Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mendorong anak muda Banyuwangi memanfaatkan peluang magang dan bekerja di luar negeri, khususnya ke Jepang.
Hal itu disampaikan saat membuka Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Batch IV, Magang Hub Nasional, serta program Magang ke Jepang hasil kerja sama dengan IM Japan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Banyuwangi, Selasa, 22 September 2026.
Afriansyah menekankan urgensi menyiapkan kompetensi generasi muda seiring besarnya bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia.
"Di Indonesia sekarang bonus demografinya besar sekali. Bagi mereka yang berminat ke luar negeri kita didik, kita latih, kita berikan kompetensi dan skill yang memadai," ujar Afriansyah, dikutip Senin (28/9/2026).
Ia menjelaskan, Kementerian Ketenagakerjaan terus menggalakkan penyiapan tenaga kerja profesional berkeahlian khusus untuk penempatan di negara mitra, salah satunya Jepang.
Di Negeri Sakura, peserta magang dan pekerja Indonesia ditempatkan sesuai kompetensi pada sektor-sektor strategis, mulai dari otomotif, pabrik, pertanian, hingga pengemudi (driver), melalui perjanjian resmi antar-lembaga dan pemerintah.
Afriansyah juga menyinggung kisaran penghasilan yang dapat diraih di beberapa bidang.
"Sebagai gambaran, di sektor otomotif ringan seperti teknisi bengkel ban, montir ganti oli, hingga perbaikan ringan, itu mampu mengantongi penghasilan bersih sekitar Rp 21 juta per bulan," ucapnya.
Ia mengapresiasi kontribusi Banyuwangi sebagai salah satu daerah penyumbang tenaga kerja terbanyak untuk penempatan di Jepang.
"Banyuwangi salah satu terbesar untuk penempatan anak-anak kita ke negara Jepang. Keberadaan BPVP di Banyuwangi ini bentuk komitmen kami untuk menciptakan anak-anak kita yang punya kompetensi dan skill hebat-hebat, termasuk skill bahasa," sambungnya.
Menurut Afriansyah, kondisi ketenagakerjaan di Banyuwangi relatif baik. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,7 juta jiwa, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di kisaran 10.000 orang.
"Ini luar biasa rendah, persentasenya kecil. Oleh karena itu harus kita dukung," ucap dia.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan fasilitas vokasi secara optimal. Pemerintah pusat, kata dia, memberi perhatian besar pada pengembangan SDM, termasuk melalui alokasi kuota Pelatihan Vokasi Nasional sekitar 220.000 orang khusus lulusan SMA/SMK, dengan seluruh pembiayaan ditanggung negara.
Advertisement
Tren Pengangguran di Banyuwangi
Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menyebut tingkat pengangguran terbuka di daerahnya turun dari 4,03 persen menjadi 3,94 persen pada 2025. Ia mengingatkan agar capaian tersebut dilihat secara menyeluruh, bukan sekadar angka.
"Penurunan pengangguran itu tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan penciptaan pekerjaan saja. Akan tetapi, kita juga harus memperhatikan partisipasi angkatan kerja, kualitas pekerjaan, produktivitas, tingkat pendapatan, dan jumlah penduduk usia kerja yang tidak aktif dalam pasar kerja," tutur Mujiono.
Di kesempatan yang sama, Kepala BPVP Banyuwangi, Susanto, menyampaikan pelatihan vokasi saat ini diikuti 284 peserta. Program yang dibuka beragam, mulai dari bidang pariwisata, pengelasan, pelatihan barista, hingga pengolahan pangan dan pertanian hidroponik.
"Sementara alumni dari BPVP Banyuwangi yang sudah terserap di dunia kerja di tahun 2026 ini mencapai 1.720 orang, baik yang bekerja di industri maupun yang memilih jalur wirausaha mandiri," terang dia.
Advertisement
Program Magang Jepang IM Japan
Program Magang Jepang hasil kerja sama dengan IM Japan memasuki tahun kedua. Pada 2025, tercatat sekitar 100 pendaftar dengan 95 orang lolos seleksi awal. Pada 2026, dari total 250 pendaftar, penyaringan menyisakan 84 peserta.
Susanto menjelaskan alur diklat magang Jepang dijalankan dua tahap sebelum peserta diberangkatkan.
"Banyuwangi ini menjadi pusat diklat fase pertama, sebelum nantinya para peserta melanjutkan ke diklat fase kedua di pusat pelatihan IM Japan di Bekasi. Jadi, dua bulan mereka kita godok di sini. Dua bulan berikutnya di Bekasi. Setelahnya dikirim ke Jepang," beber Susanto.
Salah satu peserta asal Banyuwangi, Mohammad Yahya Kamelasan, mengaku telah mengikuti pelatihan di BPVP Muncar selama satu bulan bersama puluhan peserta lain.
"Jadi kurang satu bulan lagi sebelum lanjut diklat di pusat. Disini kami belajar penguasaan bahasa Jepang, tentang budayanya, hingga kedisiplinan," kata Yahya.