Jamasan Gerbong Maleman, Tradisi Perayaan Malam Lailatul Qadar di Keraton Kasepuhan
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 di Bulan Ramadan tahun ini tidak menghilangkan tradisi sakral yang biasa dilaksanakan oleh Keraton Kasepuhan. Menyambut datangnya malam lailatul qadar, keraton yang terletakdi Kota Cirebon menggelar tradisi Jamasan Gerbong Maleman.
Kegiatan yang biasa dilakukan pada masa 10 malam terakhir Bulan Ramadan tetap terlaksana di tengah pandemi corona. Acara digelar dengan sangat sederhana namun tetap khitmad. Tentunya tak mengurangi nilai kesakralan dari tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun tersebut.
Patuhi Protokol Covid

Tradisi Jamasan Gerbong/ Liputan6 ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari Liputan6, Sultan dari Keraton Kasepuhan, PRA Arif Natadiningrat menyatakan bahwa untuk pelaksanaan Jamasan Gerbong Maleman, atau menyambut malam lailatul qadar tahun ini akan sedikit berbeda.
Yang paling terlihat adalah jumlah orang dan pelaksanaan prosesinya. Hal tersebut dilakukan semata mata untuk menaati protokol pencegahan Covid-19.
"Jumlahnya tidak banyak kemudian kami mematuhi protokol covid-19 salah satunya pakai masker," kata Sultan Arief, Rabu (13/5/2020).
Selain itu dalam pelaksanaan Jamasan Gerbong Maleman tahun ini pihak keraton tidak melibatkan kaum ibu atau perempuan di keraton.
Pelaksanaan Prosesi Jamasan Gerbong Maleman

Tradisi Jamasan Gerbong/ Akun Youtube Wawasan Budaya Nusantara ©2020 Merdeka.com
Seperti yang dikutip dari Antara, Tradisi Jamasan Gerbong Maleman dilakukan pada malam ganjil Bulan Ramadan melalui serangkaian acara. Seperti menerangi makam Sunan Gunung Jati serta Sultan Sepuh XIII dengan lilin dan memberi sajian untuk mengharumkan kedua makam tersebut melalui Sajian Maleman.
Jamasan sendiri memiliki arti Pencucian Pusaka Keraton yang dipakai untuk melengkapi prosesi Malam Lailatul Qadar di Keraton. Sedangkan untuk Gerbong sendiri berarti kotak yang dipakai untuk memuat peralatan yang diperuntukan pada pelaksanaan prosesi Saji Maleman di makam Sunan Gunung Jati dan Sultan Sepuh XIII.
Selain itu, prosesi lainnya yang biasa dilakukan adalah dengan menaruh saji maleman. Sajian tersebut terdiri dari delepak yang berupa bahan yang terbuat dari kapas dan minyak kelapa dan Ukup yang terbuat dari kayu-kayuan serta akar wangi yang dicacah. Kedua bahan kemudian disangrai dengan gula merah.
"Tradisi Jamasan sudah kemarin dan kita fokus tradisi di kompleks makam menyambut Malam Lailatul Qadar," ujar Sultan Arief dilansir dari Liputan6.
Disambut Secara Gembira di Tengah Pandemi

Tradisi Jamasan Gerbong/ Akun Youtube Wawasan Budaya Nusantara ©2020 Merdeka.com
Sultan Arief mengatakan jika kita harus tetap melaksanakan tradisi sekali dalam setahun ini secara gembira meski di tengah pandemi Covid-19. Selama masih menerapkan protokol kesehatan, Jamasan Gerbong Maleman dipastikan dapat terlaksana dengan baik.
"Ibadah Ramadan kan harus dijalankan, begitu juga dengan tradisi Jamasan Gerbong Maleman dan ini dalam rangka menyambut malam lailatul qadar," ujar Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, seperti dikutip dari Antara, Rabu (13/5/2020)
Filosofi Tradisi Jamasan Gerbong

Tradisi Jamasan Gerbong/Akun Youtube Wawasan Budaya Nusantara ©2020 Merdeka.com
Menurut Sultan Sepuh PRA Arief Natadiningrat dari laman Liputan6, Jamasan Gerbong Maleman memiliki makna mensucikan dan mewangikan diri dalam menyambut datangnya para malaikat di malam 1000 bulan. Serta menerangi hati agar tetap memahami arti dari malam seribu bulan di Bulan Ramadan atau malam lailatul qadar
"Kita harus menyambut malaikat dengan bersih, wangi, dan terang, melalui salat, zikir, doa, yang kita panjatkan. Insya Allah para malaikat turun ke bumi membawa rahmat magfirah taufik dan hidayah Allah SWT untuk umat yang betul-betul dikehendaki-Nya," harap Arief.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya