tresno, tresno yang artinya cinta. Perjalanan Bambu Tresno adalah tentang cinta, kepada tradisi, kepada keluarga, dan kepada tanah tempat mereka berpijak.

Sejarah panjang bambu di Muntuk tidak dimulai dalam sehari. Saat bertemu dengan merdeka.com pada Sabtu 8 Maret 2025, Riyanto pun menceritakan sejarah panjang anyaman bambu menggeliat di desa ini. Berawal dari kisah Ki Honggo Wongso yang mengungsi dari keraton Pleret pada masa pasca Sultan Agung ke Sendang Sinangka yang berada di Pedukuhan Tangkil.

Keluarga ini harus memutar otak untuk bertahan hidup.Salah satunya dengan mengonsumi rebung, bambu muda yang diolah menjadi sayur.

“Keluarga Ki Honggo Wongso itu, mereka makan pakai rebung, bambu muda demi bertahan hidup,” cerita Riyanto, suami Ade mengenang kisah yang turun temurun diceritakan di desanya.

Dari bambu, mereka membuat alat-alat sederhana yang kemudian menjadi cikal bakal kerajinan bambu tradisional.Tanah tandus tak menghentikan kreativitas. Ki Honggo Wongso menciptakan alat peras kelapa dari bambu, yang dikenal dengan sebutan kalo. Inovasi ini melahirkan berbagai kerajinan lain seperti tampah, tambir, hingga kukusan, yang terus diwariskan hingga kini.

“Kalo itu singkatan dari Akale Lho,” tambah Riyanto sambil tertawa kecil, bangga akan sejarah desanya.

Seiring waktu, kerajinan bambu berkembang pesat. Sekitar tahun 1980-an, seorang pembeli dari Bali, Pak Ketut, mulai membawa kerajinan bambu Muntuk ke pasar-pasar besar. Sejak itu, bambu Muntuk tersebar ke berbagai penjuru, dari Beringharjo di Jogja sampai pasar-pasar di Medan.

Namun, sayangnya, ketenaran produk tak selalu seiring dengan kesejahteraan pengrajinnya. Banyak dari mereka tetap hidup sederhana, jauh dari pantasnya apresiasi. Kondisi inilah yang akhirnya menggugah Ade dan suaminya untuk bertindak.

Bisnis berawal sejak pandemi COVID-19 tahun 2020, kala itu pandemi membawa dunia ke dalam ketidakpastian. Namun di sebuah desa kecil, justru dari masa sulit itu muncul titik balik. Berbekal cinta dan tekad, seorang mantan pegawai bank yang memilih pensiun dini mulai mengemas kerajinan bambu menjadi hampers berisi empon-empon. Ide sederhana itu pun mendapat sambutan hangat.

"Ternyata responnya bagus, tapi justru orang-orang banyak yang nanya tempatnya yaitu anyaman dari desa kami," katanya.

Dari sekadar hampers sederhana, permintaan bertambah hingga ratusan paket untuk acara-acara pernikahan yang tak bisa dihadiri tamu saat pandemi. Melihat peluang ini, ia pun memutuskan beralih fokus dari menjual hampers ke berjualan anyaman bambu secara penuh.

Bagi Ade, Bambu Tresno bukan hanya tentang produk. Ini tentang memulihkan harga diri pengrajin. Ade ingin setiap tangan terampil yang menganyam bambu mendapatkan upah layak, kehidupan yang lebih baik.

“Bambu Tresno itu nggak sekadar jualan, tapi juga mengusahakan upah pengrajin yang layak,” ujarnya tegas.

Pelan tapi pasti, semangat ini merambat. Anak-anak muda pun mulai diajak bergabung. Ade berkata, “Ayo kamu bikin kerajinan bambu, ini bukan pekerjaan kasar, ini kerjaan keren.” tambah Ade.

Kerajinan bambu kembali hidup, membentang dari generasi tua hingga muda, dari sekadar keterampilan menjadi gerakan.

Bambu Tresno mungkin lahir dari cinta, tapi bertumbuh berkat jaringan dan ilmu. Ade tahu, untuk membawa kerajinan ini naik kelas, ia harus belajar banyak. Ia pun mengetuk pintu Dinas Koperasi, hingga akhirnya bertemu dengan Rumah BUMN BRI Yogyakarta.

"Aku berusaha turun ke bawah ke dinas koperasi cari informasi sampai ketemu Rumah BUMN BRI Yogyakarta," kata Ade.

Dari situ, ia mendapat akses ke berbagai pelatihan bisnis, branding, hingga pameran berskala nasional.Ade pun bergabung dengan program BRIncubator batch pertama, dan ikut dua kali pameran besar BRI UMKM EXPO(RT) di tahun 2023 dan 2025.

Dari sana ia belajar bagaimana produk lokal bisa punya standar ekspor, bagaimana menyusun harga yang adil, dan bagaimana memperjuangkan kesejahteraan para pengrajin.Tak hanya itu, melalui jaringan Rumah BUMN, produk Bambu Tresno kini bisa lebih dikenal luas.

“Pameran penting banget, karena selain bisa jualan, kami juga bisa ketemu banyak pelaku usaha lain. Dari situ bisa tukar pengalaman dan buka peluang kolaborasi,” ujarnya.

Pemasaran Digital Bambu Tresno, Instagram dan TikTok Jadi Andalan

Ade tak hanya fokus pada produksi, tapi juga aktif belajar pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar Bambu Tresno. Ia mulai memperkuat kehadiran usahanya di marketplace dan media sosial, dengan Instagram sebagai kanal utama yang pertama kali digunakan.Namun, upaya itu tak berhenti sampai di situ. Sang suami turut ambil peran dengan memanfaatkan TikTok live streaming sebagai strategi promosi yang efektif. Respons yang diterima pun sangat positif.

