Wajah Waduk Pluit kini dipenuhi eceng gondok. Padahal sudah lebih dari sebulan mesin penghancur eceng gondok, felon sudah bekerja membersihkan eceng gondok.Hingga saat ini waduk yang memiliki luas 80 hektare itu masih dihiasi eceng gondok yang seakan semakin akrab dengan waduk tersebut. Hal ini disebabkan, tingkat kembang biak eceng gondok lebih tinggi dibandingkan daya angkut petugas kebersihan. Apalagi hanya ada satu felon untuk membersihkan waduk yang berada di utara Jakarta itu.Tanaman eceng gondok hampir menyelimuti permukaan Waduk Pluit. Mayoritas tanaman air itu berkembang di sisi barat waduk. Sementara di bagian tengahnya, tampak dangkal dipenuhi endapan lumpur.Di waktu yang sama, satu unit felon beroperasi dengan kecepatan sekira 10 km/jam. Alat yang dibuat dari negeri Tiongkok seharga Rp 2,5 miliar itu berputar mengelilingi permukaan Waduk Pluit. Bukan hanya felon, terdapat dua ekskavator tipe long di sisi barat waduk. Hanya saja, kedua alat berat itu tidak beroperasi saat itu.Salah seorang penjual minuman ringan di dekat Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Tasbin (45) mengatakan, sudah tiga pekan ini petugas kebersihan mengangkut eceng gondok. Tanpa hari libur, mereka beroperasi dari pukul 07.00-16.00 WIB."Setiap hari felon ditumpangi oleh empat petugas kebersihan. Satu orang yang jadi gerakin itu alat, tiga orang lagi bantuin ngerapihin sampah yang telah diangkut di bak berkapasitas 4 kubik," ujar Tasbin, Selasa (1/7).Tasbin mengatakan, sebetulnya eceng gondok di Waduk Pluit bisa lebih cepat dibersihkan apabila dua ekskavator beroperasi optimal. Seingatnya, dua operator alat berat itu hanya bekerja ketika seorang pengawas ada di tempat."Kalau ada pengawasnya, dua operator itu biasa ngangkutin eceng gondok. Tapi sekarang karena nggak ada pengawas, jadinya nggak beroperasi," kata Tasbin.Sementara itu, Suwitno (46) mandor petugas kebersihan mengatakan, setiap hari operator mampu mengangkut eceng gondok sebanyak 60 kubik. "Sekali jalan alat ini bisa menampung 4 kubik eceng gondok, sementara seharinya bisa beroperasi selama 15 rit. Maka jumlah eceng gondok yang diangkut bisa 60 kubik," kata Suwitno.Suwitno menuturkan, pihaknya sempat mengalami kesulitan untuk mengangkut eceng gondok, mengingat arah embusan angin yang tidak teratur kerap terjadi di waduk pluit. "Eceng gondok itu mudah bergeser posisi karena tertiup angin, kalau kita sedang membersihkan di sini nanti tumbuhannya pindah ke sana. Jadi agak sulit sebetulnya mengangkut eceng gondok saat ada embusan angin," tandas Suwitno.
Sedangkan Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Adji mengatakan, mangkraknya dua ekskavator karena ada kebocoran dalam drum penyimpanan bahan bakar minyak saat hendak dikirimkan ke kedua alat berat itu. "Sebetulnya setiap hari dua ekskavator tipe long itu selalu beroperasi, hanya saja saat pengiriman BBM dari depo ke waduk, tong penyimpan solarnya bocor, sehingga petugas harus menambalnya dulu. Kami upayakan besok bisa beroperasi lagi seperti biasa," ujar Adji.Sementara itu, mengenai adanya alat mesin pengangkut tanaman air yang berada di waduk pluit, Adji menuturkan alat tersebut merupakan hibah dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II ke Pemerintah Kota Jakarta Utara. Namun untuk pengoperasiannya, kata Adji, dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI Jakarta."Saat ini pengusulan hibah untuk alat itu sedang diproses di BPKD (Badan Pengelola Keuangan Daerah). Karena bagaimanapun juga, setiap pengadaan atau penghapusan barang mesti diketahui oleh BPKD," kata Adji."Sambil menunggu proses di BPKD, alat tersebut kita operasikan sampai waduknya bersih," sambung Adji.