Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Apa Itu Rohingya dan Penyebab Konfliknya, Perlu Diketahui

Apa Itu Rohingya dan Penyebab Konfliknya, Perlu Diketahui

Konflik Rohingya termasuk kejahatan genosida yang menelantarkan banyak orang.

Kedatangan sejumlah besar pengungsi Rohingya ke Aceh telah menjadi sorotan bagi masyarakat Indonesia. Diketahui, sekitar 170 pengungsi Rohingnya tiba di Aceh, tepatnya pada 2 Desember 2023 lalu. Datangnya pengungsi Rohingya ke Indonesia ini tidak lain untuk mencari keamanan dari konflik yang tengah dihadapinya.

Selain menarik perhatian masyarakat Indonesia, kabar ini tentu menimbulkan perasaan prihatin. Di mana sejumlah orang masih belum mendapatkan hak kehidupan yang layak. Mulai dari hak tempat tinggal yang aman, hak untuk makan, hingga hak pendidikan untuk anak-anak.

Konflik masyarakat Rohingya ini sudah lama terjadi dan belum menemui titik terang. Namun, mungkin sebagian dari Anda masih asing dan bertanya-tanya apa itu Rohingya serta bagaimana asal usul konfliknya. Selain itu, perlu diketahui pula beberapa hal yang menjadi alasan Rohingya melarikan diri dari Myanmar.

Berikut, kami merangkum penjelasan apa itu Rohingnya, asal mula, dan alasannya, bisa Anda simak.

Apa Itu Rohingya

Apa Itu Rohingya

Pertama, akan dijelaskan dahulu apa itu Rohingya. Etnis Rohingya adalah kelompok etnis minoritas Muslim yang mayoritas tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar.

Sejarah etnis Rohingya bermula dari kedatangan orang-orang Muslim dari wilayah Benggala pada abad ke-7. Mereka menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Rakhine State di Myanmar. Secara historis, mereka diakui sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis di negara tersebut.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, etnis Rohingya telah menghadapi krisis kemanusiaan yang serius di Myanmar. Mereka telah menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan penganiayaan dari pemerintah dan mayoritas Buddhisme Rakhine.

Krisis kemanusiaan ini mencapai titik puncaknya pada tahun 2017, ketika pasukan keamanan Myanmar melancarkan serangan besar-besaran terhadap etnis Rohingya, memaksa ratusan ribu orang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Hingga saat ini, krisis etnis Rohingya masih berlanjut, dengan banyaknya pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh dan kondisi yang masih sangat sulit di Myanmar.

Perlakuan terhadap etnis Rohingya telah menimbulkan kecaman internasional terhadap pemerintah Myanmar dan menimbulkan keprihatinan akan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas.

Sejarah Etnis Rohingya

Sejarah Etnis Rohingya

Setelah mengetahui apa itu Rohingya, berikutnya akan dijelaskan bagaimana sejarah konflik etnis Rohingya.

Etnis Rohingya merupakan kelompok etnis minoritas yang berasal dari wilayah Rakhine di Myanmar. Asal-usul mereka diyakini berasal dari campuran antara penduduk asli Rakhine dan pendatang Arab dan Persia pada abad ke-7 hingga ke-9 Masehi.

Sejak zaman kolonial, etnis Rohingya telah mengalami diskriminasi dan penindasan dari pemerintahan kolonial Inggris maupun pemerintah Myanmar yang mayoritas beragama Budha.

Pada tahun 1982, pemerintah Myanmar secara resmi menolak mengakui etnis Rohingya sebagai salah satu kelompok etnis yang sah di negara tersebut, sehingga menyebabkan mereka kehilangan hak-hak kewarganegaraan dan menjadi orang tak diinginkan di negara mereka sendiri.

Konflik antar etnis di Myanmar, terutama dengan mayoritas Budha Rakhine, semakin memperburuk keberadaan etnis Rohingya. Pada tahun 2017, meningkatnya kekerasan militer terhadap etnis Rohingya mengakibatkan pencarian massal dan pembakaran desa-desa mereka, serta pengungsian ribuan orang Rohingya ke negara tetangga Bangladesh.

Sejarah panjang perjuangan etnis Rohingya ini menunjukkan bahwa mereka terus berjuang untuk diakui sebagai warga negara yang setara di Myanmar, namun hingga kini mereka masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan hak-hak dasar mereka.

Alasan Rohingya Melarikan Diri

Alasan Rohingya Melarikan Diri

Setelah mengetahui apa itu Rohingya, terakhir akan dijelaskan beberapa alasan etnis Rohingya melarikan diri dari Myanmar:

Masalah Kemananan di Bangladesh

Keamanan di Bangladesh telah memengaruhi kondisi para pengungsi Rohingya secara signifikan. Para pengungsi Rohingya sering menjadi korban penculikan, serangan, dan kejahatan lainnya di negara tersebut.

Menurut Amnesty International, sebanyak 99% dari pengungsi Rohingya yang telah dimintai pendapat oleh mereka pada tahun 2018 menyatakan telah menjadi korban kejahatan atau kekerasan.

Pemerintah Bangladesh telah berupaya untuk menangani masalah keamanan ini dengan meningkatkan patroli dan keamanan di sekitar kamp-kamp pengungsian. Mereka juga telah bekerja sama dengan komunitas internasional untuk menangani masalah ini.

Organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah turut campur tangan untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Meskipun upaya telah dilakukan, tantangan keamanan terus ada dan jumlah kasus kejahatan dan serangan terhadap pengungsi masih tinggi.

Hal ini menunjukkan perlunya upaya yang lebih besar untuk menangani masalah ini secara efektif dan menyeluruh.

Kurangnya Sumber Makanan

Kurangnya sumber makanan merupakan masalah serius bagi pengungsi Rohingya di Rakhine. Data dari Program Pangan Dunia menunjukkan bahwa jatah makanan bagi warga Rohingya telah dipotong sebanyak 15% pada bulan Juni 2021.

Sebelum pemotongan ini, jatah makanan yang diterima oleh warga Rohingya hanya mencukupi untuk memenuhi 60% kebutuhan gizi harian.

Dengan adanya pemotongan ini, situasi krisis pangan di kamp-kamp pengungsi semakin memburuk.

Lebih dari 128.000 orang Rohingya tinggal di kamp-kamp di Rakhine, dan kurangnya sumber makanan menyebabkan banyak dari mereka mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Hal ini juga berdampak buruk pada kesehatan mereka, terutama pada anak-anak dan lansia. Di tengah kondisi konflik dan ketegangan yang terus berlanjut, penanganan masalah krisis pangan menjadi semakin sulit.

Dengan kurangnya sumber makanan dan pemotongan jatah makanan yang dilakukan oleh Program Pangan Dunia, pengungsi Rohingya di Rakhine menghadapi tantangan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Upaya mendesak diperlukan dari pihak internasional untuk memastikan akses makanan yang memadai bagi pengungsi Rohingya dan masyarakat yang terdampak konflik di Rakhine.

Sulitnya Akses Pekerjaan dan Pendidikan

Sebagian besar pengungsi Rohingya di Bangladesh mengalami batasan akses terhadap pekerjaan dan pendidikan.

Pada umumnya, pemerintah Bangladesh melarang pengungsi Rohingya untuk bekerja di sektor formal, sehingga mereka sering kali bekerja secara ilegal dengan upah rendah di sektor informal.

Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak mengakui status pengungsi Rohingya dan memperlakukan mereka sebagai pendatang ilegal.

Selain itu, akses pendidikan bagi pengungsi Rohingya juga sangat terbatas. Pemerintah Bangladesh melarang mereka untuk belajar di sekolah formal dan mengakses pendidikan tingkat lanjut.

Mereka hanya diperbolehkan untuk belajar di sekolah-sekolah yang dijalankan oleh organisasi bantuan atau lembaga swadaya masyarakat.

Alasan utama yang menjadi dasar larangan pekerjaan dan pendidikan yang layak bagi pengungsi Rohingya adalah adanya kekhawatiran akan integrasi mereka ke dalam masyarakat Bangladesh serta mempengaruhi dampak sosial dan ekonomi lokal.

Selain itu, pemerintah juga melarang pengungsi Rohingya untuk belajar bahasa Bengali agar tidak meresahkan masyarakat lokal dan mempermudah integrasi mereka ke dalam masyarakat Bangladesh.

Ganjar: Di Tangan Rakyat, Penguasa Bisa Tumbang
Ganjar: Di Tangan Rakyat, Penguasa Bisa Tumbang

Ganjar menegaskan perlunya menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan tidak memprovokasi konflik.

Baca Selengkapnya icon-hand
Macam-Macam Kepribadian yang Bisa Bikin Orang Sekitar Nyaman
Macam-Macam Kepribadian yang Bisa Bikin Orang Sekitar Nyaman

Jika kepribadian seseorang bisa bikin orang di sekitarnya nyaman, maka akan terbangun hubungan yang sehat dan harmonis.

Baca Selengkapnya icon-hand
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Ditanya Penyelesaian Konflik di Papua, Anies Akan Gunakan Cara Seperti di Jakarta
Ditanya Penyelesaian Konflik di Papua, Anies Akan Gunakan Cara Seperti di Jakarta

Pemerintah mesti melibatkan banyak pihak dalam setiap penyelesaian konflik.

Baca Selengkapnya icon-hand
Anies soal Konflik Aparat dan Warga di Pulau Rempang: Investasi Picu Penderitaan, Perlu Koreksi
Anies soal Konflik Aparat dan Warga di Pulau Rempang: Investasi Picu Penderitaan, Perlu Koreksi

Anies menilai, upaya damai perlu dilakukan dalam konflik semacam yang terjadi di Pulau Rempang.

Baca Selengkapnya icon-hand
41 Kerangka Manusia Tanpa Kepala Ditemukan di China, Ungkap Konflik Mengerikan 4.400 Tahun Lalu
41 Kerangka Manusia Tanpa Kepala Ditemukan di China, Ungkap Konflik Mengerikan 4.400 Tahun Lalu

Kerangka tanpa kepala ini adalah korban pembantaian kejam di Zaman Neolitikum.

Baca Selengkapnya icon-hand
Daftar 12 Wilayah Rawan Konflik Saat Pemilu di Papua
Daftar 12 Wilayah Rawan Konflik Saat Pemilu di Papua

Temuan 12 daerah rawan konflik ini berdasarkan hasil pemetaan Polda Papua.

Baca Selengkapnya icon-hand
Soal Konflik di Pulau Rempang Kepri, Mahfud MD: Ada Kekeliruan dari KLHK
Soal Konflik di Pulau Rempang Kepri, Mahfud MD: Ada Kekeliruan dari KLHK

Mahfud menyebut, kesalahan yang dilakukan oleh KLHK adalah mengeluarkan izin penggunaan tanah kepada pihak yang tidak berhak.

Baca Selengkapnya icon-hand
Menko Luhut Akui Pendekatan Pemerintah Atasi Konflik Rempang Kurang Pas
Menko Luhut Akui Pendekatan Pemerintah Atasi Konflik Rempang Kurang Pas

Luhut menuturkan, dalam berbagai konflik seperti yang terjadi di Rempang, bisa dipastikan ada oknum provokator yang memecah belah masyarakat.

Baca Selengkapnya icon-hand

Baca Juga