Kekayaan kuliner di Subang rupanya sudah ada sejak berabad-abad silam, salah satunya adalah papais Cisaat. Jika ditarik menurut asal usulnya, makanan ini disebut sudah ada sejak 1829 atau pada masa kolonial Belanda.
Papais Cisaat merupakan produk kudapan yang dikukus dan dibungkus menggunakan daun. Makanan ini punya cita rasa manis dan bertekstur cukup kenyal mirip bubur.
Daun yang digunakan terkadang menambah aroma harum dari papais tersebut, terlebih saat disajikan.
Di balik kehadirannya, papais Cisaat memiliki kisah unik seperti berbahan utama beras nasi sampai asal usul namanya yang konon terinspirasi dari salah ucap orang Belanda.
Sejak dua abad silam, kuliner ini telah menjadi favorit bagi warga Subang, terutama yang memiliki hajat.
Yuk cicipi rasa legitnya berikut ini.
Gambar: desawisatacisaat.wordpress.com/
Advertisement
Advertisement
Awal kemunculan papais Cisaat diperkirakan pada abad ke-19. Ketika itu, warga di wilayah Cisaat, Subang tengah berbahagia karena mulai masuk musim panen.
Warga pun membuat beragam acara, termasuk dengan membuat camilan dodol.
Ketika itu masih menggunakan sistem iuran bahan dari warga, dan hasil yang terkumpul kemudian dikumpulkan untuk dibuat dodol.
Namun karenakan beras ketan yang dicari sebagai bahan utama tidak ada, akhirnya warga bersepakat untuk memakai beras nasi sebagai bahan pengganti.
Saat dimasak bersama gula merah, adonan kemudian tidak lengket dan jauh dari istilah dodol. Namun dari rasa rupanya sangat lezat, dan hasilnya menjadi bagus saat dibungkus oleh daun.
Advertisement
Bagi yang berkesempatan hadir di Subang untuk mengikuti hajatan, rasanya akan mudah menemukan makanan ini. Sebab, papais sering hadir sebagai sajian tamu.
Ini terkait sejarahnya, di mana makanan ini mulanya sudah dihadirkan dalam acara hajat bumi dan masa panen. Lalu keturunan berikutnya mewariskan makanan ini, hingga ke anak cucu mereka.
Camilan ini sangat cocok disantap, dengan ditemani secangkir teh ataupun kopi.
Mengutip Instagram @humas_jabar, mulanya, makanan ini dihadirkan untuk menyambut pemimpin dan pejabat Belanda yang hadir di Desa Cisaat. Daun pembungkus menggunakan daun bangban yang mudah dijumpai di sekitar rumah.
Advertisement
Terkait namanya, konon papais berasal dari kesalahan penyebutan oleh orang Belanda. Ketika itu datang tamu Belanda dan mencicipi makanan ini.
Orang Belanda lantas bertanya nama makanan tersebut, namun karena kesulitan menyebut papaes, maka dia menyebutnya sebagai papais. Sejak itu, nama papaes lebih kesohor sebagai papais.
Menurut laman Desa Wisata Cisaat, makanan ini jadi kuliner khas untuk meramaikan acara-acara hajatan.
Walaupun mulai langka, sejumlah warga di Cisaat masih memproduksi papais Cisaat dan menerima pesanan untuk mantenan sampai khitanan.
Karena bisa tahan selama beberapa hari, papais Cisaat juga cocok sebagai oleh-oleh setelah berkunjung ke Kabupaten Subang.
Penasaran dengan rasanya?