Kampung Luar Batang memanas, Ahok hingga Sekda DKI diusir

Warga hanya menginginkan perbaikan dan penataan lingkungan, bukan diusir.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kampung Luar Batang memanas, Ahok hingga Sekda DKI diusir
kebakaran rumah warga di Luar Batang. ©2016 Merdeka.com

Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, menggusur kawasan Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, terus menuai polemik. Warga yang menolak direlokasi terus melakukan perlawanan agar penertiban itu tak jadi dilakukan.Penolakan warga salah satunya dengan melayangkan gugatan ke Pengadilan Tinggi Usaha Negeri (PTUN). Tak main-main, warga menunjuk pengacara kondang, Yusril Ihza Mahendra, untuk mengawal gugatan tersebut.Gugatan itu membuat penertiban kawasan Luar Batang, yang semula dilakukan Mei ini, ditunda Pemprov DKI. Namun, Pemprov DKI, terus melakukan beragam cara agar warga mau direlokasi dari Luar Batang.Salah satunya mengutus Sekretaris DKI, Saefullah, untuk berdiskusi dengan warga agar mau direlokasi dari Luar Batang. Saefullah memang ditunjuk langsung Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja (Ahok), sebagai juru lobi warga agar mau direlokasi.Statusnya sebagai ketua PBNU dan ketua dewan masjid Jakarta, dianggap Ahok bakal jitu merayu warga. Namun prediksi tersebut meleset.Saefullah yang datang ke kawasan Luar Batang, Senin (2/5) malam, dikabarkan diusir warga. Kedatangan wali kota Jakarta Pusat periode 2005-2008 itu, dianggap sebagai bentuk provokasi warga.

Sekretaris Masjid Luar Batang, Mansur Amin, mengatakan, kejadian itu berawal ketika kedatangan Saefullah tanpa diketahui pengurus masjid, RT, RW dan Tokoh Masyarakat Luar Batang. Menurut Mansur, kedatangan Saefullah setelah bersama pengurus masjid, ketua RT, RW dan tokoh masyarakat Luar Batang, usai melakukan rapat terkait penggusuran Masjid Luar Batang di Kantor Camat Penjaringan, Jakarta Utara.Dalam pertemuan itu dari pihak Pemprov DKI Jakarta hadir Saefullah, Plt Wali Kota Jakarta Utara Wahyudi, Camat Penjaringan Abdul Khalit dan Lurah Penjaringn Suranta. Sementara perwakilan Luar Batang yakni RW 1, 2, 3 dan 4."Dalam pertemuan tersebut Sekda Saefulloh berbicara berbeda dengan apa yang selama ini dikabarkan pihak Kecamatan Penjaringan kepada Ketua Masjid, Ketua-ketua RW dan Ketua-ketua RT," ujar Mansur.Mansur menambahkan, dalam pertemuan itu, Saefulloh menegaskan Masjid Luar Batang tetap akan dilakukan penggusuran termasuk pembangunan plaza di sekitar masjid, serta akan dibangun jalan-jalan besar sebagai kesatuan dari Kota Tua sampai Luar Batang. Menurut Mansur, mendapat penjelasan itu warga yang ikut rapat geram."Pengurus masjid, ketua-ketua RW, ketua-ketua RT dan tokoh masyarakat yang mendengarnya kaget dan protes serta menolak, seraya menyampaikan bahwa soal urusan hukum pihak warga tidak akan memberikan jawaban. Sebab soal hukum sudah dikuasakan kepada pihak Profesor Yusril," kata Mansur.Saat selesai Rapat, wali kota Jakarta Pusat periode 2008-2014 itu menyampaikan keinginannya untuk meninjau Kampung Luar Batang dan ke Masjid Keramat Luar Batang untuk memberikan bantuan uang sebesar Rp 1 miliar dan seragam bagi marbot masjid.Namun keinginan itu ditolak pengurus masjid, seraya menyarankan supaya Saefullah tidak usah datang ke Kampung Luar Batang dan juga ke Masjid mengingat waktu yang sudah malam dan kondisi kampung sedang tegang pasca penggusuran Aquarium, Pasar Ikan. Warga pun pun pergi meninggalkan Kecamatan Penjaringan dan melanjutkan pertemuan di rumah Ketua RW 02."Rupanya tanpa sepengetahuan pengurus masjid dan RT, RW serta tokoh masyarakat, Sekda nyelonong datang ke Kampung dan Masjid Luar Batang, di mana pada saat itu ketua masjid, RT, RW dan tokoh masyarakat sedang melakukan pertemuan lanjutan di rumah bapak ketua RW 02," kata Mansur.Warga yang melihat langsung bereaksi dan berupaya melakukan pengusiran terhadap ketua Dewan Masjid Indonesia DKI Jakarta itu, beserta rombongannya. Kemudian, warga mendapat laporan terjadi ketegangan akibat kedatangan rombongan Sekda, saat sampai di lokasi kondisi sudah memanas pengurus masjid dan RT, RW serta tokoh Masyarakat langsung mengamankan Sekda dan rombongannya agar terhindar dari amuk massa yang lebih buruk."Pengurus masjid, RT, RW dan tokoh masyarakat merasa kecolongan dan sangat menyesali tindakan Sekda yang tidak mengindahkan saran mereka dan dianggap cenderung memprovokasi. Pengurus masjid, RT, RW, tokoh masyarakat menduga bersikerasnya Sekda ini sudah by design agar ada legitimasi bagi Ahok untuk menyudutkan masyarakat Kampung Luar Batang dan ada alasan untuk mendatangkan pasukannya ke Kampung Luar Batang," kata Mansur.Camat Penjaringan Abdul Khalit pun dikabarkan diusir warga. Sementara seorang petugas satuan polisi pamong praja juga dikabarkan menjadi korban amukan warga hingga mengalami sejumlah luka.

