Dua Kasus Covid-19 Varian Arcturus Ditemukan di Jakarta, Gejalanya Seperti Pneumonia

Covid-19 Varian Arcturus di India memiliki gejala baru yang berbeda dari varian lainnya, yaitu mata merah dan peningkatan kotoran mata.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Dua Kasus Covid-19 Varian Arcturus Ditemukan di Jakarta, Gejalanya Seperti Pneumonia
Test Swab Covid-19. ©2020 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Dinas Kesehatan (DKI) mengungkapkan, temuan dua kasus Covid-19 subvarian Arcturus di Indonesia berdomisili di Jakarta. Kasus pertama, berdomisili di Jakarta Selatan dan yang kedua berdomisili di Jakarta Utara.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta dr Ngabila Salama mengatakan, varian Arcturus di India memiliki gejala baru yang berbeda dari varian lainnya, yaitu mata merah dan peningkatan kotoran mata. Namun, kedua kasus di Jakarta ini tak memiliki gejala mata merah.

“Saat ini kedua pasien Arcturus di Jakarta keduanya tidak mengalami mata merah. Tapi ada beberapa pasien Covid-19 perawatan di rumah sakit yang mengalami gejala mata merah. Sedang kami proses pemeriksaan genome sequencing,” kata Ngabila dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/4).

Kemudian, kata Ngabila, pasien kedua mengalami batuk kencang dan radang paru atau pneumonia. Maka dari itu, masyarakat yang memiliki gejala Covid-19 seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, hidung tersumbat dan sulit mencium bau, demam, mual dan muntah, disarankan untuk memeriksaan ke puskesmas kecamatan terdekat secara gratis.

“Layanan PCR di puskesmas DKI Jakarta disediakan gratis pada jam kerja untuk orang yang memiliki gejala Covvid (terduga) atau pun kontak erat kasus positif Covid-19. Ini untuk warga KTP atau domisili DKI Jakarta atau yang beraktivitas rutin di Jakarta baik sekolah atau bekerja,” jelas Ngabila.

Ngabila melanjutkan, Dinkes DKI akan memperkuat genome sequencing pada seluruh kasus positif Covid-19 di Jakarta untuk menemukan kasus Arcturus. Meskipun demikian, Ngabila meminta masyarakat untuk tidak panik dan tetap mejaga kesehatan.

“Cegah sakit tetap lebih baik dengan disiplin bermasker terutama jika sedang sakit atau berdekatan dengan orang sakit. Cegah kematian dan perawatan rumah sakit dengan lengkapi vaksinasi,” tambah Ngabila.

Sebelumnya, Kemenkes mengungkapkan temuan adanya dua kasus Arcturus di Indonesia pada Kamis (13/4).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus ini terjadi pada akhir Maret 2023.

Kini, keduanya sudah dinyatakan sembuh. "Iya kasus akhir Maret ya, semua sudah sembuh saat ini," kata Nadia.

Rekomendasi