Dianggap Berkhasiat, Warga Cirebon Manfaatkan Lumpur Dukupuntang untuk Penyakit Kulit

Keberadaan semburan lumpur beraroma belerang di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon saat ini terus didatangi oleh sejumlah orang dari luar desa. Kedatangan mereka diketahui untuk sekedar berwisata dadakan, termasuk menjalani pengobatan di kulit mereka karena dianggap berkhasiat.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Dianggap Berkhasiat, Warga Cirebon Manfaatkan Lumpur Dukupuntang untuk Penyakit Kulit
Semburan lumpur di Dukupuntang Cirebon. ©2021 liputan6/editorial Merdeka.com

Keberadaan semburan lumpur beraroma belerang di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon saat ini terus didatangi oleh sejumlah orang dari luar desa.

Kedatangan mereka diketahui untuk sekedar berwisata dadakan, termasuk untuk menjalani pengobatan pada kulit mereka. Oleh masyarakat, semburan lumpur tersebut dianggap berkhasiat.

Abah Nema, mantan ketua RT 3 Desa Cipanas Kabupaten Cirebon, Selasa (8/6/2021) lalu mengatakan jika sekarang sudah terdapat warga sekitar yang menjajakan lumpur tersebut di pintu masuk lokasi semburan.

"Iya saya yang ambil kadang ada 10 botol habis dan saya ambil lagi bayar seikhlasnya itupun bagi yang mau saja. Kadang saya dimintai tolong langsung sama pengunjung untuk ambil air lumpur ya saya bantu," terang dia, dikutip dari Liputan6.

Berkhasiat Untuk Obati Gatal dan Lepra

Dalam kesempatan itu Nema mengungkapkan jika kandungan lumpur pekat itu disinyalir mampu mengobati sejumlah penyakit, mulai dari gatal-gatal hingga lepra.

Untuk metode pengobatan, biasanya lumpur akan dioleskan ke bagian yang dibutuhkan untuk pengobatan.

"Bagian tubuh yang sakit dioleskan lumpur kemudian berjemur antara pagi sampai siang hari. Insya Allah sembuh," ujar dia.

Jika kita berkunjung ke sana, rentetan botol plastik berbagai ukuran terlihat dipajang di area pintu masuk dengan dikelola oleh warga setempat. Nema menyebut, pengunjung biasa menjadikan botol lumpur tersebut sebagai oleh-oleh.

Mitos yang Berkembang

Ia melanjutkan, jika di lokasi semburan sejak dahulu sudah dikaitkan dengan mitos oleh sesepuh setempat.

Pria yang rumahnya tak jauh dari titik semburan lumpur itu menyebut jika semburan lumpur jauh lebih dulu ada, sebelum perusahaan Kalsit memanfaatkan gas alam untuk membuat bahan pasta gigi.

Saat itu lumpur muncul secara alami di lokasi yang dekat dengan situs Buyut Garuda Jaya. Bahkan, menurut dia jika tidak ada semburan lumpur atau gas yang keluar, dikhawatirkan seluruh desa akan hancur.

"Sebenarnya yang keluar itu angin bau gas belerang cuma karena ada air jadilah ada golakan atau letupan bercampur tanah yang ada di permukaannya. Sekarang dikatakan semburan lumpur," ujar dia.

Dikelola Warga Setempat

Adapun saat ini pengelolaan wisata lumpur Dukupuntang itu telah dikelola warga, dengan cara swakelola. Biasanya para pengunjung akan membayar seikhlasnya untuk menyaksikan fenomena alam tersebut.

Nema menambahkan jika warga setempat hingga luar daerah amat antusias menyaksikan semburan yang viral di media sosial tersebut. Bahkan di hari Minggu pengunjung bisa mencapai 100 orang.

"Minggu kemarin saja ada 100 orang lebih naik motor mobil bahkan andong hanya untuk melihat semburan. Karena viral di media sosial dan katanya mirip seperti Lapindo padahal tidak dan semburan ini sudah ada lama sekali. Mudah-mudahan jadi objek wisata dan jika memang disetujui akan ada aturan desa yang mengatur" ujarnya.

Rekomendasi