Kreatif, Desa Terpencil di Bogor Ini Gunakan Turbin dari Pelek Motor Bekas untuk Aliri Listrik

Untuk saat ini turbin tidak bisa beroperasi karena terkendala kemarau

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Kreatif, Desa Terpencil di Bogor Ini Gunakan Turbin dari Pelek Motor Bekas untuk Aliri Listrik
Kreatif, Desa Terpencil di Bogor Ini Gunakan Turbin dari Pelek Motor Bekas untuk Alirkan Listrik (© 2023 merdeka.com/YouTube Petualangan Alam Desaku)

Aliran listrik masih belum dinikmati oleh beberapa kampung, salah satunya di Cipacar, Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Untuk mengatasi hal ini, warga setempat kemudian membuat pembangkit listrik sederhana berbentuk kincir. Bukan dari lempengan baja, melainkan sisa pelek motor yang tak terpakai.

Gerakan kincir sendiri muncul dari selokan kecil yang mengalir di bawahnya. Saat pelek bekas itu berputar, sistem kelistrikan muncul lewat turbin yang tersambung dengan pelek.

Warga kemudian akan mendapatkan cahaya lampu melalui pola paralel yang saling terhubung ke beberapa rumah di sana. Yuk simak informasi selengkapnya.

Dinukil dari kanal YouTube Petualangan Alam Desaku, Selasa (10/10), Kampung Cipacar sendiri memang belum teraliri listrik.

Kondisi ini membuat beberapa warga menginisiasi pembuatan kincir air sederhana yang terbuat dari pelek bekas yang diikat dengan wadah bambu.

Tempat mirip gelas itu yang kemudian mampu jadi penggerak kincir air.
Pelek juga terkait dengan tali karet yang terpasang di dinamo sebagai turbin. Aliran listrik kemudian terhasilkan dari dinamo tersebut.

Warga gunakan lampu teplok
Dok. Istimewa

Sebelum menggunakan kincir, warga sendiri banyak menggunakan lampu teplok sebagai penerangan di rumah.

Namun setelah ada kincir, listrik untuk penerangan bisa teralirkan di sekitar 4 rumah di Cipacar.

Walau demikian, kinci tersebut masih belum berfungsi optimal karena saat ini masuk musim kemarau panjang.

“Jadi ini akal-akalan sederhana saja supaya bisa nyala,” kata pembuat kincir air, Nasim

Menurut Nasim, kincir air tersebut tidak bisa berjalan saat ini karena saluran irigasi di area persawahan itu masih mengering. Kondisi ini sudah berlangsung selama kurang lebih 3 bulan.

Nasim menduga, air akan mengalir kembali dan menggerakkan turbin tersebut sekitar dua bulan mendatang.

“Kalau sekarang ya nggak nyala, nggak ada airnya. Mungkin (menyala kembali) sekitar dua bulanan, lebih,” katanya.

Warga gunakan lampu teplok sampai aki
Dok. Istimewa

Dikarenakan tidak adanya aliran listrik akibat saluran irigasi yang mengering, warga sekitar lantas mensiasatinya dengan menggunakan penerangan tradisional berupa teplok.

Kemudian, warga lain juga ada yang menggunakan aki untuk mengaliri listrik penerangan di rumahnya.

“Sekarang pakai aki dari panel (surya) kecil. Dan ini tergantung panasnya, kadang sampai pagi kadang tidak,” pungkas Nasim. 

Adapun kondisi kampung di lokasi sendiri tampak asri, dengan rimbunnya pepohonan di area perbukitan.

Selain itu, bentangan sawahnya juga luas dan menjadi pemandangan yang menyejukkan saat berkunjung ke sana.

Yang menarik, desa tersebut tetap terlihat hijau dan asri, walau masih masuk musim kemarau.

“Jadi kawan-kawan, memang untuk di lingkungan kang Nasim ini, keasriannya tak perlu diragukan lagi, ini kebetulan musim kemarau jadi sedikit kering, tapi nanti kalau hujan serempak akan hijau,” kata konten kreator.

Rekomendasi