Fakta-fakta kekejaman Agus cabuli dan habisi Neng

Berdasarkan pengembangan, Agus terindikasi mengidap paedofil.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Fakta-fakta kekejaman Agus cabuli dan habisi Neng
Pembunuhan bocah dalam kardus. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Neng (9) putri dari pasangan Asep Saepuloh dan Ida Fitriyani dibunuh secara tragis oleh Agus di Kampung Kamal, Kalideres, Jakarta Barat. Pelaku menyumpal mulut korban menggunakan singlet serta potongan kain yang diduga robekan seragam sekolah korban hingga korban tewas.Neng dikabarkan hilang sejak Jumat siang (2/10) dan ditemukan tewas pada pukul 22.30 di hari yang sama. Selang sehari setelah jenazah Neng ditemukan, polisi langsung mengerahkan anjing pelacak ke sekitar lokasi guna menyelidiki kematian siswi kelas 4 SD itu. Hasilnya, anjing tersebut mengarah ke warung yang juga menjadi tempat tinggal Agus. Dia pun diciduk sebagai saksi bersama sejumlah warga lainnya.Direskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti mengatakan, Neng dicabuli terlebih dahulu kemudian dibunuh saat gadis kecil ini pulang sekolah dan melintasi warung milik pelaku."Lalu ia memanggil Neng untuk masuk ke dalam warung, setelah itu ia menyumpal mulut korban menggunakan kaos kaki dan diikat kabel charger HP," ujarnya.

Krishna menjelaskan, Agus membuka celana Neng dan memerkosanya. Masih belum puas, Agus melukai anus korban. "Agus menjerat leher korban menggunakan kabel listrik hingga meninggal dunia, kemudian kaki korban dilakban dengan badannya," tambahnya.Setelah itu, Neng dibungkus dengan kardus beserta jilbab warna putih. "Agus membuang kardus berisi mayat Neng di jalan yang menghubungkan Kamal dan Kalideres dan berjarak 7 kilometer dari TKP pembunuhan" jelasnya.Berdasarkan pengembangan, Agus terindikasi mengidap paedofil. Banyak bukti yang membuktikan bahwa dia mempunyai sikap seksual yang menyimpang. "Dari kajian akademis, terjadi persetubuhan paksa. Pelaku mempunyai (perilaku seks menyimpang) paedofil," kata Krisna.Indikasi paedofil sudah terlihat dari ciri-ciri Agus yang hidup sendiri dan senang mengumpulkan anak-anak main di rumahnya. Tidak sedikit, anak-anak yang pernah bermain di rumahnya menjadi korban pelempiasannya."Yang pertama single, tinggal sendiri, suka dekat dengan anak-anak. Umumnya deket dengan calon korban." Imbuh dia, "Pelaku mengalami gangguan pada psikoseksual."

Dalam proses pengungkapan kasus pembunuhan Neng, polisi mengaku sempat mengalami kesulitan lantaran lokasi penemuan jenazah korban yang cukup sulit mendapatkan bukti-bukti untuk menemukan jejak pelaku."Hambatan, minimnya saksi. Keluarga korban baru bisa diperiksa tiga hari setelah berkabung. TKP pembuangan jauh. Masa pencabulan, anak-anak mereka tidak bisa bicara kepada orang-orang yang tidak bisa dipercaya," ungkap Khrisna.Gara-gara kesulitan menemukan bukti-bukti awal tersebut, polisi sempat salah tempat. Meski begitu, penyidik telah mewawancarai 100 orang saksi di sekitar lokasi penemuan jenazah Neng maupun sekitar tempat tinggalnya.Mencoba menutupi jejak, Agus diketahui sempat membakar sejumlah barang bukti yang bisa menjeratnya. Kondisi itu membuat penyidik kesulitan menetapkan Agus sebagai tersangka. "Barang bukti dibakar oleh pelaku. Buku pelajaran, kaos kaki, baju seragam, kabel casan untuk menggorok leher korban," tandasnya.Hal tersebut tidak membuat polisi berdiam diri. Perlahan muncul pengembangan baru bahwa tersangka Agus ternyata tengah berada di bawah pengaruh Narkoba, saat memperkosa dan membunuh korban. "Tersangka A mengaku sebelum membunuh PNF, mengonsumsi cairan bekas sabu. Setelah meminum cairan tersebut, barulah A memerkosa dan membunuhnya," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian. Tersangka juga menuturkan bahwa dirinya dalam kondisi tidak sadar saat melakukan pembunuhan tersebut. "Tapi, ketika menghilangkan barang bukti pelaku mengaku sadar melakukan itu."

Rekomendasi