Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

5 Fakta Kue Apem, Makanan Tolak Bala dari Kraton Yogyakarta

5 Fakta Kue Apem, Makanan Tolak Bala dari Kraton Yogyakarta Ilustrasi kue apem. ©Shutterstock

Merdeka.com - Setiap tanggal 29 Rejeb, Kraton Yogyakarta menggelar acara Tingalan Jumenengan Dalem atau peringatan kenaikan tahta Sultan. Acara itu diawali dengan prosesiNgeblukdanNgapem.

ProsesiNgeblukmerupakan prosesi pembuatan adonan yang nantinya akan dimasak menjadi apem. SementaraNgapemmerupakan prosesi pemasakan apem yang dilakukan sehari setelah prosesiNgeblukdijalankan.

Dilansir dari Kratonjogja.id, apem yang telah masak itu kemudian dibagikan kepada kerabat, abdi dalem, serta keluarga Sultan keesokan harinya. Dalam tradisi Kraton, kue apem disimbolkan sebagai permohonan maaf dan ampunan.

Sementara dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, apem merupakan kue yang dibagikan pada warga sekitar sewaktu ada syukuran atau hajat lain. Berikut adalah 5 fakta sejarah kue apem, makanan tolak bala dari Kraton Yogyakarta.

Kue Legendaris

ilustrasi kue apem

Cookpad/Rhynrecipes

Kue apem merupakan makanan legendaris, salah satunya bagi masyarakat Gunung Kidul. Di daerah tersebut, kue apem selalu disajikan pada setiap upacara adat.

Dilansir dari Gunungkidulkab.go.id, Kue Apem merupakan salah satu kue basah yang enak dan lezat. Bahannya terbuat dari tepung kanji, tepung beras, kelapa muda, dan bahan-bahan lainnya.

Kue Buatan Para Ratu

tradisi ngapeman

kratonjogja.id

Dilansir dari Kratonjogja.id (16/4/2018) dalam acara Tingalan Jumenengan Dalem, apem dibuat oleh Permaisuri Sultan beserta para putrinya yaitu GKR Hemas, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu dan GKR Bendara.

Apem yang dibuat ratu dan putri-putri Sultan itu kemudian ditata hingga setinggi badan Sultan dan kemudian dibagikan kepada para pangeran dan petinggi-petinggi Kraton. Apem-apem yang dibuat ratu dan para putri Sultan itu disebut Apem Mustaka.

Adonan Apem

tradisi ngapeman

travelingyuk.com

Adonan yang akan dijadikan apem itu terdiri dari tepung beras, tape singkong yang telah dilumat, gula pasir, gula jawa cair, dan air yang kemudian dicampur ke dalam pengaron. Setelah tercampur dengan baik, adonan itu kemudian dimasukkan ke dalam dua enceh pusaka untuk didiamkan selama satu malam agar mengembang.

Prosesi pembuatan adonan apem itu dinamakanNgebluk. Dalam acara Tingalan Jumenengan Dalem,Ngeblukdilaksanakan selama satu jam di Bangsal Sekar Kedaton. Istilah Ngebluk sendiri berasal dari suara "bluk" yang ditimbulkan saat mencampuri adonan apem.

Kue Pengampunan

tradisi ngapeman

travelingyuk.com

Dilansir dari Fimela.com (12/1/2019), kata "Apem" sendiri berasal dari Bahasa Arab yaitu "affuan" atau "afuwwun" yang berarti pengampunan. Orang Jawa kemudian menyederhanakan kata itu dengan nama Apem sehingga dalam filosofi Jawa kue itu bermakna sebagai kue permohonan ampun dari segala kesalahan.

Di Jawa Barat, kue apem ini dimaknai sebagai kebersamaan dan tolak bala atau pengusir kesialan. Di daerah tersebut, kue ini dibagikan ke tetangga-tetangga dan dimakan bersama.

Dibawa dari Tanah Arab

tanah suci

2016 Merdeka.com

Dilansir dari Fimela.com (12/1/2019), kue apem sendiri berasal dari India. Di negeri asalnya, kue itu disebut "Appam".

Kue ini sendiri datang ke Indonesia dibawa oleh Ki Ageng Gribig dalam perjalanan pulang dari tanah suci. Ki Ageng Gribig sendiri merupakan keturunan Prabu Brawijaya.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP