Mencicipi Kopi Gunung Karang, Si Hitam Beraroma Lembut dari Dataran Tinggi Pandeglang

"Yang membedakan aroma kopi gunung karang dengan yang lain karena wanginya yang enak, bagi kaum wanita rasanya sangat soft gitu" kata Anne Herliana, warga Pandeglang yang turut mengembangkan bisnis kopi Gunung Karang di Serang

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Mencicipi Kopi Gunung Karang, Si Hitam Beraroma Lembut dari Dataran Tinggi Pandeglang
Kopi khas Gunung Karang Pandeglang Banten. ©2021 YouTube Salman 227/ Merdeka.com

Kopi menjadi salah satu minuman yang cukup banyak digemari di Indonesia. Banyak kopi asli daerah yang memiliki ciri khas unik, salah satunya kopi Gunung Karang dari Pandeglang, Provinsi Banten.

Anne Herliana selaku warga Pandeglang mengaku tertarik mengembangkan bisnis kopi Gunung Karang karena cita rasanya yang berbeda. Bermula sebagai penikmat dari kedai ke kedai, ia kini sukses membuka kedai kopi dengan menu andalannya kopi susu spesial Daenk.

"Awalnya saya hanya penikmat kopi ketika berpergian ke sejumlah tempat, dan mencicipi berbagai jenis-jenis kopi yang diminum. Lambat laun saya berpikir untuk membuka usaha kopi di wilayah Serang," ujarnya.

Memiliki Aroma Khusus

Dari sisi rasa, kopi Gunung Karang merupakan varietas kopi yang cocok dikombinasikan dengan susu seperti di kedai yang dikelolanya. Dan dari aroma, kopi Gunung Karang menonjolkan sisi kenikmatan yang tidak ditemui pada kopi varietas lain.

Anne mengatakan, langkahnya membuka kedai kopi asli Banten itu merupakan bentuk promosi agar kopi lokal mampu bersaing dan menjadi daya tarik bagi pengunjung di Warung Hyang Ngupi Mang Daenk miliknya.

Untuk harga, kopi andalannya ia jual seharga 20 hingga 30 ribu per gelas. Menurutnya harga tersebut ditentukan dari jenis kopi yang diolah dan dipesan oleh para pelanggan.

Rasa Kopi Lebih Soft

Adapun terkait rasa, kopi khas Gunung Karang memiliki tingkat yang lebih soft dibanding kopi lainnya. Hal itu yang membuatnya cukup aman dikonsumsi oleh kalangan wanita.

Bahkan menurut Anne, pihaknya langsung terjun ke Gunung Karang untuk melihat petani kopi di sana. Dan saat ini pihaknya juga sudah bekerja sama dengan para petani kopi, sebagai langkah memudahkan proses distribusi varian yang akan dikirim ke kedainya.

"Yang membedakan aroma kopi gunung karang dengan yang lain karena wanginya yang enak, bagi kaum wanita rasanya sangat soft gitu mas" ujar wanita yang juga bekerja sebagai pegawai pemerintah di Tangerang itu, dikutip dari Antara.

Dijaga Kualitasnya Sejak di Kebun

Terpisah, Suherman, seorang petani kopi di Gunung Karang, Pandeglang mengatakan, selain memiliki rasa yang otentik, kopi asli Banten itu juga selalu dijaga kualitas dalam budidayanya.

Pria yang kerap disapa kang Maman itu mengatakan, salah satu penentu baiknya kualitas kopi adalah saat proses pemetikan biji kopi yang harus dalam keadaan merah.

"Memang harga mati ya, kopi yang berkualitas itu kopi yang dipetik saat bijinya merah. Jadi saat diproses apapun rasanya akan tetap terjaga" kata kang Maman dikutip dari YouTube Balad Atoey.

Selain itu, Maman juga menambahkan, varietas unggulan robusta dari Gunung Karang perlu diproses secara alami dengan hati-hati. Ia mencontohkan salah satunya pada kopi robusta.

Menurutnya, cita rasa enak atau tidaknya kopi robusta terlihat dari proses pengolahannya yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Hal itu dikarenakan sifatnya yang mudah menyerap aroma dan dikhawatirkan aroma tanah akan terbawa saat kopi sudah jadi.

Rekomendasi