Cerita Sukses Kelompok Tani Milenial Bandung, Ekspor 1,2 Ton Buncis Mini ke Singapura
Merdeka.com - Mewabahnya Covid-19 di seluruh dunia membuat berbagai sektor logistik dan pangan mengalami imbas yang luar biasa. Salah satunya adalah para petani yang tidak berdaya digerus masa pandemi berkepanjangan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para petani milenial di Lembang, Jawa Barat untuk menyerah terhadap masa sulit.
Para petani muda yang tergabung ke dalam kelompok tani Macakal justru menjadikan masa pandemi sebagai ajang untuk bereksperimen dalam mengembangkan hasil tani di wilayah Cibodas. Salah satu yang sukses dikembangkan di masa sekarang adalah Baby Buncis atau French Bean.
Mengembangkan Komoditas Berbasis Holtikultura

Tanaman Baby Buncis/ topbusiness.id ©2020 Merdeka.com
Seperti yang dikutip dari distan.jabarprov.go.id, rencana pengembangan tersebut berawal dari ketekunan memberdayakan tanaman Holtikultura Berbasis Diferensiasi Advantage yang berbeda dari proses penanaman tanaman sejenis lainnya yang cenderung lebih berkualitas dan bisa meyakinkan pangsa pasar di dalam negeri maupun luar negeri.
Sayuran Baby Buncis dari Kelompok Tani Macakal saat ini banyak diminati oleh beberapa pasar modern di beberapa kota besar di Indonesia. Baby Buncis juga telah tersedia di beberapa supermarket di Jakarta dan Bandung dengan harga mulai dari Rp 18.000 per kilogram.
Diminati Pasar Singapura

Baby Buncis yang siap di ekspor
distan.jabarprov.go.id ©2020 Merdeka.com
Dilaporkan dari topbusiness.id, di masa pandemi ini permintaan Baby Buncis justru meningkat terutama dari konsumen di Singapura. Total 1,2 ton sayuran bernama latin phaseolus vulgaris tersebut telah di kirim ke beberapa toko sayuran modern di negara bersimbol patung singa itu.
Triana Andri, selaku ketua kelompok tani menyebutkan bahwa dalam sebulan kelompoknya bisa memperoleh omzet Rp 200 hingga Rp 300 juta rupiah dari hasil bertani sayuran Baby Buncis.
Triana juga mengungkapkan jika dalam waktu dekat ini timnya akan memperluas lahan tanam Baby Buncis guna mempersiapkan pemenuhan ekspor sayuran ke negara Arab Saudi dan Brunei Darussalam.
Bersemangat Menjadi Petani Milenial
Menurutnya seluruh petani di Kelompok Macakal merupakan anak-anak muda yang memang memiliki passion di bidang pertanian. Mereka juga memiliki semangat untuk mengembangkan hasil sayuran di wilayahnya.
Triana mencoba mengubah mindset anak muda bahwa menjadi petani merupakan peluang yang bagus terutama di masa sulit seperti sekarang ini. Dari bertani setidaknya para pemuda bisa ikut menjaga ketahanan pangan di masa pandemi.
“Kita ingin anak-anak muda di Lembang lebih ekspansi ke pekerjaan di sektor pertanian, sehingga bisa lebih sejahtera”, ujar Triana.
Terus Mengembangkan Hasil Pertaniannya
Kelompok Tani Macakal terus berupaya untuk berinovasi di tengah sempitnya lahan pertanian kawasan Lembang. Mengingat kawasan tersebut kini telah dipenuhi oleh hotel dan vila dengan berbagai metode tanam yang efisien.
Selain itu mereka juga akan mengembangkan komoditas sayuran ekspor lainnya seperti Tomat Cery, Bayam Kenzo dan lain-lain yang akan dipasok ke pasar sayur modern diberbagai tempat.
“Ini tantangan buat kami, disaat semakin banyak lahan beralih fungsi menjadi bangunan kita ingin produktifitas hasil panen kita terus meningkat. Selain itu, kita juga mulai melakukan pengembangan di luar Lembang,” pungkas Triana.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya