Ciri-ciri Pantun yang Wajib Diketahui, Lengkap dengan Contoh dan Penjelasannya

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun pantun dengan baik dan benar seperti memahami karakteristik dan struktur pantun, memahami jumlah kata dan suku kata dalam pantun, serta memahami pilihan kata atau diksi serta ejaan dalam pantun.

Novi Fuji Astuti
Oleh Novi Fuji Astuti - Reporter
Ciri-ciri Pantun yang Wajib Diketahui, Lengkap dengan Contoh dan Penjelasannya
Ilustrasi buku. istimewa ©2013 Merdeka.com

Pantun merupakan salah satu khazanah kesusastraan yang paling fenomenal. Pantun juga kerap dikatakan sebagai sebuah karya sastra golongan puisi lama yang bermula dari tradisi lisan bangsa Melayu yang kemudian dalam perkembangannya menjadi tulisan yang hingga kini tetap dipelajari.

Pantun bukan sekadar karya sastra yang dibukukan, karena di berbagai daerah di Nusantara pantun bisa jadi seni pertunjukan dalam bentuk-bentuk tertentu. Pantun sebagai tradisi lisan kemudian diperkuat dengan aturan-aturan ketika pantun itu menjadi sebuah karya sastra dalam bentuk tulisan.

Pantun ditulis bukan dengan tanpa teknik. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun pantun dengan baik dan benar seperti memahami karakteristik dan struktur pantun, memahami jumlah kata dan suku kata dalam pantun, serta memahami pilihan kata atau diksi serta ejaan dalam pantun.

Agar lebih memahami saat hendak menyusun pantun ada baiknya terlebih dulu mengetahui ciri-ciri dari pantun agar tidak keliru. Berikut informasi mengenai ciri-ciri pantun yang telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com dan researchgate.net.

Pantun berasal dari bahasa Minangkabau patuntun yang berarti petuntun. Pantun telah lama dituturkan oleh masyarakat Nusantara. Dalam kebudayaan Jawa, pantun kerap disebut dengan parikan. Dalam kebudayaan sunda pantun disebut dengan paparikan. Sementara dalam budaya Batak disebut umpasa.

Pantun dapat melatih seseorang untuk berpikir sebuah makna kata sebelum diujarkan. Selain itu, pantun juga melatih penuturnya bersifat asosiatif dengan berpikir bahwa suatu kata berhubungan dengan kata yag lain.

Selain itu, pantun juga memiliki fungsi sosial. Hal ini karena pantun dijadikan sebagai media pergaulan yang cukup kuat di masyarakat hingga saat ini. Pantun menunjukkan seseorang berpikir dan bermain kata dengan cepat dan kreatif.

Pantun juga kerap digunakan untuk menyatakan rasa kasih sayang hingga benci. Dengan menggunakan pantun, pengungkapan rasa akan lebih mudah karena bisa dibilang pantun "dapat mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit".

Pada mulanya, pantun merupakan bentuk dari sastra lisan, namun dalam perkembanganya kita bisa menemukan pantun dalam bentuk tulisan bahkan pertunjukan seni.

Karena termasuk dalam puisi lama, pantun memiliki aturan terikat dalam penyusunannya. Sebuah pantun dapat dikenal dari ciri-ciri pantun itu sendiri.

Ciri-ciri pantun di antaranya yaitu:

  1. Terdiri dari empat baris, setiap baris terdiri dari minimal 8 kata dan maksimal 12 kata.
  2. Ciri-ciri pantun yang mudah dikenali adalah bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a
  3. Terdiri atas dua bagian yaitu sampiran dan isi. Dua baris pertama disebut dengan sampiran. Sampiran kerap kali berkaitan dengan alam dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima sajak.
  4. Sementara isi berada pada baris ketiga dan keempat yang berisi pesan atau makna utama dari sebuah pantun.
  5. Pada pantun tidak terdapat nama penulis, berbeda dengan puisi atau karya sastra lainnya. Hal ini karena dahulu penyebaran pantun dilakukan secara lisan.

Berdasarkan isinya, pantun terdiri dari berbagai jenis.

Berikut jenis-jenis pantun yang kerap ditemui dan contohnya:

Pantun Teka Teki

Ciri-ciri pantun teka-teki adalah kalimat pertanyaan pada baris akhir pantun. Pantun ini berisi teka-teki untuk para pendengarnya.

Contoh:

Kalau tuan muda teruna

Pakai seluar dengan gayanya

Kalau tuan bijak laksana

Biji di luar apa buahnya

Pantun Jenaka

Pantun jenakan merupakan pantun yang dibuat untuk tujuan hiburan. Terkadang pantun jenaka dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung. Dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang.

Contoh:

Duduk manis di bibir pantai

Lihat gadis, aduhai tiada dua

Masa muda kebanyakan santai

Sudah renta sulit tertawa

Pantun Kiasan

Pantun kiasan berisi pantun dengan kalimat kiasan. Artinya, pesan yang ada pada pantun ini disampaikan secara tersirat.

Contoh:

Berburu ke padang datar

Dapatkan rusa belang kaki

Berguru kepalang ajar

Bagaikan bunga kembang tak jadi

Pantun Cinta

Pantun cinta merupakan pantun yang isi pesannya berhubungan dengan cinta, romantisme atau asmara antara dua insan. Hingga saat ini masih banyak orang yang menggunakan pantun cinta untuk mengungkapkan cintanya.

Contoh:

Walaupun hanya sebatang tebu

Tetapi bisa diramu

Walaupun jarang ketemu

Cintaku hanya untukmu

Pantun Nasihat

Pantun nasihat memiliki isi yang bertujuan menyampaikan pesan moral dan didikan. Pantun nasihat biasanya memiliki pesan-pesan bijak yang mengajak untuk berbuat baik.

Contoh:

Jalan-jalan ke Kota Blitar

jangan lupa beli sukun

Jika kamu ingin pintar

belajarlah dengan tekun

Pantun Agama

Tujuan dari pantun agama sama dengan pantun nasihat, yaitu memberikan pesan moral dan didikan. Pantun agama membahas mengenai manusia dengan pencipta-Nya. Berbeda dari pantun nasihat, pantu agama lebih spesifik isinya karena diselipkan nilai-nilai dan prinsip agama tertentu.

Contoh:

Banyak bulan perkara bulan

Tidak semulia bulan puasa

Banyak tuhan perkara tuhan

Tidak semulia Tuhan Yang Esa

 

Pantun Peribahasa

Seperti namanya, pantun peribahasa merupakan pantun yang di dalamnya terdapat kalimat peribahasa yang pada umumnya memiliki susunan tetap.

Contoh:

Berakit-rakit kita ke hulu

Berenang kita ke tepian

Bersakit-sakit kita dahulu

Bersenang-senang kemudian

Rekomendasi