Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Pasar Ceplak, Surga Streetfood di Garut yang Terinspirasi Suara Orang Makan

Mengenal Pasar Ceplak, Surga Streetfood di Garut yang Terinspirasi Suara Orang Makan Pasar Ceplak Garut. ©2020 indonesia.go.id

Merdeka.com - Wisatawan yang berkunjung ke Garut kurang lengkap rasanya jika tak berburu beragam kuliner khas yang menggugah selera. Kota yang mempunyai julukan Kota Intan ini mempunyai beragam kuliner yang patut dicoba, mulai dari makanan manis, makanan asin, hingga minuman segar.

Salah satu tempat favorit yang bisa dikunjungi untuk berburu kuliner khas Garut adalah Pasar Ceplak. Di tempat ini,Anda bisa mendapatkan beragam jenis makanan mulai dari awug, sate kambing, hingga nasi liwet.

Pasar Ceplak buka mulai pukul 17.00 WIB hingga menjelang tengah malam Pukul 22.00 WIB.

Berawal dari Kesulitan Pangan Warga Garut

pasar ceplak garut

©2020 liputan6.com

Pasar yang berlokasi di Jalan Siliwangi No.33-55, Regol, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut ini memiliki sejarah yang cukup menarik.

Dilansir dari Indonesia.go.id, sejarah pusat kuliner di Kota Intan ini dimulai pada 1970-an di mana saat itu masyarakat Garut mengalami kesulitan untuk mendapatkan beras akibat kemarau panjang.

Ketika itu masyarakat banyak yang mengandalkan makanan ‘oyek’ yang merupakan beras berbahan dasar singkong untuk diolah maupun dikonsumsi. Pasar ceplak menjadi tempat favorit warga Garut untuk mendapatkan makanan yang tergolong mewah di masanya itu.

Asal Usul Nama Ceplak

Di tahun yang sama, banyak warga lokal yang berjualan oyek di tempat ini. Masyarakat Garut langsung menyantap sajian sederhana tersebut dengan lahap hingga terdengar suara dari mulut ketika memakannya.

Menurut informasi, istilah Ceplak berasal dari bahasa Sunda yang artinya mengecap saat makan, atau berbunyi saat makan. Mengingat banyak terjadi hal tersebut di lokasi tadi sejak saat itu warga setempat mulai menamai lokasi dengan nama Pasar Ceplak.

Menjual Makanan Tradisional Sejak 1940-an

pasar ceplak garut

indonesiakaya.com

©2020 Merdeka.com

Budayawan asal Garut, Franz Limiart, menyebutkan jika sejak dahulu pasar ceplak sudah menjadi surga kuliner di wilayah Garut. Ia menyebut pada 1940-an, masyarakat di wilayah Garut kota banyak yang menjajakan kue tradisional mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul tengah malam.

Masyarakat kerap menjajakan makanan khas tradisional di sekitar Babancong (bangunan unik) di depan rumah dinas bupati (Pendopo) alun-alun hingga pukul 24.00 WIB.

Makanan yang dijajakan pun cukup beragam, mulai dari gurandil, kelepon, papaisan (pepes) ikan hingga ayam, jalabria (gemblong), dan cucur.

Lama kelamaan warga pun mulai memadati lokasi sekitar untuk membeli makanan-makanan tersebut.

Favorit Warga Saat Ngabuburit

Pasar ceplak juga menjadi salah satu tujuan warga Garut saat ngabuburit di bulan Ramadan, di mana para warga banyak berkumpul untuk mencari hidangan khas untuk bersantap menu buka puasa.

Harga Ramah di Kantong

Selain ragam kuliner dan kudapannya yang membuat lidah bergoyang, harga makanan yang cukup terjangkau semakin mengukuhkan citra pasar ceplak sebagai surganya kuliner di kawasan Garut kota.

Beragam makanan di sana dijual dengan harga yang relatif murah serta terdapat ratusan lapak kaki lima yang berjajar saling menebar pesona.

Untuk berbagai jajanan pasar dibanderol mulai dari Rp6.500 dengan beberapa isian seperti lupis, putu mayang, gurandil dan jewel, hingga soto dan ayam goreng dengan harga sekitar Rp20.000.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP