Anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri dan Polres Metro Jakarta Utara menangkap seorang terduga teroris berinisial MA (21) di Kampling Tipar Timur, Kecamatan Cilincing, kemarin. Keluarga sempat syok tak percaya dengan penangkapan MA.
Camat Cilincing, Muhammad Alwi, akan memberikan pendampingan pada keluarga yang mengalami trauma pascapenangkapan MA.
"Kita lihat situasi di lapangan, saat ini kan masih pengawasan kepolisian, setelah tenang nanti kita coba pendekatan kepada pihak keluarga dan bapaknya supaya tidak terbebani dan jadi pikiran," kata Alwi, di Jakarta, Selasa.
Alwi mengatakan, kejadian penangkapan teroris di wilayah Semper Barat sebagai bentuk kelalaian pihaknya kurang melakukan pengawasan mencegah terorisme.
Ia menganggap, selama ini wilayahnya aman-aman saja dari kegiatan menyimpang seperti terorisme.
Terduga teroris MA (21) diketahui sebagai warga setempat yang lahir dan tinggal Kampling Tipar Timur, RT 13 RW 4, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing.
Warga setempat mengenal terduga sebagai sosok pemuda yang pendiam, kurang bergaul tapi rajin beribadah. "Prihatin dengan kejadian ini, kelalaian kami barang kali dalam hal pengawasan terorisme, " kata Alwi.
Menurut Alwi, kejadian itu sempat membuat kaget warga meski kini situasi sudah normal kembali.
"Kalau ada anggapan di sana lingkungan teroris, tidaklah, warga sudah menyampaikan mereka punya kebersamaan yang sudah terjalin lama, sehingga warga tidak akan memandang orang tua terduga sebagai teroris," kata Alwi.
Sebelumnya, orang tau terduga Abdul Ghani (69) mengaku trauma dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Ia tidak menyangka anaknya yang dikenalnya pendiam, penurut dan tidak banyak mau dan jarang bergaul, tersangkut kasus terorisme.
MA merupakan putra Abdul Ghani, anak kesembilan dari 11 orang bersaudara. "Orang-orang akan melihat saya sebagai bapaknya teroris, jujur saya trauma dengan kejadian ini," kata Abdul, Senin (23/9).