Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kampung Dukuh di Pedalaman Garut Berusia 4 Abad dan Bersahabat dengan Alam

Kampung Dukuh di Pedalaman Garut Berusia 4 Abad dan Bersahabat dengan Alam Kampung Religi Dukuh, Garut ©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Merdeka.com - Rimbunnya hutan di sisi Selatan Garut menyebabkan akses modernisasi di kampung ini terbentengi. Mayoritas Kampung Dukuh bermata pencaharian sebagai petani di sawah dan ladang. Rumah-rumah merekapun terbuat dari kayu dan atapnya dari daun ilalang.

Jauh dari kesan modern, bahkan Kampung Dukuh tidak ada seorangpun yang menggunakan peralatan elektronik. Ketika malam tiba, lampu cempor atau lampu tradisional yang mengandalkan api dan minyak tanah. Begitupula untuk memasak yang kini dengan modernisasi kompor gas, warga Kampung Dukuh justru masih mengandalkan kayu bakar.

kampung religi dukuh garut

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Hidup berdampingan secara baik dengan hutan adalah visi Kampung Dukuh, Garut. Bahwa “Hutan bukan warisan, tetapi titipan untuk sumber daya kehidupan kita bersama”. Visi tersebut terpatri dalam batu marmer sebagai cara bertahan hidup jauh dari modernisasi.

Setidaknya ada 42 rumah dan 1 masjid sebagai pusat peribadatan di Kampung Dukuh. Terbagi sejumlah 172 orang untuk Kampung Dukuh Dalam, dan 70 kepala keluarga wilayah Kampung Dukuh Luar.

kampung religi dukuh garut

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Kampung Dukuh secara administratif di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Garut, Jawa Barat.Kampung Dukuh punya sejarah panjang yang masih dipertahankan hingga kini. Didirikan oleh seorang ulama pada abad ke-17 bernama Syekh Abdul Jalil. Kala itu wilayah Sumedang dipimpin oleh Bupati Rangga Gempol II. Atas saran dari Raja Mataram, Syekh Abdul Jalil diminta oleh Rangga Gempol II untuk menjadi seorang kepala agama. Saat itu ia menerima tawaran dengan syarat yang harus ditaati sebagai perjanjian.

Secara geografis memiliki wilayah yang terisolir. Sebelah utara dibatasi oleh Gunung Ragas, Samudera Hindia di selatan, Sungai Cipasarangan , Sungai Cimangke di sebelah Timur dan Barat.

kampung religi dukuh garut

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Hanya 2 syarat agar Syekh Abdul Jalil berkehendak menjadi pemuka agama di Sumedang. Seluruh elemen masyarakat Sumedang dilarang melanggar hukum Islam, serta Bupati dan rakyatnya harus bersatu. Namun apa daya selang 12 tahun, kesepakatan tersebut dilanggar oleh sang bupati sendiri. Ia tega membunuh utusan dari Kerajaan Banten, karena tidak mau tunduk ke Kerajaan Banten.

Hal tersebut membuat Syeh Abdul Jalil merasa dihianati. Padahal, kesepakatan menyebutkan tidak ada pembunuhan, perzinaan, merampok beserta perbuatan buruk lainnya. Syekh Abdul Jalil lantas angkat kaki dan pergi menuju ke Selatan. Sampailah ia di tempat yang kini berdiri Kampung Dukuh. Sesuai dengan ajaranya, kampung Dukuh selalu mempertahankan syariat Islam sebagai aturan adat yang berlaku.

Kampung Dukuh sendiri dahulunya bernama padukuhan. Yang sama artinya dengan padepokan sebagai tempat di mana orang bisa tinggal dan mendekatkan diri pada Yang Maha Esa.

kampung religi dukuh garut

©2021 Merdeka.com/Reival Akbar

Dahulu, kebakaran berulang kali melanda Kampung Dukuh. Salah satunya pada tahun 2010 yang meluluhlantahkan 40 rumah tradisional mereka. Bahkan literasi sejarah Kampung Dukuh dengan arab gundul berbahasa Sunda turut musnah. Kini,ciri khas Kampung Dukuh telah direkonstruksi atas bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar 1 Milyar.

Atas jasa dan keberhasilan Syekh Abdul Jalil menyebakan syiar Islam, Kampung Dukuh masih bertahan hingga kini. Setiap hari sabtu warga selalu berziarah ke makam Syekh Abdul Jalil. Warga luar juga diperkenankan berziarah dengan menjalankan aturan adat yang berlaku di Kampung Dukuh. (mdk/Ibr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP