Dokter Psikiatri Rumah Sakit (RS) Polri menyatakan pemeriksaan psikologi terhadap korban pelecehan dan perundungan MS, pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat telah lengkap. Demikian disampaikan kuasa hukum MS, Muhammad Mualimin
"Alhamdulillah usai pemeriksaan psikis ke-6 kemarin, Kamis (14/10). Tim Dokter psikiatri forensik RS Polri menyatakan pengambilan keterangan MS dan keluarganya (istri, ibu, kakak) sudah cukup," kata Mualimin dalam keterangannya, Selasa (19/10).
Alhasil, Mualimin menyampaikan pula kliennya tidak perlu menjalani pemeriksaan selanjutnya yang maksimal dijalankan hingga 14 kali pertemuan seperti perkiraan awal tim dokter psikiatri.
"Kita tahu, setiap pemeriksaan MS menangis, mengalami kambuh trauma, dan guncangan emosi akibat pertanyaan yang berulang ulang mengenai kejadian penelanjangan dan pencoretan alat kelamin," ujarnya.
"MS tak sanggup mengingat, apalagi menceritakan pelecehan seks yang baginya sungguh sangat memalukan dan menjatuhkan martabat dirinya sebagai manusia, pria, dan kepala rumah tangga," tambahnya.
Mualimin mengatakan atas berakhirnya pemeriksaan psikis oleh tim dokter yang berjumlah 4 orang perempuan dan 1 pria. Maka dari beberapa hari pemeriksaan akhirnya kesimpulan atas kondisi kejiwaan MS pun telah rampung dan diserahkan ke Polres Metro Jakarta Pusat.
"Kesimpulan dan catatan akhir dari Tim Dokter selanjutnya langsung diserahkan ke Penyidik Polres Jakarta Pusat untuk dijadikan dasar bertindak memproses laporan pelecehan seks dan perundungan di KPI," tuturnya.
Dengan adanya hasil tersebut, Mualimin berharap hasilnya objektif dan meyakinkan agar penyidik segera menaikkan status kasus menjadi penyidikan dan para terlapor segera dimintai keterangan lebih lanjut.
Sebelumnya, kasus pelecehan dan perundungan yang dialami MS oleh sesama rekan pegawai KPI yang saat ini telah ditangani Polres Metro Jakarta Pusat. Dimana kasus mencuat setelah sepucuk surat yang menceritakan MS alami alami pelecehan dan perundungan sepanjang 2012-2014.
"Selama 2 tahun saya dibully dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama sama mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya. Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tapi mereka secara bersama sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh."
MS yang bekerja di kantor KPI Pusat sejak 2011 juga mengaku dipukul, dimaki dan direndahkan terus menerus dan berulang-ulang sehingga merasa tertekan, stres dan sakit.
"Puncaknya pada tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencorat-coret buah zakar saya memakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat? Sindikat macam apa pelakunya? Bahkan mereka mendokumentasikan kelamin saya dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online," tuturnya.
"Pelecehan seksual dan perundungan tersebut mengubah pola mental, menjadikan saya stres dan merasa hina, saya trauma berat, tapi mau tak mau harus bertahan demi mencari nafkah. Harus begini bangetkah dunia kerja di KPI? Di Jakarta?" imbuhnya.