14 Desember: Hari Martir Intelektual, Peristiwa Pembunuhan Tragis di Bangladesh
Merdeka.com - Seperti diketahui, kemerdekaan yang didapat oleh setiap negara di dunia adalah hasil dari perjuangan besar yang dilakukan setiap bangsanya. Di mana bangsa dari negara-negara yang dijajah dan tertindas, berupaya sebaik mungkin untuk membela diri dari segala macam ketidakadilan para kolonial.
Bukan hanya membela diri, bangsa yang dijajah tidak segan-segan memberontak dan menyerang musuh untuk merebut kembali kehidupan yang merdeka. Sayangnya, setelah kemerdekaan kembali diraih, ini tidak sepenuhnya menjamin kebebasan bagi bangsa di negara tersebut. Seperti yang terjadi di Bangladesh, tepatnya pada 14 Desember 1971.
Pada 14 Desember 1971, terjadi peristiwa pembunuhan tragis yang dilakukan oleh tentara Pakistan terhadap kaum intelektual Bangladesh. Kaum intelektual ini adalah pemikir terbaik yang berkontribusi dalam bangsa Bangladesh dalam Perang Pembebasan untuk merebut kemerdekaan.
Bukan dalam jumlah kecil, tetapi 1.000 orang intelektual dibunuh dalam peristiwa ini. Tentu ini menjadi duka sekaligus kekecewaan mendalam bagi bangsa Bangladesh, di mana orang-orang tak bersalah kehilangan nyawa dalam cara yang tragis. Untuk mengenang peristiwa ini, masyarakat Bangladesh kemudian menetapkan 14 Desember sebagai peringatanHari Martir Intelektual setiap tahun.
Lalu bagaimana sejarahnya dan tujuan apa saja yang ingin dicapai dari peringatan ini. Dilansir dari National Today, berikut kami merangkum sejarah peristiwa 14 Desember Hari Martir Intelektual, bisa Anda simak.
Sejarah Hari Intelektual Martir
Kisah dibalik peristiwa 14 Desember 1971 sebagai hari tergelap dalam sejarah Bangladesh, dimulai setelah kemerdekaan India dari Inggris pada tahun 1947. Inggris meninggalkan negara ini dalam keadaan yang cukup hancur. Di mana anak benua ini terpecah menjadi dua negara, yaitu India dan Pakistan. Alasan perpecahan ini murni karena agama, di mana semua wilayah mayoritas muslim masuk ke dalam wilayah Pakistan.
Saat India mulai membangun fondasi republik sekuler, Pakistan tentu saja menghadapi dilema. Ketegangan meningkat antara kedua wilayah tersebut saat Pakistan Barat mencari kendali mutlak. Pakistan Barat menolak untuk menerima "Bengali" sebagai bahasa negara. Itu adalah awal dari penghinaan yang berkelanjutan terhadap orang Bengali dan budaya mereka. Konflik ini pun semakin menyebabkan kondisi ekonomi di dua wilayah tersebut menjadi sulit.
Kemudian, konflik memuncak pada Maret 1971, tepatnya pada proses pemilihan umum di Pakistan Timur. Partai Liga Awami yang berbasis di Pakistan Timur memenangkan pemilu. Namun, Partai Rakyat Pakistan (yang berbasis di Pakistan Barat) menolak menyerahkan kendali. Kekerasan pun terjadi. Tentara Pakistan Barat melakukan ofensif. Inilah yang awal mula terjadinya Perang Pembebasan Bangladesh.
Dari perang tersebut, pasukan Pakistan Barat mengalami kekalahan. Terpaksa menerima kekalahan tersebut, pasukan Pakistan Barat memberikan serangan terakhir yang melumpuhkan Pakistan Timur. Di mana pada 14 Desember 1971, tentara Pakistan Barat menculik puluhan intelektual Pakistan Timur dari rumah mereka.
Dengan sadis, tentara Pakistan Barat menyiksa dan membunuh lebih dari 1.000 orang, yaitu, guru, dokter, insinyur, jurnalis, pengacara, dan ilmuwan. Pasukan Pakistan menyerah dua hari kemudian, terbentuklah gerakan Bangladesh. Untuk memperingati peristiwa memilukan tersebut, kemudian ditetapkan Hari Intelektual Martir pada 14 Desember, demi menghormati pemikiran dari orang-orang luar biasa yang kehilangan nyawa mereka untuk Bangladesh.
Tujuan Hari Martir Intelektual
Setelah memahami sejarah 14 Desember yang diperingati sebagai Hari Martir Intelektual, terakhir akan dijelaskan tujuan apa saja yang ingin dicapai dari peringatan ini. Tujuan yang pertama, dengan peringatan ini bangsa Bangladesh ingin menunjukkan pada dunia, bahwa perang bisa dilakukan dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan cara kekerasan, perang bisa dilakukan dengan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat mendorong perubahan sosial menuju kebaikan. Seperti yang dilakukan oleh kaum intelektual Pakistan Timur, yang terlah berkontribusi dalam membangun gerakan Bangladesh merdeka.
Selain itu, peringatan ini juga diadakan untuk menghormati keluarga dari kaum intelektual yang berduka akibat peristiwa 14 Desember 1971. Meskipun tidak dapat mengurangi rasa kesedihan dan trauma yang dirasakan, namun dengan peringatan ini diharapkan para keluarga yang ditinggalkan mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat Bangladesh.
Tujuan yang terakhir dari peringatan ini tentu saja agar masyarakat tidak lupa dengan sejarah. Bahwa perjuangan besar yang dilakukan para pendiri bangsa harus terus dihargai, karena tanpa itu maka tidak ada negara yang merdeka. Dengan begitu, diharapkan generasi penerus dapat melanjutkan semangat juang para pendiri bangsa di dunia saat ini.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya