Asal usul Metro Mini, dulu bergengsi kini rawan kecelakaan

Cikal bakal hadirnya Metro Mini di Jakarta bermula pada tahun 1960-an. Saat itu, di Jakarta akan menggelar Ganefo.

Lia Harahap
Oleh Lia Harahap - Reporter
Asal usul Metro Mini, dulu bergengsi kini rawan kecelakaan
Metromini. ©2015 Merdeka.com

Metro Mini adalah salah satu dari sekian banyak angkutan umum yang beroperasi di Jakarta saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman, Metro Mini kini sangat berbeda dengan dahulu.Angkutan jenis bus sedang itu kini banyak yang sudah tak laik jalan. Belum lagi bila melihat sopir yang mengemudikan, semakin menegaskan angkutan itu tak pantas lagi dipertahankan di Ibu Kota.Secara fisik, bodi minibus berwarna merah dan biru itu banyak yang sudah karatan. Bahkan untuk posisi kemudi, mayoritas sudah hancur, hanya tertinggal setir dan kursi. Kadang pula persneling ada yang diikat dengan tali.Sopirnya, jangan harap bisa menemukan yang benar-benar siap menjadi pengemudi. Kebanyakan sopir Metro Mini adalah ABG yang emosinya cenderung labil. Bila penumpang sedikit, mereka siap beradu kencang dengan sesama Metro Mini yang menyalip.Begitulah buruknya wajah angkutan yang pernah jadi primadona di masanya. Lalu bagaimana cerita awal Metro Mini bisa ada di Jakarta?

Dikutip dari sejumlah sumber, ternyata cikal bakal hadirnya Metro Mini di Jakarta bermula pada tahun 1960-an. Saat itu, di Jakarta sedang ada kegiatan pekan olahraga Games of the New Emerging Forces (GANEFO).Saat itu, Presiden Soekarno meminta pemerintahan daerah untuk menyiapkan angkutan sejenis bus sebagai sarana transportasi pada atlet. Sementara saat itu, di Jakarta masih ada oplet dan tak cukup mengangkut para atlet. Akhirnya lewat Wakil Gubernur Henk Ngantung memerintahkan beberapa perusahaan seperti Arion untuk menyediakan bus.Setelah event olahraga itu selesai, ternyata perusahaan beberapa bus mengaku tak bisa mengelola. Kemudian sekitar tahun 1976, oleh Gubernur Ali Sadikin perusahaan bus itu dibuat menjadi PT dan diberi nama PT Metro Mini. Saat itu, Metro Mini sudah ada seribuan bus.Dalam perjalanannya, manajemen PT Metro Mini mengalami masalah. Bahkan di Agustus 2013 lalu, Kantor PT Metromini yang berlokasi di Jalan Pemuda, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur, digeruduk ratusan sopir Metro Mini se-Jakarta. Pengerusakan kantor tersebut karena kantor diduduki preman dari kelompok tertentu."Tempat ini suka dibuat mesum, buat make narkoba, buat maksiat," ujar Direktur Utama PT Metromini terpilih Novriadi, di lokasi kejadian, Kamis (1/8).

Novriadi menceritakan, para sopir bertindak anarkis juga lantaran diduga bermotif masalah kekisruhan di internal kepengurusan PT Metromini. Di mana awalnya Dinas Perhubungan DKI Jakarta berdasarkan Surat Keputusan tanggal 23 Februari 1993 menunjuk Halomoan Pandjaitan sebagai Direktur Utama Metromini."Kemudian terjadi perpecahan di internal PT Metromini. Saya kemudian ditunjuk sebagai Direktur Utama pada tahun 2013 melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) dan mendapat persetujuan dari Mahkamah Agung (MA)," paparnya.Dikatakan Novriadi, setelah diputuskan oleh Dinas Perhubungan, dirinya tidak bisa berkantor di gedung tersebut karena dijaga preman dari pihak Halomoan."Ini terjadi karena kekesalan terhadap orang yang tidak jelas menguasai kantor ini. Sehingga amarah sopir tidak dibendung," terangnya.Pihaknya mengklaim, kepengurusan yang mengelola Metromini saat ini tidak memenuhi harapan lantaran. "Selama tiga tahun ini, kami sulit mengurus semuanya, dari surat-surat maupun peremajaan. Karena itu tadi kantor ini seperti tidak difungsikan," jelasnya.Menurutnya selama terjadinya kisruh internal membuat keadaan Metro Mini jadi bobrok dan tidak ada pelayanan.

"Mobil Metro Mini kita dikandangin sudah hampir seratus lebih karena masalah KIR tidak lolos dan banyak yang ditangkap-tangkapin," tandasnya.Sekadar diketahui, selama ini terjadi dua kubu yang mengatasnamakan manajemen resmi PT Metro Mini. Perpecahan PT Metromini kemudian semakin kacau saat rapat pemegang saham (RUPS) pada 1995 karena dilakukan pemilihan pengurus baru. Pengurus angkatan '93 kemudian menggugat pengurus '95 ke PN Jakarta Timur dan dimenangkan oleh pengurus awal.Pengurus baru yang tidak terima lalu melakukan gugatan balasan. Maka melalui putusan nomor 2779 K/Pdt/2011, Mahkamah Agung mengharuskan PT Metromini melaksanakan RUPS Luar Biasa. Namun, hingga saat ini permasalahan tersebut tidak menemukan titik temu. Sehingga menyebabkan pemilik saham pun mengelola sendiri armada yang tidak layak jalan."Yang paling bener mereka yang kami tunjuk. Kita nggak mau tau. Sesuai dengan putusan hukum, Biro Hukum cuma kaji," jelas Ahok menanggapi kisruh manajemen Metro Mini.Seiring berjalannya waktu, hingga dewasa ini, Metro Mini semakin bobrok. Semakin banyak Metro Mini ugal-ugalan yang berakhir dengan kecelakaan.

Tak terhitung berapa banyak kasus kecelakaan akibat ulah sopir Metro Mini yang begitu brutalnya mengendarai mini bus mereka.Terakhir, kasus kecelakaan Metro Mini terjadi pada Minggu kemarin yang menerabas perlintasan kereta api dan menyebabkan 18 penumpangnya tewas setelah terdorong KRL yang melintas.Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit, mengatakan manajemen armada yang buruk dan pola bisnis yang penuh persaingan tak terkendali 'unregulated competition' menyebabkan Metro Mini mengalami degradasi pelayanan. Terlebih lagi setelah sistem setoran menjadi praktik operasi."Kepemilikan individu dengan pola perizinan kolektif semakin mempersulit Metro Mini diatur. Sistem ini menjadikan pemilik tidak bisa membarukan kendaraan. Gagal beroperasi dengan keselamatan terkendali dan tidak bisa dikelola pemerintah," katanya kepada merdeka.com, Senin (7/12) malam.Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pun sudah menawarkan mereka untuk bergabung dalam wadah PT Transjakarta untuk mempermudah pengawasan. Tapi tawaran itu ditolak.Kini setelah makin banyak nyawa melayang karena Metro Mini ugal-ugalan, beranikah Ahok menindak tegas memberangus semua minibus berwarna merah dan biru itu dari Jakarta? Kita tunggu saja nyali Ahok.

Rekomendasi