Pengusiran itu pun dipertanyakan Ahok. Sebab, Ahok menilai anak buahnya itu sudah pernah bertemu dengan pengurus masjid.Kemudian, rencana Pemprov DKI terhadap kawasan Luar Batang sudah sangat jelas menguntungkan mereka. Dia menegaskan pihaknya hanya akan menata kembali, bahkan mempercantik kawasan itu."Di bolak-balik, Sekda jelas kok sudah ngomong mau rapihin PKL mau kasih marbot, petugasnya kasih baju, itu kan tempat wisata religi. Kalau kamu enggak ada pegawai yang bersih kita nggak tahu mana orang luar mana enggak. Makanya kalau kayak gini kan susah," ujar Ahok.Saefullah sendiri membantah membawa uang Rp 1 miliar untuk diberikan kepada pengurus Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Dirinya mengaku hanya ingin memberikan bantuan seragam untuk marbot dan pengurus masjid."Enggak ada uang satu miliar. Pak Gubernur tadi juga tanya bilang satu miliar. Ada juga saya bawa Rp 20 juta, itu juga baru ambil gajian," kata dia.Dia juga menegaskan dirinya tak mengalami kekerasan oleh warga saat datang ke kawasan Luar Batang. Dipastikannya pula, mobil dinas yang ditumpangi tak ada kerusakan."Mobil enggak ada. Saya pakai mobil dinas, ini malah mobil dinas enggak apa-apa. Tuh ada di bawah," ujar dia.Menurut dia, bantuan untuk masjid termasuk Masjid Luar Batang adalah hal biasa sebagai hibah Pemprov DKI. Jika memang mereka berkenan, pada pembahasan APBD P 2016 dapat dianggarkan lebih dari Rp 1 miliar."Besaran bisa lebih dari Rp 1 miliar, tinggal usulanya. Kan ada tim pertimbangan lagi," kata Saefullah.

Kuasa hukum warga Kampung Luar Batang, Yusril Ihza Mahendra, meminta agar Pemprov DKI tidak memaksakan kehendak untuk menggusur penduduk atau warga di Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Yusril menilai Pemprov DKI harus menahan agar dapat mendinginkan suasana di Kampung Luar Batang agar tidak mengarah kepada hal-hal yang tidak diinginkan."Permintaan ini karena saya tahu dialog perwakilan warga dengan Sekda DKI Saefullah di Kantor Camat Penjaringan tadi malam tidak berhasil. Bahkan Sekda memaksakan diri datang untuk menyerahkan bantuan uang Rp 1 miliar namun kedatangannya ditolak warga," ujar Yusril.Kedatangan Sekda, menurut Yusril, menimbulkan insiden pemukulan terhadap seorang anggota Satpol PP yang mengawal Saefullah. "Warga hanya menginginkan perbaikan dan penataan lingkungan, bukan mengusir mereka dari kampung yang mempunyai situs penyebaran Islam dan sudah ada sejak lebih dari 300 tahun silam itu," tukasnya.

Rekomendasi