Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia, Ini Kisah Perjalanan Hidupnya

Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia, Ini Kisah Perjalanan Hidupnya Buya Syafii Maarif. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh nasional, Prof. Dr.K.H Ahmad Syafii Maarif, meninggal dunia hari ini (27/5/2022). Kepergiannya menjadi duka mendalam bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah serta keluarga yang ditinggalkan.

Semasa hidupnya, pria yang lebih akrab dipanggil Buya Syafii Maarif itu pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), dan mendirikan Maarif Institute.

Berikut adalah perjalanan hidup Buya Syafii Maarif:

Masa Sekolah Buya Syafii Maarif

buya syafii maarif

©2019 Merdeka.com

Dilansir dari Wikipedia.org, Ahmad Syafii Maarif lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, pada 31 Mei 1935. Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat di Sumpur Kudus. Sepulang sekolah, ia belajar agama di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah pada sore harinya. Ia tamat dari sekolah rakyat pada tahun 1947.

Setelah tamat sekolah, ia tak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun karena beban ekonomi yang ditanggung sang ayah. Baru pada tahun 1950, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tengah, Lintang, sampai duduk di bangku kelas tiga.

Merantau ke Jawa

Pada tahun 1953, Buya Syafii Maarif merantau ke Jawa bersama dua adik sepupunya yaitu Azra’i dan Suward. Di sana ia diterima untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Muallimin setelah sebelumnya sempat tidak diterima di sekolah itu. Di sana ia aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar.

Menempuh Pendidikan Tinggi

maarif

©2018 Merdeka.com/Purnomo Edi

Setelah lulus dari Muallimin pada 12 Juli 1956, Buya Syafii Maarif berangkat ke Lombok  memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah untuk menjadi guru di sana. Setahun menjadi guru, ia melanjutkan kuliah di Universitas Cokroaminoto Surakarta, lalu melanjutkan pendidikan di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP dan tamat pada tahun 1968.

Punya 9 Pekerjaan untuk Menyambung Hidup

Dalam masa kuliah itu, ia melakukan sambilan pekerjaan lain untuk menyambung hidup seperti menjadi guru ngaji, pelayan toko, membuka usaha kecil-kecilan bersama teman, dan menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo. Selama masa ini, dia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.

S-3 University of Chicago, Amerika Serikat 

Setelah lulus sarjana, ia melanjutkan pendidikan master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Gelar doktornya ia raih dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS. Di negeri Paman Sam inilah ia terlibat diskusi intensif dengan tokoh nasional lain yaitu Nurcholis Madjid dan Amien Rais.

Ketua PP Muhammadiyah

maarif

©2018 Merdeka.com/Purnomo Edi

Pada tahun 1998, Buya Syafii Maarif didaulat menggantikan Amien Rais sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Jabatan itu ia emban hingga tahun 2005.

Selama menjadi Ketua Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif menanamkan pemikiran pluralisme, toleransi, kebangsaan, sosial, dan juga keislaman. Pemikirannya itu terwujud dari lembaga yang ia dirikan bernama Maarif Institute.

Selain itu, ia juga aktif menulis dan menjadi pembicara dalam seminar. Karya buku yang dihasilkannya antara lain “Dinamika Islam” dan “Islam, Mengapa Tidak?”, lalu ada pula buku berjudul “Islam dan Masalah Kenegaraan”. Atas karya-karyanya ini, pada tahun 2008 ia mendapat penghargaan Ramon Magsaysay dari Pemerintah Filipina.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP