Mengenal Mania dan Hipomania pada Gangguan Bipolar, Kenali Gejala dan Perbedaannya
Merdeka.com - Jika Anda mengalami gangguan bipolar, atau hidup bersama seseorang dengan kondisi tersebut, Anda mungkin tak asing dengan istilah mania dan hipomania. Mungkin sulit untuk mengetahui yang mana yang sedang dialami, terutama ketika salah satu di antaranya terjadi. Tetapi ada perbedaan utama yang harus diwaspadai.
Menurut American Psychiatric Association, mania berlangsung setidaknya selama seminggu atau lebih, dan biasanya menjadi tanda dari gangguan bipolar I. Sedangkan hipomania dapat berlangsung untuk waktu yang lebih singkat dan dapat terjadi pada gangguan bipolar I atau bipolar II.
Perbedaan utama antara mania dan hipomania adalah dampak yang ditimbulkannya. Episode manik terjadi lebih intens dan memiliki dampak yang besar pada kehidupan Anda, seperti pada kehidupan sosial, pekerjaan, dan pribadi.
Di sisi lain, episode hipomanik juga cukup menantang, tetapi tidak menyebabkan masalah besar dalam keseharian seseorang. Berikut ini, kami akan bahas lebih lanjut tentang mania dan hipomania beserta gejala yang bisa muncul.
Mania dan Hipomania
Apa itu Mania?
Mengutip dari mind.org.uk, mania berlangsung selama seminggu atau lebih dan memiliki dampak negatif yang parah pada kemampuan Anda untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Kondisi ini bahkan dapat menghambat Anda melakukan kegiatan. Mania yang parah sangat serius, dan seringkali perlu dirawat di rumah sakit.
Mania dapat terjadi pada orang dengan gangguan bipolar I. Dalam banyak kasus bipolar I, episode manik dapat bergantian dengan periode depresi. Namun, orang dengan gangguan bipolar I tidak selalu memiliki episode depresi, dan sangat umum bagi seseorang memiliki suasana hati yang lebih khas di antara episode.
Apa itu Hipomania?
Hipomania berlangsung selama beberapa hari, dan lebih mudah diatur daripada mania. Namun, kondisi ini masih memiliki efek mengganggu pada hidup dan orang-orang mungkin melihat perubahan dalam suasana hati dan perilaku Anda. Tetapi Anda biasanya masih dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari tanpa terpengaruh.
Orang dengan gangguan bipolar II mungkin mengalami hipomania yang bergantian dengan depresi, atau mereka mungkin memiliki keadaan emosi yang lebih khas di antaranya.
Gejala Mania dan Hipomania
Meskipun intensitasnya bervariasi, sebagian besar gejala mania dan hipomania sama. Dikutip dari Healthline, gejala utamanya meliputi:
Sedikit perbedaan antara mania dan hipomania meliputi:
Mania
Hipomania
Perilaku sangat ekstrem sehingga aktivitas rutin akan terhambat.
Orang-orang mungkin melihat perubahan, tetapi aktivitas rutin Anda masih bisa berjalan.
Delusi atau halusinasi dapat terjadi.
Biasanya, delusi dan halusinasi tidak terjadi.
Perasaan tak terkalahkan.
Pengambilan risiko adalah hal biasa.
Anda mungkin merasa "terlepas" dari kenyataan.
Anda mungkin merasa mudah terganggu.
Namun, selama fase manik atau hipomanik, Anda mungkin tidak akan mengenali perubahan ini dalam diri Anda.
Gejala mania yang lebih parah
Tidak seperti episode hipomanik, episode manik dapat menyebabkan konsekuensi serius. Ketika mania mereda, Anda mungkin mengalami penyesalan atau depresi atas hal-hal yang telah Anda lakukan selama episode tersebut.
Dengan mania, Anda mungkin juga akan terputus dengan kenyataan. Gejala psikotik dapat meliputi:
Penyebab dan Faktor Risiko
Mania dan hipomania adalah gejala umum dari gangguan bipolar. Namun, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh:
Penyebab pasti dari gangguan bipolar masih belum jelas. Riwayat keluarga mungkin juga berperan. Anda mungkin lebih mungkin dapat mengembangkan gangguan bipolar jika memiliki riwayat penyakit dalam keluarga.
Struktur otak mungkin juga dapat berperan, meski tidak ada penelitian yang cukup untuk menarik kesimpulan terkait hal ini.
Anda berada pada peningkatan risiko mania atau hipomania jika Anda sudah mengalami episode. Risiko Anda juga dapat meningkat jika Anda memiliki gangguan bipolar dan tidak minum obat sesuai dengan resep dokter.
Perawatan Mania dan Hipomania
Untuk mengobati mania dan hipomania, dokter mungkin meresepkan psikoterapi serta obat-obatan. Obatnya bisa termasuk penstabil suasana hati dan antipsikotik.
Anda mungkin perlu mencoba beberapa obat yang berbeda sebelum dokter menemukan kombinasi yang tepat untuk mengobati gejala secara efektif. Penting bagi Anda untuk minum obat sesuai resep dokter. Bahkan jika Anda memiliki efek samping dari obat-obatan, dapat berbahaya untuk berhenti minum obat tanpa pengawasan dokter.
Jika Anda memiliki masalah dengan efek samping obat, bicarakan dengan dokter. Mereka mungkin dapat mengalihkan Anda ke jenis pengobatan lain yang tidak terlalu sulit bagi tubuh Anda.
Untuk hipomania, seringkali dapat diatasi tanpa obat. Kebiasaan gaya hidup sehat dapat membantu, seperti:
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya