Dendi Junaedi, warga Kampung Cikujang, Desa Sukaratu, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, memetik berkah jelang Iduladha. Peci rajut tradisional buatannya kini laris manis diburu pelanggan, bahkan sampai negara tetangga Malaysia.
Usaha tersebut Dendi jalankan dalam skala rumahan. Peci dikerjakan oleh Dendi, bersama sejumlah karyawan yang juga warga setempat.
Motif khas Turki menjadi andalan produk usahanya, dengan warna pastel dan putih yang selaras. Terhitung, terjadi peningkatan penjualan, terutama beberapa bulan jelang hari besar umat Islam tersebut.
“Menjelang haji ini yang paling banyak dipesan yang motif Turki, warna putih ini,” kata Dendi beberapa waktu lalu, mengutip Youtube Liputan6 SCTV, Selasa (28/5).
Advertisement
Peci Rajut Motif Turki
Peci rajut sendiri merupakan perlengkapan ibadah yang dibuat melalui penyatuan benang baik menggunakan mesin maupun menggunakan tangan.
Motif Turki biasanya dibuat Dendi dengan menggunakan benang berwarna hitam, berbentuk setengah kubah memanjang.
Untuk membuat ini, ia masih menggunakan rajutan tangan sebagai ciri khasnya.
Dalam satu hari, produksi skala rumahan tersebut mampu membuat dua puluh hingga empat puluh peci yang siap didistribusikan kepada para pelanggan.
“Kalau sepuluh hari mau Lebaran haji itu bisa terus meningkat lagi pesanannya,” kata dia, melanjutkan.
Advertisement
Advertisement
Gunakan Limbah Pabrik Garmen
Keunikan lain dari peci rajut buatannya adalah bahannya yang berasal dari limbah pabrik garmen. Biasanya, usaha garmen akan meninggalkan banyak sisa kain yang masih utuh dan bisa dimanfaatkan.
Dendi pun melihat kondisi itu sebagai peluang karena kain-kain sisa akan semakin mudah dikerjakan untuk pembuatan peci. Selain itu, ia juga berperan mengurangi penumpukan sampah dari limbah kain yang terbuang.
Walaupun terbuat dari sisa produksi garmen, Dendi menjamin produk pecinya tetap kuat karena prinsipnya dalam menjaga kualitas.
Advertisement
Terjual Sampai Malaysia
Produknya saat ini sudah dikirim hingga ke berbagai kota di Indonesia, salah satunya Surabaya. Bahkan, produknya yang bermotif Turki sudah dipesan oleh para pengusaha di Malaysia untuk diedarkan di negaranya.
Dibutuhkan ketelitian dan ketekunan dalam mengerjakan peci tersebut. Sehingga, motifnya terlihat rapi dengan gradasi warna yang senada.
Dendi sendiri membanderol peci buatannya mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, dengan sistem eceran maupun borongan.
Advertisement
Ingin Bantu Perekonomian Warga Sekitar
Selain memproduksi, Dendi juga memiliki misi lain yakni ingin membantu perekonomian warga di sekitar tempat tinggalnya.
Dendi membuka kesempatan bagi tetangganya yang ingin belajar membuat peci, termasuk bagi remaja-remaja yang putus sekolah. Harapannya, setelah proses perajutan bisa dikuasai, warga tersebut bisa berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sebelumnya, Dendi sudah sepuluh tahun merintis usaha peci rajut ini. Ia pertama kali mempelajari pembuatannya dari sang paman selama kurang lebih satu tahun.
Setelahnya ia memberanikan diri membeli mesin pembuatan peci dan membuka usahanya sendiri di rumah. Lambat laun usahanya terus berkembang hingga mampu menggaji karyawan.
Advertisement