Melihat Tradisi Jaran Lumping Asli Cirebon, Sudah Ada Sejak Abad ke-15
Merdeka.com - Masyarakat di Cirebon, Jawa Barat memiliki kesenian unik bernama Jaran Lumping. Tradisi ini biasanya dipentaskan saat momen tertentu, salah satunya khitanan anak-anak. Berdasarkan pengakuan masyarakat setempat, kesenian Jaran Lumping sudah eksis sejak abad ke-15.
Mengutip dari laman resmi Kemdikbud, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah yang memerintah daerah Cirebon selalu menggunakan medium kesenian untuk mengenalkan agama Islam. Saat itu, kesenian Jaran Lumping menjadi media yang dipakai.
Jaran Lumping berasal dari bahasa Jawa Cirebon, yakni Jaran yang berarti kuda dan Lumping yang berarti kulit. Jika diterjemahkan artinya permainan kuda yang dibuat dari bahan kulit.
Jadi Media Dakwah

©2022 Laman Resmi Kebudayaan Kemdikbud/Merdeka.com
Mulanya, kesenian Jaran Lumping selalu dimainkan oleh masyarakat di wilayah Keraton Pakungwati di Cirebon. Saat itu kesenian mirip Kuda Lumping ini digemari oleh hampir seluruh lapis masyarakat.
Merujuk laman Blog Negeri Sendiri, Jaran Lumping juga memiliki versi arti lain yakni “Ajaran Kang Lempeng”, atau bisa dimaknai sebagai ajaran yang lurus tentang agama Islam.
Dari setiap gerakan yang dimainkan, terdapat simbol yang tersirat dengan maksud mengajak umat muslim agar memiliki mempraktikkan banyak kebaikan seperti pikiran, ucapan, perilaku, hingga perbuatan.
Para pemainnya yang mengenakan kacamata hitam juga menyimbolkan agar manusia bisa menahan diri dari silaunya nafsu duniawi.
Diiringi Gamelan Renteng
Para pemain sendiri akan dengan lincah menari mengikuti iringan nada yang dimainkan melalui alat musik Gamelan Renteng. Alat musik tersebut merupakan seperangkat instrumen tradisional yang terdiri dari kenong, gong, hingga kendang.
Berdasarkan asal usulnya, Gamelan Renteng mulanya dimiliki oleh Keraton Kasultanan Demak, Jawa Tengah. Saat itu rombongan dari Cirebon yang terdiri dari Sunan Gunung Jati serta Syekh Sinduaji Ki Gedeng Gamel menghadiri sebuah undangan di sana.
Saat dipentaskan, Ki Gendeng Gamel sangat terpesona dengan alat musik besi itu hingga berniat memintanya kepada Sultan Demak. Dengan berat hati, gamelan tersebut dilepas kepada Ki Gendeng Gamel dengan syarat harus dibawa sekaligus dalam satu waktu.
Tanpa berpikir panjang, seperangkat Gamelan Renteng berhasil diangkut melalui kesaktian batang padi yang dibuat sebagai pengikat hingga terlihat berjajar (renteng), dari situ penamaan gamelan renteng berasal.
Adapun ide gamelan renteng sebagai pengiring Jaran Lumping diinisiasi oleh salah satu patih Cirebon, di mana ia merasa terkesima dengan lantunan gamelan yang dibawa Ki Gendeng Gamel serta kesenian Jaranan yang dimainkan sehingga disatukan.
Jaran Lumping Dimainkan oleh Perempuan Maupun Laki-laki
Dalam pementasannya sendiri, Tari Jaran Lumping akan dimainkan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Para pemain Jaran Lumping akan mengenakan kacamata hitam dan mengalami kehilangan kesadaran.
Mereka akan didampingi pawang, sebagai pengendali ketika para pemain kuda kehilangan kendali saat kesurupan. Pawang juga berfungsi mengatur jalannya permainan Jaran Lumping.
Biasanya, kesenian tersebut juga diiringi oleh musik tarling tradisional khas Cirebon, maupun tarling kontemporer dengan tema lagu kekinian.
Sayangnya, kesenian Jaran Lumping mulai jarang dipentaskan salah satunya karena kurangnya minat dari generasi muda.
Untuk saat ini, Sanggar Seni Purwagalih yang terletak di Desa Suranenggala Lor, Kecamatan Suraneggala, Kabupaten Cirebon masih mempertahankan tradisi tersebut.
Lakukan Atraksi Berbahaya

Atraksi Jaran Lumping di Desa Gebang, Cirebon saat akan menginjak pecahan kaca
©2022 YouTube HC Bae/Merdeka.com
Keunikan lain dari kesenian Jaran Lumping, adalah adanya atraksi berbahaya. Sejumlah pemain jaranan yang kesurupan akan dikendalikan oleh dukun, dan melakukan tindakan yang ekstrem seperti berjoget di atas pecahan kaca, memakan rumput, hingga mengunyah lampu bohlam.
Di daerah Celancang, juga diketahui memiliki sejumlah variasi Jaran Lumping seperti, Sekar Nembe, Bopong, Tremben, Si Mendung dan Sembrani dengan masing-masing corak gambarnya yang khas.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya