Usaha Soekarno bebaskan Jakarta dari banjir

Bahkan sejak zaman Belanda pun sudah dilakukan berbagai cara cegah banjir, tapi masalah ini terus terjadi tiap tahun.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Usaha Soekarno bebaskan Jakarta dari banjir
banjir jakarta tempo doeloe. ©kaskus.com

Jakarta bisa dibilang tidak layak untuk ukuran sebuah kota berjuluk Ibu Kota. Banjir dan macet salah satu sebab kota yang dulunya bernama Jayakarta ini tak layak jadi ibu dari kota-kota di Indonesia.Saking malunya akan banjir yang selalu menggenangi ibu kota, presiden-presiden terdahulu juga putar otak untuk mengatasinya. Para ahli dan insinyur dipanggil untuk menghilangkan banjir di Jakarta.Presiden Soekarno dan Soeharto tidak tinggal diam untuk membenahi Jakarta. Mereka memimpin langsung penyelamatan Jakarta dari banjir.Usaha untuk membebaskan Jakarta dari banjir sebenarnya juga dilakukan oleh penjajah Belanda. Belanda kala itu membangun tata ruang kota dengan sistem kanal-kanal untuk mencegah banjir pada tahun 1621. Namun alam punya kuasa, dua tahun berselang setelah selesainya pembangunan kanal tersebut, Batavia dilanda banjir besar, menyusul setelahnya banjir tahunan di daerah pinggiran kota. Saat itu, Batavia juga dilanda banjir besar pada tahun 1654, 1872, 1909 dan 1918.Pada tahun 1920-an Belanda berupaya terus untuk mengatasi banjir dengan membangun proyek banjir kanal Barat, Timur, Lingkar Kota dan sistem polder yang didesain oleh Van Breen. Lalu Banjir Kanal Barat yang mulai dibangun pada tahun 1920-an namun tidak sampai selesai.Di era Presiden Soekarno , banjir Jakarta masih jadi momok. Di tahun 1965 ada upaya dari Presiden Soekarno untuk mengatasi banjir dengan membentuk Komando Proyek (Kopro) Banjir Jakarta, yang tugasnya memperbaiki kanal yang ada dan membangun beberapa waduk di sekitar Jakarta. Waduk tersebut adalah Waduk Setia Budi, Waduk Pluit, Waduk Tomang, Waduk Grogol serta melakukan rehabilitasi terhadap sungai-sungai di sekitarnya.Soekarno juga memerintahkan pembangunan Polder Melati, Polder Pluit, Polder Grogol, Polder Setia Budi Barat, dan Polder Setia Budi Timur.Tak hanya itu, Presiden pertama Republik Indonesia itu juga memerintahkan pembuatan sodetan Kali Grogol, Kali Pesanggrahan, dan Gorong-gorong Jalan Sudirman.Sayang sebelum proyek-proyek tersebut tuntas digarap, Soekarno telah lengser. Mirisnya lagi, waduk yang sudah sebagian dibangun itu pun kini sudah hilang tergerus oleh serakahnya pembangunan Ibu Kota.Rezim berubah, presiden berganti. Namun banjir Jakarta masih menjadi PR yang belum terselesaikan. Saat Soeharto berkuasa menggantikan Soekarno , banjir juga masih jadi hambatan.Di tahun 1973, Presiden Soeharto memerintahkan Kanal Banjir Barat peninggalan Belanda dituntaskan. Untuk masalah dana, Indonesia mendapat bantuan dari Belanda. Namun, proyek ini ternyata batal dikerjakan di tengah jalan tanpa alasan yang jelas.Saat Sutiyoso memimpin Ibu Kota, banyak gagasan yang dia usulkan untuk membendung banjir Jakarta. Sebut saja deep tunnel, waduk di kawasan Depok hingga konsep megapolitan yang kemudian di sebut Jabodetabekjur (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi dan Cianjur) digagas untuk memutus aliran banjir ke Jakarta.Namun hingga hari ini banjir masih menggenangi Ibu Kota. Banjir selalu terjadi manakala musim hujan tiba.Lantas, benarkah banjir tidak bisa hilang dari Jakarta?

Rekomendasi