Mengunjungi Museum Bahari yang Dibangun Tahun 1652, Simpan Koleksi Rempah yang Jadi Buruan Penjajah

Ada ragam jenis rempah yang laku di masa silam tersimpan di Museum Bahari

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Mengunjungi Museum Bahari yang Dibangun Tahun 1652, Simpan Koleksi Rempah yang Jadi Buruan Penjajah
Ada ragam jenis rempah yang laku di masa silam tersimpan di Museum Bahari (© 2023 merdeka.com/Wikipedia)

Ada ragam jenis rempah yang laku di masa silam tersimpan di Museum Bahari.

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com/Wikipedia

Melimpahnya komoditas rempah membuah para penjajah Eropa tertarik untuk mengusai Indonesia di masa silam. Ratusan tahun lamanya, mereka memonopoli perdagangan di nusantara untuk meraup keuntungan yang besar.

Rempah menjadi barang yang lebih berharga daripada emas karena diincar oleh hampir seluruh negara. Sayangnya, banyak rakyat Indonesia yang dikorbankan dalam praktik ini melalui tindakan kolonialisme.

Berbicara soal jejak kejayaan rempah, Museum Bahari di Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, menjadi tempat yang cocok untuk napak tilas masa silam.

Kira-kira ada apa saja di sana? Berikut selengkapnya.

Mengutip YouTube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, Selasa (21/11), Museum Bahari Jakarta dulunya adalah sebuah gudang rempah.

Berbagai hasil Bumi, terutama pala dan cengkeh dari Maluku banyak tersimpan di sini sebelum diedarkan ke Eropa.

Menurut catatan sejarah, Museum Bahari Jakarta pertama dibangun pada 1652 secara bertahap saat VOC berkuasa.

Semua barang yang masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa akan disortir di bangunan museum yang dulunya gudang.

Menyimpan berbagai jenis kapal untuk aktivitas kebaharian
© 2023 merdeka.com/YouTube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX

Bangunan Museum Bahari berukuran cukup luas, dan memanjang. Ini memungkinkan fungsinya yang tak sekedar  menyimpan berbagai jenis rempah.

Di sini, pengunjung bisa melihat banyak koleksi kapal laut yang pernah berjasa untuk aktivitas kebaharian di nusantara.

Perahu-perahu yang tersimpan di antaranya perahu Sandeq dari Sulawesi Barat, perahu Cadik asal Papua, perahu Jegongan Indramayu sampai Compreng dari Cirebon.

Selain perahu khas Indonesia, di sisi lain bangunan Museum Bahari juga tersimpan berbagai koleksi biota laut khas nusantara. Tercatat juga wilayah sebaran, jenis, data serta asal usulnya.

Kemudian tersimpan juga koleksi perlengkapan perang pasukan laut, lagu-lagu tradisional masyarakat nelayan dan cerita demografinya.

Museum juga menampilkan koleksi kartografi, maket pulau Onrust, tokoh maritim nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam yang melegenda.

Bergaya ala abad pertengahan
© 2023 merdeka.com/YouTube Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX

Selain koleksinya yang menarik, bentuk bangunan dari Museum Bahari juga menyita perhatian para pecinta sejarah.

Terlihat seluruh bangunan di sana hampir mempertahankan bentuk aslinya sejak abad ke-17 silam.

Catnya didominasi warna putih, dengan desain fasad serta kusen pintu yang tinggi dan bermotif setengah kubah.

Lalu bentuk atapnya juga menggambarkan bentuk sebuah benteng, dengan hiasan jangkar di beberapa bagian pintunya.

Museum ini benar-benar menggambarkan era kejayaan rempah di Indonesia masa penjajahan.

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com
Rekomendasi