Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pelican Crossing HI, uji mental pejalan kaki dan pengendara lebih disiplin

Pelican Crossing HI, uji mental pejalan kaki dan pengendara lebih disiplin Pelican Crossing di HI. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Sejak dibongkarnya jembatan penyeberangan orang (JPO) Bundaran Hotel Indonesia, Thamrin, pemandangan baru terlihat di jalan Sudirman-Thamrin. Pelican crossing, fasilitas pengganti JPO, mulai dimanfaatkan masyarakat yang sering berlalu-lalang area tersebut.

Sejak pukul 14.00 WIB, tombol melintas yang berada tiang lampu "pelican crossing" selalu sibuk. Tiap menitnya, lampu hijau yang menandakan pejalan kaki boleh melintas menyala.

Ketika tombol ditekan, lampu merah akan menyala selama 20 detik. Kesempatan untuk kendaraan melintas. Setelahnya, lampu hijau dengan simbol orang menyeberang menyala. Hanya 13 detik waktu untuk para pejalan kaki menyeberang.

Bagi orang yang terbiasa dengan hiruk pikuk Jakarta, waktu 13 detik cukup untuk menyeberang. Lain lagi jika pejalan kaki itu tak cukup gesit atau tidak tertib menyeberang.

Misalnya, pejalan kaki menyeberang tanpa melalui zebra cross demi mengejar waktu 13 detik. Rahman, pegawai swasta, dan rekannya melakukan hal demikian.

Keduanya menyeberang di detik 7 dan jauh dari zebra cross, sekitar 3 meter dari area aman menyeberang. Bahaya tidaknya, menurut Rahman mau tidak mau melakukan itu.

"Iya sekalian aja mba. Sama-sama nyeberang," ujarnya.

Diakui Rahman, adanya Pelican Crossing lebih baik ketimbang JPO Bundaran HI. Alasannya, mempersingkat waktu menyberang. "Lebih cepat nyberang lewat sini kalau lewat sana (JPO) kita harus jalan dulu ke sana," tukasnya.

Sama halnya dengan Rahman, Hamdan pegawai swasta yang berkantor di Plaza Indonesia cukup puas dengan adanya fasilitas itu. Apalagi, pekerjaannya mengharuskan dia mondar-mandir ke Wisma Nusantara.

Jika sebelumnya Hamdan menggunakan mobil untuk ke Wisma Nusantara, kini ia lebih memilih menggunakan Pelican Cross.

pelican crossing di hi

"Saya dulu pakai mobil kan harus muter dulu. Sekarang ya tinggal nyeberang aja," ujar Hamdan.

"Bagus lah ada ini. Kantornya kan di Plaza Indonesia. Sering ke Wisma Nusantara muter balik pake mobil sekarang tinggal jalan kaki," imbuhnya.

Rahman dan Hamdan setuju jika Pelican Crossing dibuat secara permanen. Namun pendapat keduanya tidak sejalan dengan Yupa. Pria paruh baya yang berkantor di sekitar Jalan Thamrin.

Meski terbantu dengan adanya Pelican Crossing, namun tidak selaras dengan kebiasaan pengemudi ataupun pejalan kakinya. Sama-sama tak sabaran.

"Memang tidak semua kayak gitu tapi bisa dilihat ini belum selesai hijau motor kah atau mobil suka jalan aja. Etikanya diperbaiki. Ide ini bagus cuma enggak cocok kalau dibuat permanen," kata Yupa.

Memang, anggapan Yupa beberapa kali dilakukan oleh pejalan kaki ataupun pengendara. Merasa aman untuk melintas meski lampu indikator tidak demikian. Selisih 7 detik terkadang membuat pengemudi ataupun pejalan kaki acap kali gatal untuk melintas.

Sikap 'geregetan nyebrang' tidak hanya dilakukan pejalan kaki lokal. Beberapa warga negara asing banyak berlalu lalang di sana. Dua WNA misalnya geregetan ingin segera menyeberang. Keduanya gelisah sebab, saat tombol melintas tak kunjung berwarna hijau. Sebelum itu, keduanya tak tahu adanya tombol pada lampu Pelican Crossing.

Jaraknya berjalan menuju Pelican Crossing tinggal beberapa meter lagi, namun lampu hijau sebagai indikator pejalan kaki boleh menyeberang tinggal 5 detik sebelum berubah warna menjadi merah. Wanita asing itu ikut menyeberang tanpa melalui zebra cross.

Dari beberapa pendapat warga umumnya menikmati adanya Pelican Crossing hanya saja permanen tidaknya fasilitas tersebut memiliki pandangan masing-masing.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP