Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dikenal tegas dan keras. Dalam bekerja pun, dia mau anak buahnya bisa melakukan sesuatu dengan cepat.Bawahan yang tak bisa mengikuti ritme kerjanya, pasti akan disentil sekalipun di depan khalayak ramai. Bila memang tak bisa ditolerir, dia akan memecat dan menggantinya.Banyak yang mengkritik gaya kepemimpinan pria akrab disapa Ahok. Ahok dinilai gampang tersulut emosi dan mengeluarkan kata-kata kasar.Sebagai pimpinan, Ahok juga dianggap tak bisa mengayomi anak buahnya. Padahal sebagai pemimpin, Ahok dinilai harus merangkul bawahannya agar program kerja tercapai dengan baik.Sepekan lalu, akibat gaya bicara Ahok yang ketus, Rustam Effendi, memilih mundur sebagai wali kota Jakarta Utara. Dalam rapat bersama SKPD, Ahok menyebut Rustam sebagai pendukung bakal calon gubernur DKI, Yusril Ihza Mahendra. Sehingga apa yang diperintahkan, enggan dikerjakan.Tak sampai di situ, Ahok juga menyebut Rustam pejabat yang doyan main golf. Hobi golf itu tak sebanding dengan kinerja Rustam.Gerah dengan berbagai tuduhan Ahok, Rustam memutuskan mundur. Sebelumnya, Rustam lebih dulu curhat di akun Facebook nya menanggapi sikap Ahok."Intinya menurut saya apa yang disampaikan oleh pak gubernur itu bahwa pak gubernur menilai kinerja saya masih kurang, nah kalau sebagai bawahan dinilai atasan kinerjanya masih kurang, saya berpikir ya sudah saya mengundurkan diri saja," jelas Rustam di kantor Wali Kota Jakarta Utara, Selasa (26/4).Dia juga menjelaskan jika pengunduran dirinya disampaikan langsung ke Ahok, kemarin sore. "Saya menghadap pak gubernur, saya didampingi oleh kepala BKD Provinsi DKI Jakarta, Agus Suradika," tuturnya.
Advertisement
Sebelum Rustam, tercatat ada beberapa pejabat eselon II yang mengundurkan diri. Dengan berbagai alasan, kesehatan hingga ingin bergabung di partai.Sekda DKI Saefullah, sebagai pejabat yang paling bersinggungan dengan Ahok juga memberi penilaiannya. Saefullah sudah setahun lebih menjadi Sekda DKI terhitung sejak Januari 2015 lalu.Saefullah mengatakan, selama ini tak kesulitan dan cocok mengikuti ritme kerja Ahok. Dia mengklaim tak punya kepentingan apapun atas jabatannya sehingga selama bekerja dengan Ahok hampir tak ada masalah berarti."Kalau saya dengan siapapun oke-oke saja, karena enggak ada kepentingan, dengan siapapun saya merasa cocok," kata Saefullah di Balai Kota, Jakarta, kemarin.Saefullah tak masalah dengan gaya kepemimpinan Ahok meskipun sering dikritik. Menurutnya, selama kebijakan Ahok itu positif bagi warga Jakarta dia akan terus mengikutinya."Kalau saya, saya anggap sepanjang itu positif, mengandung kebenaran yang universal bermanfaat buat orang banyak bagi saya enggak ada masalah," tegas pejabat eselon I DKI itu.Sebagai bawahan, dia juga tak segan menyampaikan keluhan pada Ahok terkait cara kerja cepatnya. Mantan wali kota Jakarta Pusat ini meminta kepada Ahok untuk sedikit menurunkan tensi kerja karena sulit diikuti anak buahnya."Pernah saya bilang sama beliau, bapak ini kan lahir sudah dengan kecukupan, gizinya cukup, sekolahnya benar, kuliahnya benar, dengan gizi yang cukup. Tentu punya power yang cukup , kecepatan berpikir yang cukup gitu kan, waktu itu saya bilang, Pak agak pelan sedikit," bebernya."Karena kita-kita ini kan, saya lah, anak singkong, sekolahnya juga ala kadarnya, berpikirnya juga mungkin seadanya, jadi mungkin agak pelan sedikit," sambungnya.Sayangnya, bukannya mendengarkan keluhan itu, Ahok justru meminta anak buahnya lah yang mengikutinya. Dia enggan untuk menurunkan ritme kerjanya dan berkeras melaju kencang dalam memimpin Jakarta."Terus beliau dalam pidatonya bilang, saya diminta sama sekda agak sabar, agak pelan, saya mau kenceng aja nih. Jadi kalau soal penyesuaian, bawahan lah yang harus menyesuaikan diri dengan pimpinan. Bukan pimpinan yang harus menyesuaikan dengan bawahan," pungkasnya.