“Suami sering live, dalam livenya dia juga menyebut produk Bambu Tresno,” ujar Ade.

Di rumah mereka, perlengkapan untuk siaran langsung telah disiapkan dengan lengkap, mulai dari mikrofon, lampu penerangan, hingga set mini studio sederhana yang mendukung tampilan profesional.

Kini, di momen-momen spesial seperti Lebaran dan Natal, Bambu Tresno mampu menjual hingga 1.000 unit per bulan. Di luar musim ramai, angka penjualan tetap stabil di kisaran 200–300 unit setiap bulan.Dari modal awal sekitar Rp100 ribuan, Ade pernah mencatat omzet hingga Rp200 juta dalam setahun.

Tak hanya berdampak pada peningkatan penjualan, dukungan BRI juga membantu mendorong transformasi usaha ini ke arah yang lebih maju. Ade merasakan betul bahwa yang naik kelas bukan cuma produk, tapi juga para pengrajin di baliknya.

Kendati demikian, di balik kesuksesan produk kerajinan bambu, ada kenyataan pahit tentang ketimpangan harga. Produk yang dijual mahal di kota-kota besar seringkali membuat pengrajin hanya mendapat upah kecil. Ade melihat ini sebagai ketidakadilan yang harus diperjuangkan.

"Mereka punya modal, main rendah-rendahan harga, yang kena ya pengrajinnya,” katanya dengan nada getir.

Bambu Tresno hadir untuk memperbaiki sistem ini. Ade memastikan harga produk setara dengan kerja keras di baliknya. Dengan kisaran harga Rp37.000 sampai Rp225.000, setiap produk bukan hanya barang jualan, tapi juga penghargaan atas jerih payah.

Tak hanya berhenti di pasar lokal, suami Ade ikut bersuara lewat media sosial. Ia membagikan kisah para pengrajin di TikTok, mengungkap realita pahit yang selama ini tersembunyi.

"Suamiku penggiat budaya dan provokator sebenrnya yang paling getol," cerita Ade sambil tersenyum bangga.

Viralnya kisah ini membawa simpati luas dari masyarakat. Banyak yang merasa lebih dekat dengan perjuangan Bambu Tresno, memahami betapa pentingnya menghargai karya lokal.

Kini, Bambu Tresno bukan sekadar usaha rumahan. Ia menjadi gerakan kecil yang membangkitkan ekonomi desa dan menjaga tradisi tetap hidup. Setiap kerajinan, setiap anyaman, adalah wujud cinta terhadap budaya, komunitas, dan kehidupan yang lebih baik.

Ade terus bermimpi. Ia ingin lebih banyak pengrajin mendapatkan keadilan, lebih banyak anak muda melihat kerajinan sebagai masa depan yang keren.

"Sekarang sudah terserap semua, dari muda sampai tua. Jadinya kerajinan ini hidup lagi," ucapnya dengan mata berbinar.

Bersama Rumah BUMN BRI dan semangat komunitas, Bambu Tresno membuktikan bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang bertahan, tapi tentang tumbuh.Dari tangan-tangan sederhana di Muntuk, karya bambu itu menyebar ke mana-mana: ke Beringharjo, ke Bali, ke Medan.

Tapi yang terpenting, ia menyebarkan harapan, satu anyaman demi satu anyaman.Bambu Tresno mengajarkan bahwa cinta, tresno adalah kekuatan yang bisa mengubah dunia. Dari rebung kecil di pinggir Sendang Sinangka, tumbuhlah harapan untuk masa depan yang lebih sejahtera.

Sejak dibuka pada tahun 2017, Rumah BUMN BRI Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui berbagai program dan fasilitas, Rumah BUMN hadir sebagai wadah bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis mereka. Mulai dari pelatihan, inkubasi bisnis, hingga pameran, bazar, sertifikasi halal, dan digital marketing, semuanya disediakan untuk mendorong pertumbuhan UMKM.

Salah satu fokus utama Rumah BUMN adalah menyiapkan UMKM agar mampu menembus pasar ekspor. Lewat program BRI UMKM Export, para pelaku usaha yang menunjukkan semangat berkembang akan mendapatkan peluang untuk terlibat dalam kurasi dan bazar yang diharapkan dapat mendatangkan buyer dari luar negeri.

“Dari kita yang merekomendasikan dan ingin berkembang, reward bagi mereka yang ingin berkembang,” jelas Bagas Priambodo, selaku pengelola Rumah BUMN Yogyakarta.

“Bazar itu kan mendatangkan harapannya buyer-buyer dari luar negeri, yang tentunya yang dikurasi kalau secara logisnya mereka yang sudah siap ekspor.” tambahnya.

Potensi UMKM di Yogyakarta sendiri dinilai sangat besar. Namun, masih ada tantangan mentalitas pelaku usaha yang cenderung merasa cukup atau ‘nerimo ing pandum’. Karena itu, pengelola berharap Rumah BUMN bisa menjadi motor penggerak agar UMKM tak hanya bertahan, tapi juga berani berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Sebenernya UMKM di Jogja itu banyak banget dan bagus-bagus. Tapi harapan saya, UMKM bisa berkembang lebih baik lagi, dan Rumah BUMN BRI Yogyakarta bisa jadi wadah yang tepat untuk mengembangkan usahanya.” pungkas Bagas.

Dengan semangat kolaboratif dan dorongan untuk terus berinovasi, Rumah BUMN BRI Yogyakarta terus membuka peluang bagi UMKM untuk tumbuh, berkembang, dan menjangkau pasar global.

Rekomendasi