3 Fakta Pohon Mentaok, Cikal Bakal Keberadaan Kota Jogja
Merdeka.com - Sebelum berdiri sebagai sebuah kota, Jogja di masa lalu hanyalah wilayah hutan belantara. Oleh masyarakat zaman dulu, hutan itu dikenal dengan nama Alas Mentaok karena di sana banyak ditumbuhi pohon bernama Mentaok.
Namun kondisi itu mulai berubah sejak Raja Kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya, menghadiahkan wilayah Alas Mentaok kepada Danang Hadiwijaya atas keberhasilannya membunuh Arya Penangsang. Sejak saat itulah hutan itu dibabat untuk dijadikan pusat Kerajaan Mataram Islam.
Kini, Pohon Mentaok semakin jarang ditemukan dan sudah tergolong tanaman langka. Namun keberadaannya masih bisa dijumpai di berbagai tempat.
Lalu seperti apa wujud dari pohon yang menjadi cikal bakal keberadaan Kota Jogja itu? Berikut selengkapnya:
Kondisi Fisik Pohon Mentaok

©Jogjaprov.go.id
Dikutip dari Jogjaprov.go.id, Mentaok merupakan jenis tanaman yang bisa tumbuh hingga ketinggian 35 meter dengan diameter 50 cm. Kulit batangnya berwarna abu-abu bercampur coklat hingga kuning kecokelatan.
Sementara itu, daunnya memiliki rambut halus di bagian permukaan dan pada bagian bawahnya menjadi sedikit kasar. Tak hanya itu, pohon itu memiliki buah berbentuk lonjong dengan kulit buah yang keras dan memiliki belahan pada bagian tengahnya.
Pemanfaatan Pohon Mentaok

©Jogjaprov.go.id
Kayu pada Pohon Mentaok memiliki tekstur yang halus, kuat, dan keras. Dengan kondisi itu, kayu tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan, pensil, instrumen musik, wayang, sarung keris, patung, perkakas rumah tangga, dan karya seni ukir.
Selain itu, getah Pohon Mentaok dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit disentri dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai obat radang mata. Pada masa kejayaannya dulu, kayu mentaok dimanfaatkan sebagai tiang pancang dermaga di sungai atau laut bagi para nelayan tradisional, konstruksi jembatan tradisional, serta benteng pertahanan yang sering dibangun pada pusat-pusat kerajaan di masa lampau.
Semakin Langka
Seiring waktu, keberadaan Pohon Mentaok sudah semakin langka dan sulit ditemukan. Dilansir dari Jogjaprov.go.id, beberapa lokasi yang masih dijumpai pohon ini adalah pada pegunungan karst di Gunungkidul, dan juga daerah-daerah lain di Asia seperti kawasan selatan China, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Selain itu, jenis pohon ini termasuk penghuni kawasan Hutan Musim seperti di wilayah Hutan Muson, semak belukar, hutan savana, dengan kondisi kering yang periodik maupun permanen. Dalam aspek ketinggian tempat, jenis tanaman ini dapat tumbuh dengan baik hingga ketinggian lebih dari 1.000 mdpl.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya