Sejarah 29 Januari: Wafatnya Jenderal Soedirman, Pahlawan Revolusioner Indonesia
Merdeka.com - 29 Januari 1950, merupakan hari yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Pada hari itu, salah satu pejuang Indonesia wafat dengan meninggalkan jejak perjuangan yang luar biasa dalam sejarah Indonesia.
Adalah seorang laki-laki asal Purbalingga, yang namanya dikenal luas sebagai Jenderal Soedirman. Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916, Jenderal Soedirman berasal dari keluarga sederhana, di mana ayahnya adalah seorang pekerja di pabrik gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya merupakan keturunan Wedana Rembang.
Perjuangannya dalam membela tanah air sudah tidak perlu diragukan. Kisahnya yang heroik banyak ditulis ulang dalam buku pelajaran, atau tulisan-tulisan sejarah lainnya. Kegigihan dan rasa tanggung jawabnya seharusnya sudah cukup menjadi motivasi bagi rakyat saat ini.
Membaca kisah hidup Jenderal Soedirman memang akan memberikan pandangan patriotisme yang baru dan rasa bela negara. Pasalnya, Jenderal Soedirman sendiri berjuang demi Indonesia dengan kondisi fisik yang tidak layak untuk terjun ke medan perang.
Dilansir dari liputan6.com, berikut kami sampaikan kisah perjuangan Jenderal Soedirman secara singkat dalam usahanya membela dan mempertahankan tanah air.
Awal Hidup dan Pendidikan
Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo. Namun, Soedirman tidak mengetahui bahwa Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya, sampai dirinya berusia 18 tahun.
Ketika berusia tujuh tahun, Soedirman menempuh pendidikan di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school). Soedirman kemudian dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh sekolah. Pada tahun kedelapan, Soedirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo karena sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak terdaftar.
Soedirman kemudian melanjutkan pendidikannya ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo, tapi tidak sampai tamat. Selama menempuh pendidikan di sana, Soedirman pun aktif dalam kegiatan organisasi Pramuka Hizbul Wathan.
Pada 1936, Pada 1936, Sudirman kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah, dan kemudian mengabdikan dirinya menjadi guru HIS Muhammadiyah, Cilacap dan pemandu di organisasi Pramuka Hizbul Wathan tersebut.
Masa Penjajahan Jepang

blogspot.com
Pada zaman penjajahan Jepang tepatnya 1944, Soedirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Sehubungan dengan posisinya di masyarakat, Soedirman dijadikan sebagai komandan (daidanco) dan dilatih bersama orang lain dengan pangkat yang sama.
Pasca Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Kemudian beliau diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya setelah menyelesaikan pendidikannya.
Setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan, kekuatan militer Jepang di Indonesia mulai melemah. Soedirman yang saat itu ditahan di Bogor, mulai memimpin rekan-rekannya untuk melakukan pelarian.
Soedirman pun pergi ke Jakarta, yang kemudian bertemu dengan Soekarno dan Mohammad Hatta. Kedua proklamator tersebut meminta Soedirman untuk memimpin pasukan melawan Jepang di Jakarta. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh Soedirman karena ia lebih memilih memimpin pasukannya di Kroya.
Pasca Kemerdekaan
Perjuangan bangsa Indonesia untuk lepas dari pengaruh Belanda memang sangat berat. Bahkan ketika teks proklamasi dibacakan pada 1945, Belanda masih tidak ingin melepaskan Indonesia begitu saja. Alih-alih memberi ucapan selamat, yang datang justru pasukan Belanda yang siap menggempur Indonesia kembali.
Setelah Indonesia mengikrarkan proklamasi pada 1945, Pemerintah mendirikan BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan melebur PETA ke dalamnya. Soedirman bersama tentaranya pun mendirikan cabang BKR di Banyumas, dan memimpin masyarakat di sana untuk melucuti persenjataan tentara Jepang.
Kemudian Presiden Soekarno membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat), di mana anggotanya terdiri dari mantan anggota KNIL, PETA dan Heiho. Ketika itu Soekarno menunjuk Supriyadi sebagai panglima TKR, namun ia tidak muncul.
Pada tanggal 12 November 1945, dalam pertemuan pertama TKR, Soedirman terpilih sebagai pemimpin TKR melalui pemungutan suara buntu dua tahap. Pada akhir November, sambil menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.
Perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda ini terjadi mulai dari bulan November sampai Desember 1945. Perang ini juga menjadi perang besar pertama yang dipimpin oleh Soedirman. Keberhasilannya memukul mundur pasukan sekutu pada peperangan ini, membuat Presiden Soekarno melantiknya sebagai seorang Jenderal.
Agresi Militer II

liputan6.com
Pada saat Agresi Militer II yang dilancarkan oleh Belanda terjadi, Ibukota Negara RI tengah berada di Yogyakarta karena Kota Jakarta sudah dikuasai sebelumnya. Jenderal Soedirman yang saat itu tengah berada di Yogyakarta, sedang berjuang melawan penyakit dalam tubuhnya. Keadaannya menjadi lemah akibat paru-parunya hanya tersisa satu yang berfungsi.
Namun, kondisi tubuh yang seperti itu tidak menyurutkan semangat patriotisme dari sang Jenderal. Dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukannya untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dalam keadaan sakit dan lemah.
Hingga akhirnya Belanda pun mulai menarik diri, Jenderal Soedirman kemudian dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949 oleh Presiden Soekarno.
Akhir Hidup

liputan6.com
Pada 1948 Soedirman didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC), yang mengakibatkan paru-paru kanannya harus rela dikempeskan lantaran ditengarai sudah mengalami infeksi. Soedirman pun terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan rutin di Panti Rapih, Yogyakarta. Ia pun dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada Desember 1949..
Selang sebulan, tepatnya pada tanggal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Magelang, Jawa Tengah. Kabar duka ini pun dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI.
Saat kematiannya, empat tank dan 80 kendaraan bermotor mengantarkan Jenderal Soedirman menuju tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Makam Pahlawan Yogyakarta. Banyak rakyat berkumpul hingga sepanjang dua kilometer untuk ikut mengiringi prosesi pemakaman sang pahlawan revolusioner ini.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya