Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jadi Sahabat Anak Kos di Jogja, Begini Sejarah Munculnya Warung Burjo Asal Kuningan

Jadi Sahabat Anak Kos di Jogja, Begini Sejarah Munculnya Warung Burjo Asal Kuningan Ilustrasi warung burjo. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Bagi anak kos, terutama kalangan mahasiswa di Yogyakarta pasti mengenal dengan tempat makan sederhana bernama Warung Burjo (bubur kacang ijo).

Kedai bercorak merek mie instan atau minuman kopi instan terkenal ini menjual sajian bubur kacang ijo dan beragam makanan. Selain itu, yang menjadi ciri khas tempat makan ini adalah harganya relatif murah.

Burjo sering dijadikan tempat berkumpul mahasiswa, entah untuk sekadar makan, atau nongkrong mengerjakan tugas. Di balik populernya tempat makan yang menjadi incaran para mahasiswa ini, ternyata warung burjo punya kisah sejarah yang unik, lho.

Berasal dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

sejarah burjo di jogja

Rurah Salim saat berjualan burjo secara berkeliling

©2020 Merdeka.com

Dilansir dari Facebook My Trip My Adventure Kuningan WEST JAVA, Burjo pertama kali dibawa oleh Rurah Salim, dua tahun setelah Indonesia merdeka. Ia melakukan eksperimen terhadap kacang hijau karena saat itu beras sangat sulit untuk didapatkan akibat krisis pangan pasca perang dunia II.

Salim mencoba membuat olahan panganan berbahan kacang hijau dengan menggunakan seeng atau dandang berukuran cukup besar. Ia membagikan kepada para tetangga sebagai upaya uji coba.

Merasa mendapat tanggapan positif, Salim lantas mulai berjualan berkeliling ke sekitar wilayah Kuningan kota. Ia menempuh rute terminal kota (sekarang depan masjid alun-alun kota), pasar lama, pertokoan Jalan Siliwangi, perempatan Jalan Citamba, dan berakhir mangkal di pasar tradisional yang berdekatan dengan ex. bioskop Ciremai dan ex. Kantor Mapolres (sekarang jalan Langlang Buana).

Membuka Kedai di Pusat Kota

Terus mendapatkan hasil penjualan yang baik dan menguntungkan, pria yang juga dikenal sebagai Lurah (kepala desa) itu lantas mengajak istrinya untuk berjualan menetap di kawasan pusat kota. Lokasinya dekat alun-alun, dan membuka kedai sederhana.

Saat itu, banyak masyarakat yang tertarik dengan penganan yang dijadikan makanan utama masyarakat Kuningan. Tak hanya mengenyangkan, kandungan nutrisi bubur kacang hijau ini juga menyehatkan.

Sejak Salim dan istrinya membuka kedai sederhana tersebut, lambat laun masyarakat sekitar Kuningan pun banyak yang mengikuti jejaknya. Bahkan, banyak dari mereka berjualan hingga ke luar kota, seperti Jakarta, Jogja, Bandung dan sebagainya.

Cabang Pertama di Kawasan Pogung, Yogyakarta

Dalam blog yang ditulis oleh Dedy-styawan, disebutkan jika pertama kali burjo muncul di Yogyakarta adalah di kawasan Pogung, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di tahun 1989, warung burjo sederhana dijumpai di atas kawasan Selokan Mataram. Saat itu, bangunan burjo hanya berupa bilik bambu sederhana dengan ornamen khas Sunda.

Burjo tersebut didirikan oleh keluarga Pak Pai, dari Kabupaten Kuningan, dengan hanya menjual bubur kacang hijau dan mie instan.

Fenomena Berubahnya Fungsi Burjo

Di tahun 2009, terjadi kenaikan komoditas kacang hijau yang cukup besar. Bahkan disebutkan, satu kilogram kacang hijau serupa dengan 3 kilogram beras.

Sejak saat itu, warung warung burjo di Kota Yogyakarta mulai beralih dengan menjajakan beragam menu olahan nasi, seperti nasi telur, nasi goreng, nasi sarden hingga nasi sayur dan lauk pauk.

Menu masakan di warung burjo, beralih layaknya warteg dan mulai berubah nama menjadi Warmindo. Nama ini merujuk kepada sebuah merek mie instan yang populer di Indonesia.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP