Potret Situs Batu Tulis Muruy di Pandeglang, Peninggalan Abad ke-18 dan Bermotif Tulisan Arab

Motif kaligrafi tersebut kabarnya dibuat oleh keturunan kerajaan yang sempat mengungsi untuk menghindari kejaran Belanda.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Potret Situs Batu Tulis Muruy di Pandeglang, Peninggalan Abad ke-18 dan Bermotif Tulisan Arab
Potret Situs Batu Tulis Muruy di Pandeglang, Peninggalan Abad ke-18 dan Bermotif Tulisan Arab (Merdeka.com)

Kesultanan Banten merupakan kerajaan yang cukup lama memerintah di wilayah paling barat Pulau Jawa. Salah satu misi yang dibawa adalah perdagangan dan menyebarkan agama Islam.

Ada banyak peninggalan kuno yang masih dapat dilihat selain sisa bangunan Keraton Surosowan. Salah satu yang masih menjadi misteri adalah Situs Batu Tulis Muruy yang ada di wilayah Kabupaten Pandeglang.

Terdapat motif ukiran berbahasa Arab di salah satu sisinya. Motif kaligrafi tersebut kabarnya dibuat oleh salah satu keturunan kerajaan yang sempat mengungsi untuk menghindari kejaran Belanda.

Hingga sekarang, tempat tersebut masih ramai dikunjungi oleh para pencinta sejarah, termasuk oleh keturunan kerajaan Kesultanan Banten

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kisah Situs Batu Tulis Muruy menjadi salah satu bukti kejayaan pemerintah sultan dalam memerdekakan Banten dari cengkeraman Belanda yang dikenal licik dan kerap menindas wilayah kekuasaannya agar lemah.

Ditemukan di Desa Murni Pada 1980

Ditemukan di Desa Murni Pada 1980
Dok. Istimewa

Mengutip YouTube Mang Dhepi, Situs Batu Tulis Muruy sebelumnya ditemukan di Kampung Muruy, Desa Murni, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Penemuannya terjadi secara tidak sengaja, ketika masyarakat sedang melakukan bersih-bersih kampung. Saat ditemukan pertama kali, posisi batu sedang terlilit akar pohon dan berada di antara semak belukar.

Posisinya berada persis di samping Sungai Cibenda yang mengalir di tengah-tengah Kabupaten Pandeglang menuju lautan lepas.

Ukiran Berbahasa Arab

Dalam laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, batu sendiri tampak dalam keadaan utuh dengan ukuran yang cukup besar. Tingginya hampir setara dengan manusia dewasa, dan memenuhi ruangan pelindungnya.

Di sana tertulis kaligrafi berbahasa Arab yakni “athal haman khomsatun anabu sahra al-sanatun” dan masih belum seluruhnya terbaca sempurna.

Namun di kalimat tersebut terdapat angka yang diduga sebagai tahun pembuatan dari kaligrafi tersebut yakni 1161 Hijriah, atau jika diterjemahkan adalah tahun 1741 masehi silam.

Dibuat oleh Keturunan Kesultanan Banten saat Melarikan Diri dari Belanda

Dibuat oleh Keturunan Kesultanan Banten saat Melarikan Diri dari Belanda
Dok. Istimewa

Jika dikaitkan dengan masa kekuasaan, ukiran diduga dibuat pada masa pemerintahan Raja Muhammad Syifa Zaenal Arifin yang berkuasa pada 1733 sampai 1750 M.

Berdasarkan literatur, sosok putra dari Nyi Kamilah yang merupakan keturunan Kesultanan Banten yang membuat ukiran tersebut. Saat itu, Nyi Kamilah bersama kedua putranya tengah melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda.

Kemudian setelah dewasa, putra-putranya pamit untuk kembali ke Kerajaan Surosowan untuk melawan kekejaman Belanda. Ditulis lah tahun pada masa itu, termasuk tujuannya kembali ke kerajaan yakni untuk mengembalikan kejayaan dan melepaskan Banten dari tangan penjajah Belanda.

Jadi Destinasi Sejarah

Saat ini situs batu tersebut sudah dijadikan sebagai salah satu destinasi bersejarah yang ada di Kabupaten Pandeglang. Lokasinya persis berada di pinggir Sungai Cibenda, dan terlindung di bawah rimbunnya pepohonan.

Setiap akhir pekan atau hari besar yang diadakan oleh keturunan Kerajaan Banten, lokasi ini selalu dipadati oleh banyak kalangan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Namun karena letaknya berada di pinggir sungai, maka keberadaannya juga cukup terancam lewat gerusan air sungai.

Rekomendasi