Sebagai seorang muslim, Anda pasti sering mendengar atau bahkan menggunakan sendiri ungkapan-ungkapan seperti "Masya Allah" dan "Astagfirullah" dalam kehidupan sehari-hari. Meski sudah umum terdengar, ungkapan ini menyimpan makna yang dalam bagi kehidupan seorang muslim.
Arti Masya Allah dan Astagfirullah memang mengandung makna yang dalam ketika dikaitkan dengan Sang Pencipta. Ketika seseorang melihat sesuatu yang indah, mendengar kabar baik, atau mengalami peristiwa luar biasa, maka hendaknya seseorang mengucapkan Masya Allah.
Di sisi lain, ungkapan Astagfirullah memiliki makna tentang permohonan maaf dan ampunan kepada Allah SWT. Kalimat Astagfirullah, atau istighfar ini, seringkali diucapkan sebagai bentuk zikir dan untuk membersihkan hati.
Arti Masya Allah dan Astagfirullah mengandung makna yang melibatkan hubungan pribadi dengan Tuhan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Meski pendek, kata-kata ini mencerminkan keimanan, kesadaran spiritual, dan kesungguhan seseorang dalam mengakui kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dalam artikel berikut ini, kami akan membahas lebih lanjut tentang apa arti Masya Allah dan Astagfirullah yang dikutip dari beberapa sumber.
Advertisement
Masya Allah dan Astagfirullah adalah dua ungkapan yang sudah sering kita gunakan. Jadi, jangan sampai kita menggunakannya tanpa tahu arti Masya Allah dan Astagfirullah.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, arti Masya Allah dan Astagfirullah memiliki makna mendalam terkait hubungan kita dengan Allah SWT.
Masya Allah, secara harfiah berarti "Seperti yang dikehendaki Allah." Ungkapan ini mencerminkan rasa kagum, takjub, dan pengagungan terhadap kekuasaan Allah. Sedangkan ungkapan "Astaghfirullah" memiliki makna "Aku memohon ampun kepada Allah", yang biasa dijadikan sebagai bacaan dzikir, termasuk setelah menunaikan ibadah sholat.
Dengan memahami arti Masya Allah dan Astagfirullah, kita bisa lebih menghayati apa yang kita ucapkan, sekaligus menjadi sarana bagi kita seorang muslim untuk mengingatkan diri sendiri akan keagungan Tuhan serta intropeksi diri terhadap kesalahan yang pernah dilakukan.
Advertisement
Dilansir dari laman annajah.co.id, ungkapan "Masya Allah" ini sering digunakan oleh seorang Muslim untuk menunjukkan kekaguman terhadap seseorang, peristiwa, atau sesuatu.
Contohnya, ketika seseorang melihat bangunan yang indah, melihat pemandangan yang cantik, atau melihat kecanggihan suatu benda, maka dapat menggunakan ungkapan "Masya Allah". Hal ini merupakan cara untuk menghormati dan mengingatkan bahwa semua itu terjadi karena kehendak Allah SWT.
Hal ini juga tercantum dalam surat Al-Kahfi ayat 39, yang artinya,
“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”
"Masya Allah" juga diucapkan ketika seseorang kagum terhadap apa yang mereka miliki. Dengan mengucapkan ungkapan tersebut, diharapkan agar tidak ada hal yang tidak diinginkan yang menimpa harta atau benda yang dimiliki.
Bagaimana dengan Ucapan Astagfirullah?
Terkait hal ini, Quraish Shihab berpendapat bahwa pengucapan "Astagfirullah" dan "Astagfirullahaladzim" dapat dilakukan kapan saja, karena manusia cenderung melakukan kesalahan dan tidak lepas dari dosa. Oleh karena itu, ungkapan ini bisa diucapkan setiap hari, tanpa harus menunggu saat marah atau melakukan kesalahan.
Advertisement
Astagfirullah, atau bacaan Istighfar, merupakan amalan ringan namun dengan makna dan nilai yang besar. Kita juga dianjurkan untuk banyak membaca kalimat istighfar ini. Manusia yang tidak pernah luput dari dosa di kehidupan sehari-harinya, menjadikan istighfar sebagai cara untuk meminta ampunan dan penyempurna taubat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mencontohkan pada umatnya untuk memperbanyak istighfar. Dikutip dari laman rumaysho.com, anjuran ini dapat kita lihat dari hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari).
Kemudian dari Al Aghorr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim).
Kemudian kita juga dianjurkan untuk mengamalkan bacaan istighfar setelah sholat. Anjuran ini terdapat dalam hadis riwayat Muslim di mana Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu), beliau beristighfar tiga kali dan mengucapkan “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAAROKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM” (artinya: Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).
Ada yang bertanya pada Al-Auza’i, salah satu perawi hadits ini, “Bagaimana cara beristighfar?” Al-Auza’i menjawab, “Caranya membaca ‘ASTAGHFIRULLAH … ASTAGHFIRULLAH’ (Aku memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah). (HR. Muslim).