Kong Salim dan jejak pendekar silat paseban dari Depok

Dia tidak pernah beradu kesaktiannya dengan pendekar dari perguruan silat lainnya.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Kong Salim dan jejak pendekar silat paseban dari Depok
Engkong Salim pendekar Depok. ©2016 Merdeka.com

Rambut di kepalanya sudah tipis dan memutih, termakan usia yang kini menginjak 80 tahun. Tubuhnya tak renta meski usianya sudah senja. Bahkan dia masih aktif mengajarkan pelbagai jurus silat paseban lama di kediamannya, Jalan Kencana I Kebon Duren, Depok.

Namanya Salim bin Sanin, tapi dia lebih akrab disapa Engkong (kakek) Salim. Murid-muridnya rela datang dari penjuru daerah untuk belajar silat Paseban pada Engkong Salim. Latar belakang muridnya pun beragam, mulai dari karyawan, pejabat hingga profesor.

"Profesor juga ada yang belajar kemari. Kalau saya bukan murid ngikutin guru, tapi guru ngikutin murid. Kalau enggak gitu berantakan," cerita Kong Salim saat merdeka.com berkunjung ke rumahnya akhir pekan lalu.

Tapi, untuk saat ini Kong Salim tak lagi mengajarkan silat paseban ke anak-anak. Dia khawatir ilmu yang ditransfer tidak terserap dengan baik karena anak-anak lebih sering bercanda saat latihan. Apalagi orang yang mempelajari silat paseban diwajibkan mengedepankan dzikir.

"Paseban lebih ke dzikir. Kan kalau yang lain lebih ke panggil ini panggil itu. Dzikir dari Al-Quran setiap salat. Kalau latihan enggak dzikir. Kalau banyak dzikir kan artinya salat-nya bagus," kata Kong Salim.

Kong Salim mempelajari silat Paseban saat masih bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) atau setara Sekolah Dasar (SD). Gurunya saat itu Mama Saleh, sebagai pencipta silat Paseban yang lahir di Gang Kenari, Paseban, jakarta Pusat. Dari sekian banyak murid Mama Saleh, hanya Kong Salim yang masih hidup dan meneruskan mengajarkan silat Paseban.

Murid Mama Saleh bertugas mengembangkan dan memperkenalkan silat aliran Paseban. Salah satunya Kong Salim yang mengaku mengembangkan aliran Paseban lama di Depok sejak 1980, saat dia masih berstatus PNS salah satu BUMN transportasi, PT Kereta Api Indonesia.

Ada enam jurus yang dipelajari silat paseban. Namun tidak ada nama khusus seperti kebanyakan jurus di aliran silat lain. Meski ilmunya cukup tinggi, dia mengaku hanya menggunakannya untuk mewarisi budaya silat pada generasi muda. Dia tidak pernah beradu kesaktiannya dengan pendekar dari perguruan silat lainnya. "Kalau saya, selama belajar ini belum pernah ribut sama orang."

Dalam pemahamannya, ilmu silat bukan untuk bela diri, melainkan menjaga diri. Baginya, dua kata itu memiliki arti bertolak belakang.

"Kalau umpamanya dateng ya disiapin kalau enggak ada ya udah kita enggak buat gara-gara. Saya belajar ini buat jaga diri bukan bela diri. Kalau jaga diri kita harus hati-hati gitu kalau saya, enggak tahu kalau yang lainnya," katanya.

Kong Salim hanya memiliki satu anak yang memang tidak begitu tertarik dengan mengikuti jejak ayahnya. Karena itu Kong Salim tidak mewariskan ilmu silat paseban kepada darah dagingnya sendiri.

"Tiap orang kan beda-beda. Anak saya enggak mau alasannya bukan mau jadi jawara katanya. Enggak hobilah. Saya sebenernya sudah cape cuma kan kalau ada (murid) masak saya tolak. Anak saya enggak hobi jadi susah,” cerita Kong Salim.

Atas perhatiannya pada keberlanjutan silat paseban, Kong Salim mendapatkan penghargaan sebagai pelestari budaya yang diberikan oleh Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia.

Rekomendasi