Selama ini kita mengenal tengsin sebagai kondisi malu atau memalukan.
Biasanya, tengsin muncul ketika seseorang melakukan suatu hal konyol di depan umum dan dilihat banyak orang.
Namun, di wilayah Jakarta terdapat nama daerah serupa yakni Karet Tengsin. Lokasinya berada di Kali Krukut, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat.
Usut punya usut, penamaan tengsin bukan berasal dari istilah “malu” seperti yang sudah disinggung sebelumnya.
Kata tengsin kabarnya merujuk kepada salah satu sosok Tionghoa yang bersahaja sekaligus dermawan.
Kebaikannya telah menginspirasi dan berdampak baik bagi masyarakat, sehingga namanya diabadikan menjadi sebuah daerah yakni Karet Tengsin.
Advertisement
Mengutip majalah digital Jakita yang dikelola Pemprov Jakarta, kawasan Karet Tengsin memiliki wilayah yang dekat dengan pemakaman Karet Bivak.
(Foto: jakita.jakarta.go.id)
Pemakaman ini populer di Jakarta, karena merupakan tempat pemakaman dari beberapa tokoh terkenal seperti MH Thamrin, Soemarno Sosroatmodjo, Fatmawati Soekarno dan putrinya, Rachmawati Soekarnoputri, Chairil Anwar, Ismail Marzuki hingga Pramoedya Ananta Toer.
Pemakaman ini pun sangat dikenal, bahkan jadi salah satu ikon di wilayah Tanah Abang dan Jakarta.
Advertisement
Paska kemerdekaan, sejumlah daerah bangkit secara perekonomian melalui kerajinan-kerajinan khasnya. Di wilayah Karet Tengsin, kerajinan yang jadi andalan adalah industri kulit dan batik Betawi.
Perkembangannya mulai melesat pada 1950-an, dan ditandai dengan tingginya permintaan pasar dan hadirnya berbagai motif. Produk-produk yang laku di pasaran di antaranya sandal kulit, jaket kulit, sepatu kulit sampai ikat pinggang.
Saat itu, warga banyak yang terbantu secara ekonomi sehingga bisa bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit.
(Foto: YouTube Pemkot Jakarta Pusat)
Advertisement
Rata-rata, industri kerajinan tersebut dipegang oleh warga Tionghoa asli.
(Foto: YouTube Walking Daily)
Karena masyarakat asli Betawi dan Tionghoa sudah banyak yang bersatu melalui pernikahan dan hubungan bisnis, maka terjadilah proses akulturasi kebudayaan di sana.
Kemudian, muncul berbagai tokoh masyarakat yang memiliki peran dan disegani oleh masyarakat. Kebanyakan, tokoh tersebut memiliki kontribusi yang kuat dalam proses pelestarian budaya dan pengenalan adat dari kedua belah pihak.
Proses akulturasi juga menampilkan sisi toleransi yang tinggi di kawasan Karet Tengsin sebagai daerah yang plural dan majemuk.
Advertisement
Setelah proses pencampuran budaya itu, hadir banyak tokoh Tionghoa yang menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan kebersamaan. Salah satu yang paling berpengaruh di masa itu adalah Tan Tjeng Sien.
Ia tinggal bersama keluarga di kawasan tersebut dan memiliki pengaruh cukup kuat di lingkungannya. Di tahun 1920-1930 an, ia menjadi sosok yang dermawan dan banyak membantu masyarakat sekitar sehingga hidup mandiri.
Dalam buku Tenabang Tempo Dulu karya Abdul Chaer, disebutkan bahwa luas kawasan Karet Tengsin adalah 15,34 kilometer persegi. Kabarnya, area seluas itu dimiliki dan dikelola langsung oleh Tjeng Sien sebagai lokasi perdagangan.
Advertisement
Tak sedikit warga yang terbantu, sehingga Tan Tjeng Sien menjadi disegani. Tak hanya itu, saat pemerintah membutuhkan lahan, Ia dengan sigap membantu demi kepentingan umum.
Sejak saat itu, dirinya menjadi sosok konglomerat yang banyak membantu masyarakat dan berjasa bagi pemerintah Jakarta. Agar mudah dilafalkan, warga sekitar memanggil dirinya dengan nama Tengsin.
Sepeninggalnya, masyarakat dan pemerintah setempat sepakat untuk mengabadikan nama wilayah tersebut dengan nama Karet Tengsin.