Gerhana adalah fenomena alam yang terjadi ketika satu objek astronomi, seperti matahari, bulan, atau planet, terhalang oleh objek lain sehingga terjadi perubahan pencahayaan atau bayangan pada benda tersebut.
Gerhana adalah sebuah peristiwa alam yang unik dan tidak sering terjadi. Itulah kenapa fenomena ini sering menarik rasa penasaran orang-orang untuk menyaksikannya. Tapi dalam Islam, momen gerhana, baik gerhana bulan atau gerhana matahari, adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ya, ketika gerhana muncul, kita umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana. Dalil anjuran untuk mendirikan shalat ini juga tertera dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari).
Menyaksikan fenomena alam memang begitu menggoda, tapi sebagai seorang muslim, kita jangan sampai lengah dan lupa dengan apa yang telah diajarkan oleh agama dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini, hal-hal terkait shalat gerhana, mulai dari hukum shalat gerhana, niat, dan tata caranya.
Advertisement
Menurut informasi dari NU Online, shalat gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah. Kemudian shalat gerhana bulan pada tahun kelima hijriyah, dan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada bulan Jumadal Akhirah.
Lalu, bagaimana dengan hukum shalat gerhana? Mayoritas ulama menyatakan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkad.
“Menurut kesepakatan para ulama (ijma') hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah sunah muakkadah. Akan tetapi menurut Imam Malik dan Abu Hanifah shalat gerhana bulan dilakukan sendiri-sendiri dua rakaat seperti shalat sunah lainnya.” (Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo, Darul Hadits, 1431 H/2010 M, juz VI, halaman 106).
Advertisement
Jika gerhana muncul dan ternyata daerah Anda menjadi bagian yang dapat melihat fenomena langit tersebut, maka segeralah berwudhu untuk mendirikan shalat gerhana. Niat shalat gerhana sendiri sedikit berbeda tergantung pada gerhana yang terjadi, apakah gerhana bulan atau gerhana matahari.
Berikut ini adalah bacaan niat shalat gerhana bulan dan matahari saat berjemaah:
Niat Shalat Gerhana Bulan
Ketika Anda ditunjuk sebagai imam, maka bacalah niat berikut,
Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa.
Artinya:
“Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala."
Dan jika melaksanakannya secara berjemaah sebagai makmum, maka bacaan niat shalat gerhana berikut:
Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa.
Artinya:
Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Niat Shalat Gerhana Matahari
Ketika Anda ditunjuk sebagai imam saat terjadi gerhana matahari, maka bacalah niat berikut:
Usholli sunnatal kusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa.
Artinya:
“Aku niat shalat gerhana matahari dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala."
Dan jika melaksanakannya secara berjemaah sebagai makmum, maka bacaan niat shalat gerhana berikut:
Usholli sunnatal kusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa.
Artinya:
Aku niat shalat gerhana matahari dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Advertisement
Mengutip dari rumaysho.com, terdapat hadis yang menjelaskan tata cara shalat gerhana,
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘Ash Shalatu Jami’ah’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at. (HR. Muslim).
“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari).
Jika dirunutkan, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
- Membaca niat shalat gerhana dalam hati
- Takbiratul ihram, dengan bertakbir sebagaimana saat melaksanakan shalat biasa
- Membaca doa iftitah dan berta’awudz, lalu dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijahrkan (dikeraskan suaranya, dan bukan diucapkan lirih)
- Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya
- Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’
- Setelah i’tidal, tidak langsung sujud seperti shalat biasa, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Namun, berdiri yang kedua ini dikerjakan lebih singkat dari yang pertama.
- Kemudian ruku’ (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya
- Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
- Lalu sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali
- Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana mengerjakan raka’at pertama, namun bacaan dan gerakan-gerakannya dilakukan lebih singkat dari sebelumnya
- Tasyahud
- Lalu diakhiri dengan salam
Ketika melaksanakan shalat gerhana berjemaah, imam biasanya menyampaikan khutbah usai shalat yang berisi anjuran untuk berdoa, beristighfar, berzikir, dan amalan-amalan lain saat terjadi gerhana.