Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kalah Bersaing, Begini Kondisi Sekolah Kartini di Rembang yang Mulai Terlupakan

Kalah Bersaing, Begini Kondisi Sekolah Kartini di Rembang yang Mulai Terlupakan Seklah Kartini Rembang. ©Suluhpergerakan.org

Merdeka.com - Setelah resmi menjadi istri dari Bupati Rembang Joyoadiningrat, RA Kartini memiliki keseharian dengan mengajar para anak-anak putri dari bangsawan di rumah dinas bupati. Di sana, ia tak hanya mengajarkan murid-muridnya tentang baca tulis, namun juga kesenian lokal, membatik, dan menjahit.

Sejak saat itu, Kartini berkeinginan untuk membuat sebuah sekolah yang bisa menampung siswa putri lebih banyak lagi dan juga menjangkau siswa putri dari strata sosial bawah. Untuk mewujudkan ambisinya, ia menyurati jajaran pemerintah Hindia Belanda untuk bisa memberi bantuan terhadap programnya itu.

Hanya saja, keinginannya belum terwujud hingga ia meninggal dunia pada tahun 1904. Sekolah inipun baru dibangun pada tahun 1913 melalui penggalangan dana yang dilakukan Van Deventer, ahli hukum Belanda yang juga tokoh politik etis.

Akhirnya Sekolah Kartini didirikan di berbagai daerah. Salah satunya Sekolah Kartini yang berada di Kota Rembang. Lalu bagaimana nasib sekolah itu kini?

Mengajarkan Nilai-nilai Kartini

seklah kartini rembang

©Suluhpergerakan.org

Sekolah Kartini Rembang berada di pusat Kota Rembang. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Alun-Alun Rembang dan berada persis di depan Istana Bupati Rembang yang sudah berdiri sejak zaman Belanda.

Dilansir dari Suluhpergerakan.org, hingga kini guru dan para staf di Sekolah Kartini Rembang masih mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dulu diajarkan Kartini kepada anak didiknya, salah satunya adalah seni membatik dan menjahit.

Kalah Bersaing

Dikutip dari sumber yang sama, sekolah yang hanya diperuntukkan bagi siswa putri itu pelan-pelan kalah bersaing dengan sekolah-sekolah baru yang mulai bermunculan. Karena jumlah siswanya kurang sedikit, maka sekolah itu diubah menjadi SMA Kartini Rembang. Siswanya pun tak hanya berasal dari kaum perempuan, namun juga laki-laki bisa bersekolah di sana.

Bahkan menurut Danang Pamungkas, salah satu pengajar di Sekolah Kartini Rembang, sekolah itu lambat laun mulai tidak dikenali oleh warga sekitar Rembang. Bahkan beberapa orang mengenal sekolah itu dengan stigma negatif, misalnya sebagai sekolah buangan di mana banyak siswa nakal yang tidak mengenal aturan.

Menurut Danang, stigma negatif itu muncul karena ketidaktahuan dan pengetahuan sejarah yang tidak terbangun dengan baik di tengah masyarakat.

Keunggulan Sekolah Kartini Rembang

seklah kartini rembang

©Suluhpergerakan.org

Walaupun mulai tidak dikenali, sebenarnya Sekolah Kartini, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama SMA Kartini Rembang memiliki banyak prestasi yang membanggakan. Pada tahun 2013, sekolah itu mendapatkan program Kemendikbud sebagai sekolah berbasis Gender.

Pada tahun 2018, sekolah itu mendapatkan prestasi juara pertama Lomba Tari di Kampus STIE YPPI Rembang. Sekolah inipun juga beberapa kali memperoleh prestasi di kejuaraan lomba seperti lomba penulisan cerita rakyat, lomba story telling, dan lomba Fashion Show Batik.

Ketika mengunjungi sekolah itu Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) sangat antusias dengan model pendidikan dan ekstrakulikuler yang mengasah keterampilan siswanya untuk berkreasi. Salah satu kerajinan tangan yang ditonjolkan di sekolah itu adalah Batik Tulis Lasem. Maka tak heran apabila di kota itu banyak terdapat pengrajin batik tulis.

“Sekolah ini bukan sebagai museum sejarah yang mati, namun sekolah ini masih hidup dan menghidupi komunitas sekitar. Saya membuat tulisan ini untuk mengabarkan pada seluruh sahabat yang ada di Indonesia bahwa masih ada situs peninggalan Kartini yang sampai saat ini masih aktif mendidik anak negeri,” tulis Danang seperti dikutip dari Suluhperjuangan.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP