Minggu, 5 Mei 2024, sorot matahari tak begitu terik di kawasan wisata Gunung Pinang, Kota Serang. Hanya ada beberapa pengunjung, termasuk komunitas sepeda gunung yang lego jangkar di sana usai seharian melakukan penjelajahan.
Area ini memang tak seperti tempat wisata lain macam Banten lama, maupun pantai Anyer yang selalu dipadati pengunjung. Akses jalan yang kurang bagus, diduga jadi alasan area ini sepi pengunjung.
Walau tidak begitu populer, wisata Gunung Pinang punya sejumlah daya tarik yang kiranya sayang dilewatkan. Pemandangan kota dari atas ketinggian, suasana yang teduh dengan beberapa spot selfie estetik, termasuk rindangnya pepohonan yang tertata rapi jadi daya pikatnya.
Tak kalah menarik adalah cerita turun-temurun dari tempat ini yang kabarnya terbentuk dari kemarahan seorang ibu terhadap putra kandungnya yang durhaka. Tempat ini seakan membawa pesan agar anak-anak bisa menghormati orang tua mereka terutama sang ibu yang sudah mengandung dan melahirkan dengan bertaruh nyawa.
Pemandangan Kota Serang dari atas ketinggian.
(Gambar: YouTube Traveling All In)
Advertisement
Advertisement
Suasana di lokasi benar-benar tenang, dan cocok untuk healing.
Deretan pepohonan yang tumbuh di lokasi seolah menjadi atap hidup dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang membuat tubuh rileks.
Menurut seorang travel vlogger di kanal YouTube Traveling All In, kawasan ini jadi wisata alam yang ada di tengah Kota Serang.
Aksesnya juga bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat, namun dengan kondisi jalan yang berbatu dan belum diperbaiki.
“Suasana Gunung Pinang ini mantap, kotanya kelihatan dari atas. Pokoknya tempat ini buat healing, buat wisata, buat tenangin diri cocok, ini,” kata pembuat video.
Advertisement
Sebenarnya, di Gunung Pinang terdapat dua jembatan estetik untuk berswafoto maupun menyaksikan pemandangan Kota Serang dan Cilegon dari ketinggian. Namun salah satu di antaranya mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa digunakan.
Untuk satu jembatan yang masih bisa berfungsi, terdapat maskot bergambar kupu-kupu sebagai ikon untuk berswafoto.
Warna dari jembatan tersebut amat cantik, gabungan dari merah, kuning, biru, hijau dan lainnya. Konstruksinya juga memakai besi, dan masih terbilang sangat aman. Sejak pembukaannya di 2020 lalu, jembatan ini selalu jadi favorit untuk berswafoto.
Advertisement
Bagi yang membawa anak, terdapat wahana yang juga aman untuk anak-anak yakni ayunan.
Lalu ada juga bangunan semi tertutup yang cukup luas, dan bisa digunakan untuk rapat maupun berkumpul dengan komunitasnya.
Untuk jalan setapak, kondisinya cukup bagus karena sudah diperkeras dengan menggunakan paving block. Rute tersebut bisa jadi jalur jogging track maupun sepeda gunung downhill.
Jika ingin beribadah, pengelola menyediakan musala kecil, termasuk toilet dengan fasilitas air jernih. Beberapa tempat duduk dengan atap bisa jadi spot istirahat yang nyaman di puncak Gunung Pinang. Harga tiketnya Rp10 ribu per orang dengan biaya tambahan parkir Rp5 ribu.
Advertisement
Mengutip Liputan6, kawasan Gunung Pinang konon terbentuk dari kemarahan seorang ibu terhadap anak kandungnya. Kejadian ini bermula saat sang anak bernama Dampu Awang melihat sebuah kapal raksasa milik seorang saudagar dari pulau seberang.
Ia kemudian berlari dari gubuk tuanya untuk menghampiri kapal tersebut. Merasa takjub karena belum pernah dilihatnya. Di saat yang bersamaan, utusan dari kapal mengajak Dampu Awang untuk bekerja di kapal tersebut, dan Dampu Awang menyetujui.
Mendapat kabar tersebut, Dampu Awang bergegas menemui sang ibu untuk meminta izin sekaligus pamit. Dengan berat hati, sang ibu kemudian mengizinkannya namun Dampu Awang dimina membawa burung untuk mengabarkan kondisinya.
Advertisement
Setelah Dampu Awang berusia dewasa, saudagar tersebut berupaya menjodohkannya dengan sang putri.
Perayaan pesta kemudian diadakan dengan sangat meriah dan spektakuler hingga satu tahun kemudian sang saudagar meninggal dunia.
Seluruh harta kekayaan otomatis jatuh keada Dampu Awang dan sang istri. Keduanya telah dikenal sebagai saudagar kaya. Mendapati kondisi demikian, ia berniat mengajak istrinya menemui kampung halaman di Serang.
Saat di pantai, terdapat perempuan renta yang menghampirinya. Perempuan itu rupanya sang ibu yang senang putranya kembali dalam keadaan lebih baik. Namun Dampu Awang justru tak mengakui perempuan tua itu sebagai ibu kandung yang dianggap sudah meninggal.
Alangkah sedihnya ketika seorang ibu yang sudah tua, menangis sambil mendoakan anaknya agar mendapat hukuman karena telah durhaka kepada orang tua. Ketika itu, sang ibu merasa kesal dan kecewa atas sikap putranya.
Advertisement
Dampu Awang dan sang istri serta pengawalnya kembali ke kapal dan hendak melanjutkan perjalanan. Di kondisi itu sang ibu mendoakan, jika dia bukan putranya biarkan pergi dengan selamat, namun jika ia petakalah yang menghampirinya.
Benar saja, di tengah rasa marah itu, kemudian muncul badai besar.
Tiba-tiba badai dan angin laut super dahsyat
memporakporandakan kapalnya.
Burung yang dijadikan penyampai pesan sebenarnya sudah memperingatkan Dampu Awang agar meminta maaf, namun sudah terlambat karena rasa kecewa dari ibunya yang teramat dalam.
Dari sini tersirat pesan agar anak wajib menghormati dan menghargai keberadaan sosok ibu sebagai penyelamat di dunia. Kapal yang ditumpangi lantas terbalik, dan konon menjadi Gununung Pinang yang kini sebagai wisata hits di Kota Serang.