Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bawa Misi Intelektualitas, Pakar Jurnalisme UGM Ingatkan Ini pada Para Wartawan

Bawa Misi Intelektualitas, Pakar Jurnalisme UGM Ingatkan Ini pada Para Wartawan Ilustrasi Wartawan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Wartawan merupakan sebuah profesi yang sangat penting perannya dalam masyarakat demokrasi. Bertugas sebagai penyusun berita, dalam bekerja wartawan harus mematuhi sejumlah kode etik agar berita yang dihasilkan diyakini kebenarannya sebelum diterima oleh masyarakat luas.

Namun dewasa ini banyak masalah muncul dalam dunia kewartawanan. Mulai dari isu gaji yang sedikit, berita yang tak akurat, munculnya wartawan bodrek, belum lagi ancaman kekerasan bagi wartawan serta lemahnya hukum dalam menindak kekerasan pada wartawan itu.

Hal inilah yang menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “Jurnalisme dan Kebijakan Komunikasi” yang diisi oleh pakar jurnalisme dari Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S. Dalam acara itu, Dr. Abrar mengimbau pada para wartawan untuk senantiasa mengingat tujuan utama dari jurnalisme, yaitu memanusiakan manusia.

Dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan membawa misi penting. Apa itu? Berikut selengkapnya:

Bawa Misi Intelektualitas

002 tantri setyorini

©2015 Quotationof.com

Abrar mengatakan, seorang wartawan minimal harus bisa meningkatkan intelektualitas masyarakat. Dalam tugas-tugas kewartawanan, dia harus senantiasa berdasarkan tujuan, yaitu untuk meningkatkan intelektualitas masyarakat.

“Kalaupun sebelumnya saat mencari berita bisa dikategorikan sebagai kerja fisik, tapi setelah itu pasti kerja pikir. Yakni ketika mengumpulkan fakta, memilah fakta, memberikan framing, kemudian mengedit. Itu semua kerja pikir,” jelas Abrar, mengutip dari Ugm.ac.id pada Jumat (10/12).

Fakta Lapangan

gadungan

©2016 Merdeka.com

Namun dalam hasil penelitiannya terhadap media lokal di Yogyakarta, Abrar menunjukkan fakta lapangan di mana para wartawan sudah tidak mengindahkan prinsip tersebut. Ia mengatakan bahwa dalam temuan datanya, banyak wartawan yang menghasilkan berita tidak untuk meningkatkan intelektual masyarakat, melainkan menghasilkan berita yang menurutnya tidak semestinya.

Dr. Abrar mencontohkan banyak para wartawan yang lebih memilih artikel-artikel tentang zodiak atau ramalan, film atau sinetron, dan lain sebagainya. Dari contoh tersebut, ia mengatakan kalau berita-berita itu tidak mementingkan apakah artikel tersebut penting bagi masyarakat atau tidak.

Orientasi Produksi Berita

001 hikmah wilda amalia

©2015 Merdeka.com

Dr. Abrar mengatakan, dewasa ini orientasi produksi artikel dalam suatu media lebih mementingkan apakah berita itu menarik atau tidak. Produksi berita yang dilakukan para wartawan maupun pembuat konten hanya bertujuan untuk meningkatkan kunjungan pada laman media terkait. Sebab semakin banyak orang mengunjungi laman tersebut, semakin banyak pula iklan dapat ditampilkan dan semakin banyak pula perusahaan media mendapat keuntungan.

Ia pun mengakui bahwa hal tersebut sebenarnya sah-sah saja dilakukan demi mencari keuntungan. Namun ia mengingatkan bahwa perusahaan media juga lembaga sosial yang juga berfungsi untuk meningkatkan intelektualitas masyarakat.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP