5 Fakta Punggahan, Ritual Sambut Ramadhan Ala Masyarakat Kejawen Cilacap
Merdeka.com - Adanya pandemi virus Corona membuat berbagai acara sambut bulan suci Ramadhan terpaksa dibatalkan. Hal itu dikarenakan kerumunan yang terjadi selama berlangsungnya acara bisa menyebarkan virus berbahaya tersebut. Salah satu acara yang terkena dampak dari adanya pandemi virus Corona adalah Punggahan.
Punggahan adalah acara yang digelar masyarakat Kejawen komunitas Anak Putu Kalikudi yang berada di Adipala, dan Keturunan Panembahan Bonokeling yang ada di Jatilawang, Banyumas. Acara ini lazimnya digelar pada minggu ke-3 Bulan Sya’ban. Acara ini digelar untuk menandai berakhirnya Sadran dan menyambut datangnya Bulan Ramadhan.
Namun, karena adanya virus Corona, tradisi yang telah digelar selama ratusan tahun terpaksa ditiadakan. Berikut selengkapnya:
Berjalan Kaki Puluhan Kilometer

2020 liputan6.com
Punggahan merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan komunitas Anak Putu pada minggu ke-3 Bulan Syaban. Sebelum acara dimulai, para penganut kejawen itu terlebih dahulu melaksanakan ritual Dandan, yaitu menyiakan ubo rampe yang akan dibawa selama prosesi tradisi Punggahan.
Setelah prosesi Dandan selesai, prosesi selanjutnya adalah Lampah, yaitu berjalan kaki sejauh 25 kilometer menuju tempat dilangsungkannya acara Punggahan di Makam Bonokeling, Pakuncen, Banyumas.
Menuju Makam Panembahan Bonokeling

2020 liputan6.com
Setelah ubo rampe siap, prosesi lampah dilakukan. Mereka berjalan kaki menuju makam Bonokoling. Ubo rampe itu rencananya akan dimasak dan dimakan bersama dengan ribuan peziarah lain yang datang dari berbagai daerah.
Saat prosesi lampah dilakukan, ratusan anggota komunitas Anak Putu berjalan melalui jalur yang sudah ditentukan. Mereka juga berhenti untuk beristirahat di lokasi peristirahat yang sudah ditentukan. Tercatat ada 5 tempat istirahat yaitu di Pasar Kesugihan, Bundinan, Durenan, Pasar Dadak, dan terakhir di Bonokeling Pekuncen.
Prosesi Acara

2020 liputan6.com
Prosesi acara Punggahan dimulai pada Jumat pukul 01.00 dini hari. Saat itu seluruh peziarah melakukan ritual muji, berdoa untuk Panembahan Banokeling. Pada pukul 05.00, para peserta ziarah mempersiapkan puncak acara. Ada yang mengecat kompleks pemakaman, menyembelih hewan, dan ada pula yang memasak. Hewan yang disembelih antara lain sapi, kambing jantan, dan ayam.
Pada pukul 12.00, digelar acara bekten. Di sini peziarah melakukan laku suci kepada para pepunden yang dimakamkan di sana. Pada malam harinya, peziarah akan berkumpul di pasemuan agung dan memanjatkan doa untuk terakhir kalinya. Dilansir dari Lakpesdamcilacap.or.id, selesai berdoa mereka menyantap makanan yang telah disiapkan di dapur masal.
Acara itu berakhir keesokan paginya. Sebelum pulang mereka berpamitan dulu kepada juru kunci Panembahan Bonokeling dan pulang ke rumah masing-masing juga dengan berjalan kaki.
Mengirim Sajen

2020 liputan6.com
Karena terjadinya pandemi virus Corona, acara lampah terpaksa ditiadakan. Sebagai gantinya, para kiai kunci atau utusan mengirimkan sajen menuju Tugu Budin, Kesugihan, Cilacap. Di Tugu Budin, sajen kemudian dijemput oleh kiai kunci dari Panembahan Banokeling. Selanjutnya, sajen itu langsung dibawa ke Pakuncen.
"Ini pertama kalinya dibatasi. Jadi yang ikut upacaranya nanti hanya Komunitas Anak Putu yang ada di Pakuncen saja," ujar Sumitro, juru bicara Komunitas Adat Banokeling dilansir dari Liputan6.com,
Ritual Semedi Untuk Menangkal Upas

2020 liputan6.com
Agar pandemi Corona segera berakhir, masyarakat adat Bonokoling melakukan pendekatan religius dengan semedi atau bertapa. Dilansir dari Liputan6.com, semedi itu dilakukan dengan menyepi di areal makam Banokeling oleh 6 kasepuhan yang merupakan pimpinan kasepuhan adat.
Dalam adat Banokeling, wabah virus Corona diartikan sebagai upas. Masyarakat Bonokeling percaya bahwa upas terjadi karena ulah manusia merusak bumi dan lingkungan.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya