Fraud adalah Tindakan Penipuan untuk Mengambil Keuntungan, Ketahui Jenis Kasusnya

Kamis, 25 November 2021 16:25 Reporter : Ayu Isti Prabandari
Fraud adalah Tindakan Penipuan untuk Mengambil Keuntungan, Ketahui Jenis Kasusnya ilustrasi uang. www.usatoday.com

Merdeka.com - Penipuan merupakan salah satu tindakan kriminal yang tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merugikan pihak lain. Semakin modern, kini kasus penipuan dilakukan dengan berbagai macam motif dan media. Mulai dari penipuan bermotif kegiatan sosial hingga penipuan bermotif pinjaman online yang sedang ramai baru-baru ini.

Bukan hanya itu, kasus penipuan juga kerap terjadi di dunia bisnis. Biasanya penipuan di lingkup bisnis ini membawa kerugian yang cukup besar bagi pihak tertentu. Dalam hal ini, tindakan penipuan dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok untuk memenuhi kepentingan segelintir orang.

Tindakan penipuan dalam bisnis ini juga sering disebut dengan istilah Fraud. Fraud adalah tindakan yang sengaja dilakukan untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah, baik untuk diri sendiri maupun lembaga. Tindakan penipuan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam motif dan bentuk keuntungan yang ingin didapatkan.

Dengan begitu, penting bagi setiap perusahaan untuk teliti dalam memantau sumber pendapatan, inventaris, dan barang-barang yang menjadi sumber kekayaan perusahaan. Selain itu, pihak perusahaan juga perlu memantau setiap kinerja dan sikap yang terlihat pada karyawan. Biasanya, karyawan yang melakukan tindakan fraud menunjukkan tanda-tanda tertentu yang dapat dilihat sebagai peringatan.

Dilansir dari laman USI, kami merangkum pengertian, berbagai contoh, dan tanda-tanda peringatan dari tindakan fraud adalah sebagai berikut.

2 dari 4 halaman

Pengertian Fraud

ilustrasi bisnis
©2014 Merdeka.com/shutterstock/EDHAR

Fraud adalah tindakan yang disengaja untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah, baik untuk diri sendiri maupun untuk lembaga. Ini merupakan tindakan penipuan yang menggunakan berbagai cara dan manipulasi untuk mendapatkan keuntungan yang ditargetkan. Tindakan tidak etis ini melanggar hukum dan membawa kerugian yang besar bagi pihak lain.

Beberapa contoh tindakan fraud adalah sebagai berikut:

  • Penggelapan
  • Pemalsuan atau pengubahan dokumen
  • Perubahan atau manipulasi file komputer yang tidak sah
  • Pelaporan keuangan yang curang dan tidak sesuai kenyataan
  • Penyalahgunaan sumber daya (misalnya, dana, persediaan, peralatan, fasilitas, layanan, inventaris, atau aset lainnya)
  • Otorisasi atau penerimaan pembayaran untuk barang yang tidak diterima atau jasa yang tidak dilakukan
  • Otorisasi atau penerimaan upah atau tunjangan yang belum diterima
  • Benturan kepentingan, pelanggaran etika
3 dari 4 halaman

Teori Segitiga Fraud

Setelah mengetahui pengertian umum dan beberapa contoh kasusnya, Anda juga perlu memahami teori Segitiga Fraud. Teori Segitiga fraud atau The Fraud Triangle menjelaskan bahwa karyawan dalam suatu perusahaan dapat melakukan fraud atau penipuan karena pengaruh tiga faktor, yaitu peluang, tekanan, dan rasionalisasi. Berikut penjelasan lengkapnya.

Peluang

Faktor peluang adalah sebuah kesempatan yang biasanya terjadi karena adanya kelemahan dalam pengendalian internal. Beberapa bidang yang menjadi celah dan memberikan peluang bagi oknum karyawan untuk melakukan penipuan, yaitu sebagai berikut:

  • Pengawasan atau peninjauan
  • Pemisahan tugas
  • Persetujuan manajemen
  • Kontrol sistem

Tekanan

Faktor tekanan dalam tindakan fraud adalah sebuah motif guna mengambil keuntungan yang dilakukan karena situasi terpaksa atau terdesak. Berikut beberapa contoh tekanan yang mendorong seseorang melakukan tindakan penipuan:

  • Masalah keuangan pribadi; biaya tak terduga
  • Kejahatan/kecanduan pribadi seperti judi, narkoba, belanja, dll.
  • Tenggat waktu dan sasaran kinerja yang tidak realistis

Beberapa hal tersebut bisa menjadi sumber alasan bagi seseorang untuk melakukan tindakan tidak etis dan melanggar hukum untuk mengambil keuntungan di perusahaan. Meskipun begitu, tindakan ini tidak bisa dibenarkan dan sebaiknya mendapatkan konsekuensi hukuman untuk memberikan efek jera atas apa yang dilakukan.

Rasionalisasi

Faktor rasionalisasi dalam tindakan fraud adalah suatu kondisi di mana individu mengembangkan pembenaran untuk melakukan kegiatan penipuan. Dalam hal ini, motif rasionalisasi bermacam-macam tergantung kasus dan individu yang melakukan. Beberapa contoh motif rasionalisasi dalam tindakan fraud adalah sebagai berikut:

  • "Saya sangat membutuhkan uang ini dan saya akan membayarnya kembali ketika saya mendapatkan gaji saya."
  • "Orang lain yang melakukannya."
  • "Aku tidak mendapat kenaikan gaji. Universitas berutang padaku."
4 dari 4 halaman

Tanda-Tanda Peringatan

012 siti rutmawati
www.ivandimitrijevic.com

Setelah mengetahui Teori Segitiga Fraud yang menjadi dasar pemahaman dari berbagai motif tindakan fraud, berikutnya penting bagi setiap perusahaan untuk memberikan pengawasan dalam operasional perusahaan untuk mencegah tindakan penipuan. Selain itu, perusahaan juga perlu mengawasi setiap karyawan dengan berbagai sikap mencurigakan yang mengarah pada penipuan. Tanda-tanda peringatan yang perlu diperhatikan dalam tindakan fraud adalah sebagai berikut

Tanda-tanda peringatan pada karyawan:

  • Perubahan gaya hidup karyawan: mobil mahal, perhiasan, rumah, pakaian
  • Utang pribadi dan masalah kredit yang signifikan
  • Perubahan perilaku seperti indikasi konsumsi obat-obatan, alkohol, perjudian, atau hanya takut kehilangan pekerjaan
  • Perputaran karyawan yang tinggi, terutama di area yang lebih rentan terhadap penipuan
  • Penolakan untuk mengambil cuti atau cuti sakit
  • Kurangnya pemisahan tugas di wilayah yang rentan

Tanda-tanda peringatan pada manajemen:

  • Manajemen sering mengesampingkan pengendalian internal
  • Keputusan manajemen didominasi oleh individu atau kelompok kecil
  • Manajer menunjukkan rasa tidak hormat yang signifikan terhadap badan pengatur
  • Kebijakan dan prosedur tidak didokumentasikan atau ditegakkan
  • Lingkungan pengendalian internal yang lemah
  • Personel akuntansi lemah atau tidak berpengalaman dalam tugasnya
  • Desentralisasi tanpa pengawasan yang memadai
  • Jumlah rekening giro yang berlebihan; perubahan yang sering terjadi pada rekening bank
  • Jumlah transaksi akhir tahun yang berlebihan; transaksi yang tidak perlu berbelit-belit
  • Tingkat pergantian karyawan yang tinggi; semangat kerja karyawan rendah
  • Penolakan untuk menggunakan dokumen bernomor seri (kwitansi)
  • Program kompensasi yang tidak proporsional
  • Dokumen yang difotokopi atau hilang
  • Keengganan untuk memberikan informasi kepada, atau sering terlibat dalam perselisihan dengan, auditor
[ayi]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Jateng
  3. Berita Jateng
  4. Ragam
  5. Penipuan
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini